KISAH
CINTA PERTAMAKU …
Assalamualaikum
sahabat.. kali ini aku ingin membagikan sebuah kisah yang terjadi pada diriku
sendiri.
Kisah
yang aku alami sendiri dan tak akan pernah aku lupakan.
Kisah
ini dimulai dengan persahabatan dua anak perempuan, yang telah bersahabat sejak
duduk di bangku PAUD sampai sekarang. Persahabatan yang sangat erat dan tak
bisa di pisahkan.
Sebut saja
namaku Ara dan nama sahabatku Riana. Kami yang tumbuh besar bersama,
kemana-mana selalu bersama. Dimana ada aku, disitu pasti ada sahabatku Riana. Sejak
kecil orang tuaku sangat sibuk dengan pekerjaan mereka, terkadang aku hampir
tak bertemu dengan kedua orang tuaku. Karena biasanya mereka bekerja sampai
larut malam, hal itu membuat aku harus dititipkan di rumah Riana ketika orang tuaku
belum pulang.
Beruntungnya,
aku masih mendapatkan kasih sayang dari ibu Riana, beliau menganggapku seperti
anaknya sendiri. Ketika ada acara pembagian rapot, biasanya ibu Rianalah yang
selalu mengambilkan rapotku. Karena menggantikan orang tuaku yang sibuk
bekerja.
Biasanya
aku selalu bermain di sawah bersama Riana, karena orang tua Riana bekerja
sebagai petani, sepulang sekolah kita selalu bermain di sawah, karena sering
bermain disana, akhirnya ayah Riana memutuskan untuk membuatkan kami rumah kecil
(Saung) di dekat pohon kelapa, untuk tempat kami berteduh dan beristirahat.
Kala
itu sepulang sekolah aku dan Riana memutuskan untuk menghias saung. Aku sengaja
meminta uang jajan lebih kepada orang tuaku untuk membeli hiasan untuk saung.
Riana :
“ Ra, bagaimana kalau kita hias saung kita menggunakan kertas origami ? “
Ara : “
Boleh nanti aku minta uang sama mamaku ”
Riana :
“ memang sempat? ”
Ara : “
Entahlah nanti akan ku coba bangun lebih pagi, supaya bisa bertemu dengan
mereka ” (begitulah, jika aku ingin bertemu dengan kedua orang tuaku, aku harus
bangun lebih pagi)
Riana :
“ Oke , jika sudah ada uangnya nanti kita membeli perlengkapannya”
Orang
tuaku memang sangat sibuk bekerja, tetapi mereka selalu mencukupi kebutuhanku,
jika aku meminta sesuatu, mereka akan langsung menyanggupi, berbeda dengan
orang tua Riana yang hidup berkecukupan, jadi biasanya jika ada kebutuhan
apapun. Orang tua akulah yang selalu siap dengan masalah keuangan.
Sepulang
sekolah kita pergi ke sawah dan menghias saung dengan indah, bahkan ayah Riana
membuatkan kita hiasan dari bamboo, yang jika tertiup angin bisa menghasilkan
suara yang nyaman.
Saat
itu aku masih ingat, kita duduk di bangku kelas 5 SD. Saat itu ada murid
pindahan. Yang bernama Andi Putra Wijaya, nama yang sampai sekarang masih
kuingat dengan jelas. Seorang anak laki-laki yang jahil dan menyebalkan. Kala
itu Guru memperkenalkan dia di depan kelas.
Ibu
Guru : “ anak-anak hari ini kita kedatangan teman baru, tolong disambut dengan
baik”
Andi :
“ haii,, kenalin Andi dari Jakarta” dengan nada bicara datar.
Ara :
“(berbicara dalam hati),, sok ganteng, perkenalan ko sombong gitu”
Riana :
“Ra liat deh temen baru kita, masa perkenalan diri kaya gitu”
Ara : “
gak usah di pikirin, cuekin aja. Toh aku gak akan temenan sama dia, aku kan
udah punya kamu, sahabat terbaik aku”
Riana :
“yapps betul,, kita kan sabahat selamanya”.
Ibu
Guru : “ Andi, kamu boleh duduk di belakang Ara dan Riana. Silahkan duduk dekat
Gilang”. Guru mempersilahkan Andi duduk di sebelah Gilang, karena kebetulan,
Gilang duduk sendirian di belakang.
Gilang
: “Akhirnya aku punya teman sebangku” ucap Gilang dengan senang.
Kemudian
Andi duduk di sebelah Gilang dan mereka mulai berkenalan.
Gilang
: “salam kenal teman, aku Gilang”
Andi :
“ Namaku Andi, salam kenal juga”.
Gilang
: “Tinggal dimana?”
Andi :
“Aku tinggal di rumah pamanku, karena Ayah dan Ibuku bekerja di Jakarta, jadi
aku di titipkan di rumah paman.”
Gilang
: “wahhh kamu senasib tuh sama si Ara, dia juga sering di titipkan di rumah
Riana”
Ara :
“heh, enak aja main sama-samain aku sama orang yang gak di kenal”
Riana :
“ tidak apa-apa Ara di titipkan bersama aku, karena kita adalah sahabat yang
tak terpisahkan”
Gilang
: “wahhh mulai deh judesnya Ara keluar, kamu jangan dekat-dekat dengan Ara,
karena Ara itu orangnya judes banget, gak mau temenan sama orang lain”.
Begitulah penjelasan gilang kepada Andi pada saat pertama kali memperkenalkan
aku dan Riani pada Andi.
Saat
itu, aku sama sekali tidak pernah memperdulikan orang lain, aku tak pernah mau
berteman dengan siapun kecuali Riana, karena sejak kecil kami terbiasa
bersama-sama, jadi aku merasa tidak pernah membutuhkan teman yang lain selain
Riana.
Dulu
sangat jarang orang memiliki sepeda, jadi kalau berangkat ataupun pulang
sekolah, kita selalu jalan kaki, kata ayah dan ibu, jalan kaki itu sehat jadi
aku dan Riani selalu jalan kaki. Saat itu di gerbang sekolah tiba-tiba Andi
menghentikan langkahku dan Riani, dengan gaya sok keren.
Andi ;
“Ara !!!!!!!!!!” panggil Andi sambil berlari kearah kami
Ara :
“(aku hanya melihat dia dengan muka datar)”
Riana :
“Ada apa An ?kenapa kamu mengejar kita”.
Andi :
“ Kalian pulang kearah mana ?” pertanyaan yang sangat konyol.
Riana :
“Kita pulang kearah sana, memangnya kenapa?” Tanya Riana dengan senyum di
wajahnya.
Andi :
“ ohh berarti kita searah, ayo pulang bersama-sama” ajak Andi.
Ara :
“(mulai membuka suara) ehhh enak aja main ngajak pulang bareng, kata Ayah dan
mamahku, kita tidak boleh berdekatan dengan orang yang tak dikenal.” Jawabku
dengan sinis dan ekpresi dingin.
Andi :
“ Mangkanya, biar kenal. Kita kenalan dulu.” Jawab Andi
Ara :
“gak ada kenalan-kenalan, ayo Na kita pulang” ajak Ara pada Riana tanpa
memperdulikan Andi yang mengajak kenalan.
Ara dan
Riana buru-buru pergi meninggalkan Andi seorang diri. Ara benar-benar anak yang
tertutup. Dia hanya mau berteman dengan Riana. Beberapa hari berlalu, saat itu
ada pelajaran yang mengharuskan kerja kelompok. Ara dan Riana seperti biasa
berada satu kelompok, dan tenyata Gilang dan Andi juga menjadi teman sekelompok
mereka.
Gilang
: “Kebetulan banget tugasnya menggambar PETA dan kita punya teman yang jago
gambar” seru Gilang dengan senang.
Andi :
“Oh ya? Siapa memang yang jago gambar?” Tanya Andi pada Gilang.
Gilang
: “itu si Ara, dia pintar gambar, dia juga yang sudah membuat sekolah kita
juara 1 menggambar tingkat Kabupaten. Mangkanya walaupun galak dan judes, tapi
dia itu pintar dan cerdas. Mangkanya semua guru sangat sayang sama Ara” Jawab
Gilang
Andi :
“serius kamu, ah jangan bercanda dehh aku gak yakin dia sepintar itu” jawab
Andi yang meragukan Kepintaran Ara.
Ara : “
hehh anak baru, gak usah gak yakin gitu deh sama aku. Tuh liat piala-piala yang
berjejer di kantor.” Jawab Ara dengan percaya diri.
Andi :
“oke kita buktikan saja nanti, siapa di antara kita yang lebih pintar”. Tantang
Andi.
Ara :
“Oke !!!!!!!!!!!” jawab Ara dengan nada Tinggi.
Riana :
“udah deh gak usah nantang Ara kaya gitu, semuanya juga udah pada tau kalo
sahabat aku ini paling pintar. Dan kamu juga Andi, anak baru gak usah
kebanyakan gaya sok nantangin Ara, nanti kalo kalah malah nangis .. hahahaha”
jawab Riana.
Andi :
“ tunggu aja nanti siapa yang akan dapat peringkat 1.” Tantang Andi.
Gilang
: “udah deh aku yakin kalian itu pada pintar, sekarang kita mulai mengerjakan
tugas saja jangan berantem terus”, jawab Gilang menengahi agar tidak ada
keributan yang berkelanjutan.
Kemudian
kita mulai membagikan tugas kelompok. Ara memulai mengerjakan tugas dan
menggambar dengan sangat serius, dan ternyata Andi sangat kaget jika ternyata
hasilnya memang sangat bagus, dan Andi mulai memperhatikan Ara dan berkata
dalam hati “ternyata walaupun dia sangat judes dan tidak ramah, tapi ketika dia
mengerjakan sesuatu, dia benar-benar serius.”
Pada
jam Istirahat Andi memberiku sebungkus makanan dari kantin.
Andi :
“nihh di makan ya ” kata Andi sambil memberikan jajanan itu kepadaku.
Ara : “
dihh gak mau, aku bisa beli sendiri.” Jawab Ara sambil melemparkan jajan itu
kepada Andi.
Andi :
“tinggal nerima doang susah banget.” Jawab Andi dan memberikan jajan itu
kembali.
Riana :
“udah-udah jangan berantem mulu, sini buat aku aja jajannya kalo Ara gak mau,
aku masih mau terima ko” jawab Riana menengahi dan menghentikan pertikaian
mereka.
Andi :
“Lembut sedikit dong Ra kaya Riana, kalau di kasih sesuatu itu bilang makasih bukan
gak mau”. Jawab Andi.
Ara :
“terserah kalian” jawab Ara meninggalkan Andi dan Riana ke kantin sekolah.
Riana :
“jangan ganggu Ara terus An, Ara itu sebenernya baik banget, tapi dia tidak
biasa berteman dengan yang lain. Maklum dia selalu sendiri, dan hanya aku yang
selalu menemaninya. Kita temenan dari kecil jadi aku ngerti banget sifat Ara.”
Tutur Riana.
Andi :
“ya aku heran aja, masa mau temenan aja susah banget.” Jawab Andi kesal.
Riana :
“ yaudah semangat ya, nanti aku usahakan untuk membujuk Ara supaya mau berteman
dengan yang lain” jawab Riana.
Andi :
“makasih ya Na, kamu baik banget, pantas aja Ara maunya temenan sama kamu”.
Riana :
“ia sama-sama, aku duluan ya, mau nyusul Ara, ngomong-ngomong terimakasih untuk
jajannya, sering-sering ya ngasih kaya gini” jawab Riana dengan senang sambil
tersenyum meninggalkan Andi.
Di
kantin. Riana mencoba berbicara kepada Ara tentang Andi.
Riana :
“Ra, kamu kenapa sih jutek terus sama Andi, kasian tau anak baru itu kamu
judesin terus?” Tanya Riani.
Ara :
“aduhh Na udah deh gak usah ngurusin anak itu. Lagian aku udah punya km,
sahabat terbaik aku, jadi untuk apa aku harus berteman dengan yang lain, km
saja sudah cukup Riana” jawab Ara.
Riana :
“ ia aku tau kita sahabat baik, tapi apa salahnya kita berteman dengan yang
lain.”
Ara :
“ya,ya,ya terserah deh.”
Riana :
“ya udah nanti coba temenan ya, nanti pulang sekolah kita ke tempat biasa yuk ?
(saung)”
Ara :
“bukannya kita ada PR matematika?”
Riana :
“Ara kamu gak bosan belajar terus. Sudaahlah kita main saja ke sawah, kamu
jangan belajar terus, nanti kelewat pintar”
Ara :
“oke oke sahabatku” jawab Ara.
Kemudian
setelah pulang sekolah, aku dan Riana pergi ke sawah dan bermain di sana, dan
ternyata tanpa di sadari kita bertemu dengan Andi dan Gilang yang sedang bermain
laying-layang.
Andi :
“ bukannya itu Ara dan Riana Lang ?” Tanya andi.
Gilang
: “ ia itu mereka, biasanya mereka memang bermain disana. Itu sawah milik
keluarga Riana dan kelihatannya Ara sanagt suka bermain disana, karena di
rumahnya dia kesepian. Ayah dan mamahnya Ara jarang terlihat di rumah mereka
sibuk bekerja jadi Ara sering di titipkan kepada ibunya Riana” jawab Gilang.
Andi :
“(berbicara dalam hati) jadi ternyata kamu seperti aku Ra, di tinggal kerja
oleh orang tua kita”.
Andi :
“Apakah Ara selalu tersenyum manis seperti itu jika bersama Riana? Ko di
sekolah dia sangat jutek? Aku gak pernah melihat dia sesenang itu?” Tanya Andi
Gilang
: “heyyy ada apa ini, kenapa kamu memperhatikan Ara? Aku dengar katanya kamu
juga memberikan jajan kepada Ara?”
Andi :
“ Ara tidak mau menerimanya, aku hanya penasaran saja, karena dari semua teman
di kelas, hanya dia yang tak ingin berteman denganku”
Gilang
: “jangankan km An yang baru kenal, Aku saja yang sudah kenal dari dulu, tak
berani berteman dengan Ara, dia itu sulit di dekati.”
Dari
saung Riana dan Ara memperhatikan kedua anak kelaki itu.
Riana :
“heii kalian sedang apa? Mainlah kesini”
Ara :
“Na kenapa kamu malah memanggil mereka”
Riana :
“gak papa Ra, mereka kan teman kita juga”. Kemudian Gilang dan Andi menghampiri
Ara dan Riana.
Andi :
“layanganku bagus kan Ra”
Ara :
“lumayan” jawab ara dengan singkat.
Andi ;
“aku buat sendiri lo”
Ara :
“gak nanya” jawab ara dengan ketus.
Andi :
“mau aku buatkan gak Ra?”
Ara :
“aku gak main layangan”
Andi :
“ nanti aku ajarin deh ”
Ara : “gak
mau”
Andi :
“susah ya ngomong sama orang jutek … ”
Ara :
“terserah”
Begitulah
percakapanku dengan Andi tak pernah ada tawa diantara kita. Meski sebenarnya
aku sendiri mau berteman dengan dia namun rasanya aneh sekali berteman dengan
laki-laki, maka sebab itu, sedikit-sedikit aku mau berbicata dengan dia,
walaupun masih aku jawab seperlunya. Kala itu aku tak menyangka bahwa dia
benar-benar membuatkan aku layangan yang sangat indah, ternyata di pintar
merakit layangan. Dia mengantarkannya kerumahku, entah dari mana dia tau
rumahku.
Andi :
“Assalamuaikum, Ara..Ara..Ara”
Ara :
“Waalaikumsalam,Siapa ya” jawab ara dari balik pintu.
Andi :
“Ini aku Andi”
Ara :
“ngapain kamu dating ke rumahku, dan apa ini?”
Andi :
“ini janjiku padamu Ra, kubuatkan layangan untukmu.”
Ara :
“tapi aku gak minta”
Andi :
“sudah ambil saja, aku pergi, assalamulaikum..” Andi pergi begitu saja.
Meninggalkan layangan buatannya di rumahku. Aku sendiri bingung, dari mana dia
tau rumahku dan kenapa dia membuatkan layangan untukku, aku kan tak bisa
bermain layangan, dasar anak yang aneh.
Keesokan
harinya tiba-tiba ada susu kotak dibawah mejaku, dengan tulisan “selamat
sarapan Ara” .. orang yang aneh, meninggalkan barang di mejaku seenaknya. Lalu
aku berikan saja kepada Riana, tanpa banyak bertanya, Riana menerima saja
pemberian dariku.
Lalu
pas jam istirahat Andi memberiku jajanan lagi.
Ara :
“aku sudah bilang, aku bisa beli sendiri. Jangan kamu memberiku jajan terus,
simpan saja uang jajanmu. Aku punya uang sendiri untuk jajan.” Jawabku dengan
tegas.
Andi :
“hari ini kamu berbicara lebih banyak dari biasanya Ara, Aku senang
mendengarnya”
Ara :
“laki-laki aneh” jawabku “menyebalkan, kenapa dia selalu menggangguku dan
membautku kesal” batinku
Waktu
pulang sekolah aku dan Riana pulang bersama bejalan kaki, saat itu banyak jalan
yang sedang di perbaiki, dan jalanan di penuhi batu-batu kerikil aspal, dan
anehnya Andi yang berjalan di belakangku dia menendang-nendang batu kerikil itu
ke arahku.
Ara :
“ihh iseng banget sih, sakit tau” jawabku dengan kesal.
Andi :
“kalau gak kena kamu, nanti kamu gak nengok kebelakang” jawab Andi
Ara :
“dasar jahil, menyebalkan.”
Andi :
“tapi aku senang melakukannya, aku senang bisa melihatmu nengok ke belakang.”
Ara :
“dasar teman yang aneh”
Riana ;
“sudahlah Ara biarkan dia, kita jalan dengan cepat saja.” Hibur Riana.
Saat
sampai di rumah seperti biasa rumahku sepi tanpa ada seorang pun di rumah,
rasanya bosan dan aku memutuskan untuk belajar saja. Sambil menunggu waktu agar cepat berlalu, tiba-tiba saja,
Riana dating kerumah untuk mengajakku berenang.
Riana :
“Ara ayo kita berenang” rayu riana
Ara : “
jalannya jauh Na, aku capek mau belajar aja”
Riani :
“Ara, kalau cape ya kita main bukan belajar, bosan aku melihatmu belajar terus,
sudah cepat km bawa baju ganti. Aku tunggu kamu dekat jalan ke rumahku.
Sekarang !” perintah Riani. Ara pun mau menuruti keinginan sahabatnya itu. Dan
ketika sampai di jalan, alangkah kagetnya aku ternyata teman-teman sekelas yang
lain ikut juga termasuk Andi, di tambah Andi memberhentikan mobil box dan
meminta bantuan untuk mengantarkan kita ke tempat renang, alangkah terkejutnya
aku Karena aku tak pernah menaiki mobil seperti itu. Rasanya membuat jantung
berdebar karena angina yang terasa sangat kencang dan mebuat badan terasa ingin
ikut terbang, sekitar 30 menit, kamipun sampai di tempat tujuan.
Langsung
saja kami berenang dan aku baru mengetahui ternyata Andi sangat pintar
berenang, dia bahkan berani berenang di kedalaman 5m.
Riana :
“Ara lihatlah Andi jago sekali berenang”.
Ara : “
mungkin dia tering berenang”
Namun
tiba-tiba, Andi menginjak pecahan keramik dan kakinya terluka lumayan cukup
mengeluarkan banyak darah, untung saja kebiasaanku untuk membawa kotak obat
selalu siaga, saat itu entah kenapa aku langsung berlari menghampiri Andi dan
langsung mengobati kakinya yang terluka, aku tak tau entah berapa kali mata
kami saling betemu, entah aku atau dia duluan yang menatap, akan tetapi aku
sadar bahwa mata kami saling bertemu terus. Setelah selai mengobati lukanya.
Aku memberikan dia air minum. Dan kami memutuskan untuk tidak meneruskan
berenang, kami langsung pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan
harinya, Andi tidak masuk sekolah, kata Gilang, badannya panas. Dan harus
beristirahat. Sekitar 3 hari dia tidak masuk. Saat itu aku pun merasa aneh,
oaring yang biasanya menggangu dan menjahiliku tak masuk sekolah rasanya sepi.
Anehnya seharusnya aku merasa nyaman katena tak ada yang menggangu, tapi aku
malah mengkhawatirkan dia, sungguh perasaan yang aneh.
Bebrapa
hari kemudian saat di perjalanan menuju sekolah tiba-tiba dari arah belakang
ada yang memanggil namaku.
Andi :
“Apa kabar Ara?”
Ara :
“Suara yang tak asing”
Riana :
“Andi apakah kamu sudah sembuh?”
Andi :
“Alhamdulillah”
Riana :
“Syukurlah Alhamdulillah”.
Sesampainya
di kelas aku melihat ada sepotong roti dengan bertuliskan, “Terimakasih banyak
Ara, kamu sudah menyelamatkanku. Tolong dimakan pemberianku, jangan di berikan
ke yang lain, aku membelinya khusus untukmu. By. A.” orang yang aneh. Pake
kirim surat berinisial A, padahal sudah jelas itu dari dia, anehnya aku merasa
senang saat memakan roti itu, dan entah mungkin ini hanya perasaanku saja. Aku
bisa melihat bahwa dari kejauhan Andi menatapku yang sedang makan roti
pemberiannya. Dan beberapa hari kemudian sekolah sudah mulai melaksanakan
penilaian semester. Ternyata aku masih saja berada di urutan pertama,
sedangakan Andi berada di urutan ke 3.
Riana :
“sahabatku kamu emang yang terbaik. Tak pernah mengecewakan”.
Ara : “
tidak usah heboh gitu Na, udah biasa juga kan”
Andi :
“selamat ya Ra, kamu dapat juara 1 terus, aku ikut senang”
Ara : “
ya sudah pasti kalau aku juara 1 terus.”
Andi :
“maaf Karena aku pernah meragukan kemampuanmu”
Ara :
“Its Oke”.
Gilang
: “Artinya Andi ngaku kalah nih dari Ara, sudahlah teman, sudahku bilang kamu
takaakan pernah bisa mengalahkan Ara, dia selalu belajar setiap waktu tak
seperti kita yang hobi bermain.”
Ara :
“sudahlah untuk apa Juara 1 terus, kerena yang ngambil rapot pastinya Ibu Riana
bukan mamahku”
Gilang
: “selalu saja orang tuamu seperti itu”
Andi :
“Gilang ko kamu tau semua tentang Ara?” curiga
Gilang
: “ya jelas tahu, ayah Ara itu adalah Kakak ayahku, jadi kami adalah sepupu.
Tapi Ara tak mau mengakuiku sebagai sudaranya.”
Setelah
mengakui kekalahannya Andi mencoba berbicara kepada Ara, Andi mengajak Ara
untuk ngobrol.
Andi :
“Ara, selamat untuk juara 1, kamu memang hebat, sebetulkan aku sudah tahu pasti
km yang jadi juara, tapi aku berbicara seperti itu supaya aku bisa berbicara
dengan kamu Ra”
Ara :
“ya Terimakasih”
Andi :
“ ini pertama kalinya kamu mengucapkan teerima kasih, Ara boleh aku berbicara”
Ara :
“ya tinggal bicara”
Andi :
“aku merasa mungkin kamu adalah satu-satunya teman yang paling mengerti aku,
karena kamu dan aku sama-sama di tinggal kerja oleh orang tua kita. Mangkanya
aku sangat ingin berteman dengamu, tapi kamu selalu menolak dan sulit di
dekati”
Ara :
“aku mengerti yang kamu katakana, tapi tak mudah untukku berteman dengan orang
lain, aku hanya senang berteman dengan Riana.”
Andi :
“Bolehkah aku lebih dekat lagi denganmu Ra”
Ara : “
kamu teman yang aneh. Meminta menjadi teman, sekarang minta lagi lebih dekat.
Aku pergi” jawabku pergi begitu saja meninggalkan Andi, Karena sebenarnya aku
tak mengerti mengapa perasaanku menjadi aneh, jantungku berdebar sangat
kencang, aku terlalu takut dan aku memilih untuk pergi.
Namun
anehnya setelah pembicaraan itu dengan Andi, rasanya aneh. Aku menjadi sering
teringat dia, aku menjadi sering memandangi dia, bahkan aku sering memperhatiak
dia dari kejauhan, dan itu membuat hatiku tak menentu, aku tak mengerti mengepa
aku menjedi seperti itu.Aku akan menceritakannya kepada Riana agar hatiku sedikt
lega, namun ketika aku akan mencaritakannya tiba-tiba Riana berbicara.
Riana :
“Ara, aku menyukai Andi”
Ara :
“Andi?”
Riana :
“ya, dia adalah laki-laki yang baik Ra”
Ara :
“ya”
Riana :
“bagaimana menurutmu”
Ara :
“kita masih terlalu kecil na untuk memikirkan itu, apa sebaiknya kita focus
belajar saja”
Riana :
“Ara, justru itulah yang membuatku semangat sekolah, karena ada dia”
Ara :
“aku tak mengerti Na, tapi aku akan selalu mendukungmu” ucapku dan aku
memutuskan membuang semua pikiranku tentang Andi karena aku tak akan
mempertimbangkan antara Cinta dan persahabatan, jelas aku memilih untuk
mendukung sahabatku. Kubuang pikiranku tentang dia, meski aku sendiri tak
mengerti mengapa aku memiliki rasa seperti itu.
Riana :
“Ara bertemanlah dengan Andi agar dia selalu dengat dengan kita”
Ara :
“bukankah kita sudah berteman dengan dia”
Riana :
“sering-seringlah mengajak dia bermain bersama kita”
Ara :
“akan ku usahakan” dan ketika di sekolah Andi mengajakku berbicara
Andi :
“Ara bagaimana sekarang perasaanmu”
Ara :
“aku tak merasakan apapun An, apa km tak memikirkan Riana?”
Andi :
“untuk apa aku memikirkan Riana”
Ara :
“dia sahabatku, aku tak ingin melukainya. Cobalah untuk mendekatinya, jangan
aku”
Andi :
“bagaimana bisa kau menyuruhku untuk menyukai orang lain sedangkan aku
menyukaimu”
Ara :
“aku tak mengerti An, kita masih terlalu muda untuk merasakan hal seperti itu”
Andi :
“jika kamu tak suka tak masalah, tapi jangan memaksaku untuk menyukai yang
lain”
Ketika
itu aku hanya bisa menangis, aku benar-benar merasa bersalah akan tetapi aku
sangat menyayangi sahabatku. Jadi aku memilih untuk melepaskan perasaanku itu..
hingga kita lulus. Saat itu Andi masih saja sering memberiku makanan atau
minuman, namun aku tak pernah mejawab pertanyaan dia, mungkin bisa di bilang
aku menghindarinya. Entah sahabatku Riana sadar atau tidak akan tetapi setelah
kejadian itu, Riana tak pernah membahas tentang Andi lagi.