Kamis, 18 Juni 2020

PROSA-FIKSI


PROSA

A. Pengertian
Kata prosa diambil dari bahasa Inggris, prose. Kata ini sebenarnya menyaran pada pengertian yang lebih luas, tidak hanya mencakup pada tulisan yang digolongkan sebagai karya sastra, tapi juga karya non fiksi, seperti artikel, esai, dan sebagainya.
Dalam bahasa latin “prosa” yang artinya terus terang, sedangkan dalam pengertian kesastraan, prosa sering diistilahkan dengan fiksi (fiction), teks naratif (narrative text) atau wacana naratif (narrative discourse). Prosa yang sejajar dengan istilah fiksi (arti rekaan) dapat diartikan : karya naratif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, tidak sungguh-sungguh terjadi di dunia nyata. Tokoh, peristiwa dan latar dalam fiksi bersifat imajiner. Hal ini berbeda dengan karya nonfiksi. Dalam nonfiksi tokoh,  peristiwa, dan latar bersifat faktual atau dapat dibuktikan di dunia nyata (secara empiris).
B. Jenis–Jenis Prosa – Fiksi
1.      Prosa Modern
Dari khasanah sastra modern, kita mengenal Ada beberapa jenis karya prosa fiksi, yaitu novel, novelet, dan cerita pendek (cerpen).
a.      Cerita Pendek (cerpen)
Sesuai dengan namanya, cerita pendek dapat diartikan sebagai cerita berbentuk prosa yang pendek. Ukuran pendek di sini bersifat relatif. Menurut Edgar Allan Poe, sastrawan kenamaan Amerika, ukuran pendek di sini adalah selesai dibaca dalam sekali duduk, yakni kira-kira kurang dari satu jam. Adapun Jakob Sumardjodan Saini K.M (1995:30) menilai ukuran pendek ini lebih didasarkan pada keterbatasan pengembangan unsur-unsurnya. Cerpen memiliki efek tunggal dan tidak kompleks.  Cerpen ,dilihat dari segi panjangnya, cukup bervariasi. Ada cerpen yang pendek (short short story), berkisar 500-an kata; ada cerpen yang panjangnya cukupan (middle short story),  dan ada cerpen yang panjang (long short story) biasanya terdiri atas puluhan ribu kata.
Dalam kesusastraan di Indonesia, cerpen yang diistilahkan dengan short short story, disebut dengan cerpen mini. Sudah ada antologi cerpen seperti ini, misalnya antologi : Ti Pulpen Nepi Ka Pajaratan Cinta. Contoh untuk cerpen-cerpen yang panjangnya sedang (middle short story) cukup banyak. Cerpen-cerpen yang dimuat di surat kabar adalah salah satu contohnya. Adapun cerpen yang long short story biasanya cerpen yang dimuat di majalah. Cerpen „”Sri Sumariah” dan “Bawuk” karya Umar Khayam juga termasuk ke dalam cerpen yang panjang ini.
b.      Novelet
Di dalam khasanah prosa, ada cerita yang yang panjangnya lebih panjang dari cerpen, tetapi lebih pendek dari novel. Jadi, panjangnya antara novel dan cerpen. Jika dikuantitaatifkan, jumlah dan halamannya sekitar 60 s.d 100 halaman. Itulah yang disebut novelet. Dalam penggarapan unsur-unsurnya : tokoh, alur, latar, dan unsur-unsur yang lain, novelet lebih luas cakupannya dari pada cerpen. Namun, dimaksudkan untuk memberi efek tunggal.
c.       Novel
Kata novel berasal dari bahasa Italia, novella, yang berati barang baru yang kecil. Pada awalnya, dari segi panjangnya noovella memang sama dengan cerita pendek dan novelet. Novel kemudian berkembang di Inggris dan Amerika. Novel di wilayah ini awalnya berkembang dari bentuk-bentuk naratif nonfiksi, seperti surat, biografi, dan sejarah. Namun seiring pergeseran masyarakat dan perkembangan waktu, novel tidak hanya didasarkan pada data-data nonfiksi, pengarang bisa mengubah novel sesuai dengan imajinasi yang dikehendakinya.
Yang membedakan novel dengan cerpen dan novelet adalah segi panjang dan keluasan cakupannya. Dalam novel, karena jauh lebih panjang, pengarang dapat menyajikan unsur-unsur pembangun novel itu: tokoh, plot, latar, tema, dll. secara lebih bebas, banyak, dan detil. Permasalahan yang diangkatnya pun lebih kompleks  Dengan demikian novel dapat diartikan sebagai cerita berbentuk prosa yang menyajikan permasalahn-permasalahan secara kompleks, dengan penggarapan unsurunsurnya secara lebih luas dan rinci.

d.      Roman
Kehadiran dan keberadaan roman sebenarnya lebih tua dari pada novel. Roman (romance) berasal dari jenis sastra epik dan romansa abad pertengahan. Jenis sastra ini banyak berkisah tentang hal-hal yang sifatnya romantik, penuh dengan angan-angan, biasanya bertema kepahlawanan dan percintaan.
Istilah roman dalam sastra Indonesia diacu pada cerita-cerita yang ditulis dalam bahasa roman (bahasa rakyat Prancis abad pertengahan) yang masuk ke Indonesia melalui kesusastraan Belanda. Di Indonesia apa yang diistilahkan dengan roman, ternyata tidak berbeda dengan novel, baik bentuk, maupun isinya. Oleh karena itu, sebaiknya istilah roman dan novel disamakan saja. 
Cerpen, novel/roman, dan novelet di atas berjenis-jenis lagi. Penjenisan itu dapat dilihat dari temanya, alirannya, maupun dari kategori usia pembaca. Terkait dengan penjenisan berdasarkan kategori usia pembaca, kita mengenal pengistilahan sastra anak, sastra remaja, dan sastra dewasa. Begitu pula dengan jenis prosa di atas, baik cerpen, novel, maupun novelet. Penjenisan itu disesuaikan dengan karakteristik usia pembacanya, baik dari segi isi, maupun penyajiannya. Sebagai contoh, sastra anak (cerpen anak, novel anak) dari segi isinya akan menyuguhkan persoalan-persoalan dan cara pandang  sesuai dengan dunia anak-anak. Begitu pula dengan penyajiannya, yang menggunakan pola penyajian dan berbahasa sederhana yang dapat dipahami anak-anak. Sastra remaja pun demikian, persoalan dan penyajiannya adalah sesuai dengan dunia remaja, seperti percintaan, persahabatan, petualangan, dan lain-lain. 
Sesuai dengan lingkup materi yang terdapat dalam kurikulum, pembahasan jenis prosa di atas akan dibatasi pada cerpen anak dan novel remaja.
1)      Cerita Anak 
Cerita anak, baik karya asli Indonesia, maupun terjemahan, mencakup rentang umur pembaca yang beragam, mulai rentang 3-5 tahun, 6-9 tahun, dan 10-12 tahun (bahkan 13 dan 14) tahun. Adapun bentuknya bermacam-macam, baik serial, cerita bergambar, maupun cerpen. Tema cerita anak juga beragam, mulai dari persahabatan, lingkungan, kemandirian anak, dan lain-lain. Sifatnya juga beragam. Dari segi sifatnya, cerita anak dalam khasanah sastra modern terdiri atas:
a.       cerita keajaiban, yakni cerita sihir dan peri yang gaib, yang biasanya melibatkan pula unsur percintaan dan petualangan. Contoh: Cinderella, Puteri Salju, Puteri Tidur, Tiga Keinginan, dan lain-lain.
b.      cerita fantasi, yaitu cerita yang 1) menggambarkan dunia yang tidak nyata; 2) dunia yang dibuat sangat mirip dengan kenyataan dan menceritakan hal-hal aneh; dan 3) menggambarkan suasana yang asing dan peristiwa-peristiwa yang sukar diterima akal. Macam-macamnya adalah: fantasi binatang, fantasi mainan dam boneka, fantasi dunia liliput, fantasi tentang alam gaib, dan fantasi tipu daya waktu.
c.       cerita fiksi ilmu pengetahuan, yakni cerita dengan unsur fantasi yang didasarkan pada hipotesis tentang ramalan yang masuk akal berdasarkan pengetahuan, teori, dan spekulasi ilmiah, misalnya cerita tentang petualangan di planet lain, makhluk luar angkasa, dan sejenisnya.   
Sumber-sumber cerita anak cukup luas, baik berupa buku, maupun ceritacerita yang disajikan di majalah anak-anak, dan koran-koran yang memiliki sisipan rubrik anak-anak. Di Indonesia, para pengarang cerita anak antara lain: Toha Mohtar, Mansur Samin, Titie Said, E. Siswojo, A. Djan, Triwahyono, Nimas Heming, Slamet Manshuri, Ayu Widuri, Dian Pratiwi, Heroe Soekarto, Radar Panca Dahana, Toety Mukhlih, Arif Maulana, Soekardi, Tetet Cahyati, Dorothea Rosa Herliany, dan masih banyak lagi.  
2)      Novel Remaja 
Novel remaja adalah novel yang ditulis untuk segmen pembaca remaja. Oleh karena yang ditujunya remaja, maka isi dan penyajiannya pun disesuaikan dengan dunia remaja.Dari segi isinya, novel remaja biasanya berkisah tentang percintaan, persahabatan, permusuhan, atau petualangan. Bahasanya adalah bahasa khas remaja yang mengacu pada bahasa gaul: bahasa khas remaja kota.
Dilihat dari jenis ceritanya, ada novel detektif, petualangan, juga novel drama.  Dalam perkembangan sastra akhir-akhir ini, novel remaja dapat dikatakan mengalami booming. Begitu banyak novel remaja diterbitkan, begitu banyak penulis remaja, dan begitu banyak pula pembacanya sehingga banyak novel remaja dicetak ulang, dan banyak penulis remaja yang kewalahan meladeni pesanan penerbit. 
Novel remaja yang sedang booming akhir-akhir ini adalah novel remaja yang disebut chicklit dan teenlit. chicklit singkatan dari chick literatur, artinya karya sastra yang bercerita tentang wanita. Tetapi, chicklit lebih sering didefinisikan sebagai karya sastra populer yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari sorang wanita lajang kota serta pola pikirnya yang modern. Chicklit disajikan dengan ringan, menghibur, dan bertutur tidak formal. Chicklit diarahkan pada gadis dewasa (17-26 tahun).
Adapun teenlit singkatan dari teenager literatur, diarahkan pada remaja yang lebih belia, seusia anak SMP.  Dari sejarah kelahirannya, tak ada yang dapat memastikan pelopor pertama lahirnya chicklit dan teenlit ini. Ada yang menyebut pelopor genre ini adalah novelis Helen Fielding dari Amerika Serikat lewat karyanya yang berjudul Bridget Jones’s Diary. Tetapi, beberapa kritikus menyebutkan J.K Rowling-lah yang memeloporinya lewat karyanya Harry Potter. 
Di Indonesia sendiri, jenis novel ini identik dengan kehidupan remaja di era globalisasi. Para penulisnya kebanyakan adalah para penulis yang rata-rata juga masih remaja, sehingga sangat paham dunia remaja.  Di tengah maraknya novel-novel remaja yang beragam saat ini yang ditulis untuk beragam kepentingan, untuk bahan dan sumber pembelajaran di kelas, para guru hendaknya selektif dalam memilihnya. Selain pertimbangan dari segi kesesuaiannya dengan tahap perkembangan psikologi siswa, para guru hendaknya mempertimbangkan pula aspek didaktik dan etik karena banyak novel remaja yang ditulis dengan lebih mengedepankan aspek komersial dengan berani melanggar aspek didaktik dan etik ini.
2.      Prosa Lama
Yang dimaksud dengan istilah prosa lama di sini adalah karya prosa yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama Indonesia, yakni masyarakat tradisional. di wilayah Nusantara. Jenis sastra ini pada awalnya muncul sebagai sastra lisan. Di antara jenis-jenis prosa lama itu adalah mite, legenda, fabel, hikayat, dan lain-lain. Jenis-jenis prosa lama tersebut sering pula diistilahkan dengan folklor (cerita rakyat), yakni cerita dalam kehidupan rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan. Dalam istilah masyarakat umum, jenis-jenis tersebut sering disebut dengan dongeng.
a.       Dongeng, adalah cerita yang sepenuhmya merupakan hasil imajinasi atau khayalan pengarang di mana yang diceritakan seluruhnya belum pernah terjadi.
b.      Fabel adalah cerita rekaan tentang binatang dan dilakukan atau para pelakunya binatna g yang diperlakukan seperti manusia. Contoh: Cerita Si Kancil yang Cerdik, Kera Menipu Harimau, dan lain-lain.
c.       Hikayat adalah cerita, baik sejarah, maupun cerita roman fiktif, yang dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekedar untuk meramaikan pesta. Contoh; Hikayat Hang Tuah, Hikayat Seribu Satu Malam, dan lain-lain.
d.      Legenda adalah dongeng tentang suatu kejadian alam, asal-usul suatu tempat, benda, atau kejadian di suatu tempat atau daerah. Contoh: Asal Mula Tangkuban Perahu, Malin Kundang, Asal Mula Candi Prambanan, dan lainlain.
e.       Mite adalah cerita yang mengandung dan berlatar belakang sejarah atau hal yang sudah dipercayai orang banyak bahwa cerita tersebut pernah terjadi dan mengandung hal-hal gaib dan kesaktian luar biasa. Contoh: Nyi Roro Kidul.
f.        Cerita Penggeli Hati, sering pula diistilahkan dengan cerita noodlehead karena terdapat dalam hampir semua budaya rakyat. Cerita-cerita ini mengandung unsur komedi (kelucuan), omong kosong, kemustahilan, ketololan dan kedunguan, tapi biasanya mengandung unsur kritik terhadap perilaku manusia/mayarakat. Contohnya adalah Cerita Si Kabayan, Pak Belalang, Lebai Malang, dan lain-lain.
g.       Cerita Perumpamaan adalah dongeng yang mengandung kiasan atau ibarat yang berisi nasihat dan bersifat mendidik. Sebagai contoh, orang pelit akan dinasihati dengan cerita seorang Haji Bakhil.
h.       Kisah adalah karya sastra lama yang berisi cerita tentang perjalanan atau pelayaran seseorang dari satu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abullah ke Jeddah, dan lain-lain.
Dari jenis-jenis cerita di atas, ada juga yang dikhususkan sebagai cerita anak. Yang termasuk cerita anak dari khasanah prosa lama antara lain: cerita binatang (contohnya Cerita Kancil dan Buaya, Burung Gagak dan Serigala, dan lain-lain), cerita noodlehead (contohnya: Cerita Pak Kodok, Pak Pandir, PakBelalang, Si Kabayan, dan lain-lain).

C. Unsur–Unsur Prosa – Fiksi 
            Untuk dapat mengapresiasi karya prosa dengan baik, diperlukan pengetahuan dan pemahaman tentang unsur-unsur pembangunan karya prosa. Seperti jenis-jenis karya sastra lainnya, prosa-fiksi, baik itu cerpen, novelet, maupun novel/roman dibangun oleh unsur-unsur ekstrinsik dan intrinsik.
a. Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar teks, namun secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi penciptaan karya itu. Unsur yang dimaksud di antaranya biografi pengarang, situasi dan kondisi sosial, sejarah, dan lain-lain. Unsur-unsur ini mempengaruhi karena pada dasarnya pengarang mencipta karya sastra berdasarkan pengalamannya. Pengetahuan seorang pembaca terhadap unsur-unsur ekstrinsik akan membantu pembaca memahami karya itu.
b. Unsur Intrinsik
Unsur-unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang hadir di dalam teks dan secara langsung membangun teks itu, dalam hal ini cerita karya prosa itu. Unsur-unsuir intrinsik karya prosa-fiksi adalah sebagai berikut. 
 1) Tokoh dan Penokohan
            Di dalam mengkaji unsur-unsur ini ada beberapa istilah yang mesti dipahami, yakni istilah tokoh, watak/karakter, dan penokohan. Tokoh adalah pelaku cerita. Tokoh ini tidak selalu berwujud manusia, tergantung pada siapa yang diceritakannya itu dalam cerita. Watak/karakter adalah sifat dan sikap para tokoh tersebut. Adapun penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh dan watak-wataknya itu dalam cerita. 


Dalam melakukan penokohan (menampilkan tokoh-tokoh dan watak tokoh dalam suatu cerita), ada beberapa cara yang dilakukan pengarang, antara lain melalui
a) Penggambaran fisik. Pada teknik ini, pengarang menggambarkan keadaan fisik tokoh itu, misalnya wajahnya, bentuk tubuhnya, cara berpakaiannya, cara berjalannya, dan lain-lain. Dari penggambaran itu, pembaca bisa menafsirkan watak tokoh tersebut.
b) Dialog. Pengarang menggambarkan tokoh lewat percakapan tokoh tersebut dengan tokoh lain. Bahasa, isi pembicaraan, dan hal lainnya yang dipercakapkan tokoh tersebut menunjukan watak tokoh tersebut.
c) Penggambaran pikiran dan perasaan tokoh. Dalam karya fiksi, sering ditemukan penggambaran tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan tokoh. Penggambaran ini merupakan teknik yang juga digunakan pengarang untuk menunjukan watak tokoh.
d) Reaksi tokoh lain. Pada teknik ini pengarang menggambarkan watak tokoh lewat apa yang diucapkan tokoh lain tentang tokoh tesebut.
e) Narasi. Dalam teknik ini, pengarang (narator) yang langsung mengungkapkan watak tokoh itu. 
Barangkali teknik-teknik di atas tidak langsung semua digunakan pengarang dalam suatu cerita. Pengarang akan memilih sesuai dengan situasi cerita dan kebutuhannya. Bagi pembaca, pengetahuan dan pemahaman tentang teknik-teknik di atas dapat membantunya memudahkan menemukan watak-watak tokoh cerita.
Pembedaan Tokoh
Tokoh utama dan tokoh tambahan  Dilihat dari segi tingkat pentingnya (peran) tokoh dalam cerita, tokoh dapat dibedakan atas tokoh utama dan tokoh tambahan.  Tokoh utama adalah tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus menerus sehingga terasa mendominasi sebagai besar cerita. Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya dimunculkan sekali-kali (beberapa kali) dalam cerita dalam porsi penceritaan yang relatif pendek.
a.       Tokoh prontagonis dan antagonis 
Dilihat dari fungsi penampilan tokoh dalam cerita, tokoh dibedakan ke dalam tokoh prontagonis dan antagonis. Tokoh prontagonis adalah tokoh yang mendapat empati pembaca. Semantara tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik.

b.      Tokoh statis dan tokoh dinamis
Dari kriteria berkembang/tidaknya perwatakan, tokoh cerita dapat dibedakan ke dalam tokoh statis dan tokoh dinamis. Tokoh statis adalah tokoh yang memiliki sifat dan watak yang tetap, tak berkembang sejak awal hingga akhir cerita, adapun tokoh dinamis adalah tokoh yang mengalami perkembangan watak sejalan dengan plot yang diceritakan.
2). Alur dan Pengaluran
Selama ini sering terjadi kesalah pahaman dalam mendefinisikan alur. Alur dianggap sama dengan jalan cerita. Pendefinisian itu sebenarnya tidak tepat. Jalan cerita adalah peristiwa demi peristiwa yang terjadi susul menyusul. Lebih dari itu alur adalah rangkaian peristiwa yang saling berkaitan karena hubungan sebab akibat. Untuk dapat membedakannya, marilah kita amati contoh berikut.
a) Pukul 04.00 pagi Ani bangun. Ia segera membereskan tempat tidur. Setelah itu ia ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu. Selesai mandi dan berwudhu, ia berdandan dan lalu sholat. Kemudian ia membaca buku sebentar, sarapan, lalu berangkat sekolah.
b) Pukul 04.00 pagi Ani bangun. Tak biasanya ia bangun sepagi ini. Semalam pun ia susah tidur. Pertengkarannya dengan Wendi kekasihnya di sekolah terus membayanginya. Ia sangat sedih dan kecewa karena Wendi telah menghianati kesetiaan hatinya. Tetapi ia mencoba menepis bayangan-bayangan itu. Ia pun segera mandi, berdandan, sarapan, dan berangkat ke sekolah. Namun, di jalania tidak konsentrasi. Ketika ia menyeberang jalan, sebuah motor membuat tubuhnya terpental. 
Contoh pertama adalah jalan cerita karena hanya menyajikan rangkaian peristiwa saja. Contoh kedua adalah alur karena menyajikan rangkaian peristiwa yang terjadi karena hubungan sebab akibat. Ani bangun lebih pagi disebabkan oleh kesulitannya tidur akibat peretngkaran dengan kekasihnya yang menghianantinya. Hal ini pun menyababkan Ani tidak konsentrasi berjalan di jalan raya ketika berangkat sekolah sehingga ia tertabrak.  Cara menganalisa alur adalah dengan mencari dan mengurutkan peristiwa demi peristiwa yang memiliki  hubungan kausalitas saja.  Adapun pengaluran adalah urutan teks. Dengan menganalisa urutan teks ini, pembaca akan tahu bagaimana pengarang menyajikan cerita itu, apakah dengan teknik linier (penceritaan peristiwa-peristiwa yang berjalan saat itu), teknik ingatan (flashback) atau bayangan (menceritakan kejadian yang belum terjadi).
3)      Latar 
Menurut Abrams (1981:175) latar adalah tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.  Latar dalam cerita dapat diklasifikasikan menjadi : 1) latar tempat, yaitu latar yang merupakan lokasi tempat terjadinya peristiwa cerita, baik itu nama kota, jalan, gedung, rumah, dan lain-lain; 2) latar waktu, yaitu latar yang berhubungan dangan saat terjadinya peristiwa cerita, apakah berupa penanggalan penyebutan peristiwa sejarah, penggambaran situasi malam, pagi, siang, sore, dan lain-lain; dan 3) latar sosial, yaitu keadaan yang berupa adat istiadat, budaya, nilai-nilai/norma, dan sejenisnya yang ada di tempat peristiwa cerita.
4)      Gaya Bahasa (Stile) 
Dalam menyampaikan cerita, setiap pengarang ingin ceritanya punya daya sentuh dan efek yang kuat bagi pembaca. Oleh karena sarana karya prosa adalah bahasa, maka bahasa ini akan diolah semaksimal mungkin oleh pengarang dengan memaksimalkan gaya bahasa sebaik mungkin. Gaya bahasa (stile) adalah cara mengungkapkan bahasa seorang pengarang untuk mencapai efek estetis dan kekuatan daya ungkap.
Untuk mencapai hal tersebut pengarang memberdayakan unsur-unsur stile tersebut, yaitu dengan diksi (pemilihan kata), pencitraan (penggambaran sesuatu yang seolah-olah dapat diindra pembaca), majas, dan gaya retoris. Maksud dari unsur-unsur stile tersebut adalah sebagai berikut.
a.       Diksi. Dalam penggunaan unsur diksi, pengarang melakukan pemilihan kata (diksi). Kata-kata betul-betul dipilih agar sesuai dengan apa yang ingin diungkapkan dan ekspresi yang ingin dihasilkan. Kata-kata yang dipilih bisa dari kosakata sehari-hari atau formal, dari bahasa Indonesia atau bahasa lain (bahasa daerah, bahasa asing, dan lain-lain), bermakna denotasi (memiliki arti lugas, sebenarnya, atau arti kamus) atau konotasi (memiliki arti tambahan, yakni arti yang ditimbulkan oleh asosiasi-asosiasi (gambaran, ingatan, dari perasaan) dari kata tersebut .
b.      Citra/imaji. Citra/imaji adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat memperjelas atau memperkonkret apa yang dinyatakan pengarang sehingga apa yang digambarkan itu dapat ditangkap oleh pancaindera kita. Melalui pencitraan/pengimajian apa yang digambarkan seolah-olah dapat dilihat (citraan penglihatan) didengar (citraan pendengaran), dicium ( citraan penciuman), dirasa (citraan taktil), diraba (citraan perabaan), dicecap (citraan pencecap), dan lain-lain. 
c.       Gaya bahasa. Menurut Nugiyantoro (1995 : 277) adalah teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan diungkapkan dan efek yang diharapkan. Teknik pemilihan ungkapan ini dapat dilakukan dengan dua cara, yakni dengan permajasan dan gaya retois. Permajasan adalah teknik pengungkapan dengan menggunakan bahasa kias (maknanya tidak merujuk pada makna harfiah).

5)      Penceritaan  
Penceritaan, atau sering disebut juga sudut pandang (point of view), yakni dilihat dari sudut mana pengarang (narator) bercerita, terbagi menjadi 2, yaitu pencerita intern dan pencerita ekstern.  Pencerita intern adalah penceritaan yang hadir di dalam teks sebagai tokoh. Cirinya adalah dengan memakai kata ganti aku.  Pencerita ekstern bersifat sebaliknya, ia tidak hadir dalam teks (berada di luar teks) dan menyebut tokoh-tokoh dengan kata ganti orang ketiga atau menyebut nama.

6)      Tema  
Tema adalah ide/gagasan yang ingin disampaikan pengarang dalam ceritanya. Tema ini akan diketahui setelah seluruh unsur prosa-fiksi itu dikaji.  Dalam nenerapkan unsur-unsur tersebut pada saat mengapresiasi karya prosa, seorang pengapresiasi tentu saja tidak sekedar menganalisis dan memecahnya per bagian. Tetapi, setiap unsur itu harus dilihat kepaduannya dengan unsur lain. Apakah unsur itu saling mendukung dan memperkuat, dalam menyampaikan tema cerita, atau sebaliknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar