PROSA
A. Pengertian
Kata
prosa diambil dari bahasa Inggris, prose. Kata ini sebenarnya menyaran pada
pengertian yang lebih luas, tidak hanya mencakup pada tulisan yang digolongkan
sebagai karya sastra, tapi juga karya non fiksi, seperti artikel, esai, dan
sebagainya.
Dalam
bahasa latin “prosa” yang artinya
terus terang, sedangkan dalam pengertian kesastraan, prosa sering diistilahkan
dengan fiksi (fiction), teks naratif (narrative text) atau wacana naratif (narrative discourse). Prosa yang
sejajar dengan istilah fiksi (arti rekaan) dapat diartikan : karya naratif yang
menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, tidak sungguh-sungguh terjadi di
dunia nyata. Tokoh, peristiwa dan latar dalam fiksi bersifat imajiner. Hal ini berbeda dengan karya
nonfiksi. Dalam nonfiksi tokoh, peristiwa,
dan latar bersifat faktual atau dapat dibuktikan di dunia nyata (secara
empiris).
B. Jenis–Jenis Prosa – Fiksi
1.
Prosa
Modern
Dari
khasanah sastra modern, kita mengenal Ada beberapa jenis karya prosa fiksi,
yaitu novel, novelet, dan cerita pendek (cerpen).
a.
Cerita
Pendek (cerpen)
Sesuai dengan namanya, cerita pendek
dapat diartikan sebagai cerita berbentuk prosa yang pendek. Ukuran pendek di
sini bersifat relatif. Menurut Edgar Allan Poe, sastrawan kenamaan
Amerika, ukuran pendek di sini adalah selesai dibaca dalam sekali duduk, yakni
kira-kira kurang dari satu jam. Adapun Jakob Sumardjodan Saini K.M (1995:30)
menilai ukuran pendek ini lebih didasarkan pada keterbatasan pengembangan
unsur-unsurnya. Cerpen memiliki efek tunggal dan tidak kompleks. Cerpen ,dilihat dari segi panjangnya, cukup
bervariasi. Ada cerpen yang pendek (short short story), berkisar 500-an kata;
ada cerpen yang panjangnya cukupan (middle
short story), dan ada cerpen yang
panjang (long short story) biasanya
terdiri atas puluhan ribu kata.
Dalam kesusastraan di Indonesia, cerpen
yang diistilahkan dengan short short
story, disebut dengan cerpen mini. Sudah ada antologi cerpen seperti ini,
misalnya antologi : Ti Pulpen Nepi Ka
Pajaratan Cinta. Contoh untuk cerpen-cerpen yang panjangnya sedang (middle short story) cukup banyak.
Cerpen-cerpen yang dimuat di surat kabar adalah salah satu contohnya. Adapun
cerpen yang long short story biasanya
cerpen yang dimuat di majalah. Cerpen „”Sri Sumariah” dan “Bawuk” karya Umar
Khayam juga termasuk ke dalam cerpen yang panjang ini.
b.
Novelet
Di dalam khasanah prosa, ada cerita yang
yang panjangnya lebih panjang dari cerpen, tetapi lebih pendek dari novel.
Jadi, panjangnya antara novel dan cerpen. Jika dikuantitaatifkan, jumlah dan
halamannya sekitar 60 s.d 100 halaman. Itulah yang disebut novelet. Dalam
penggarapan unsur-unsurnya : tokoh, alur, latar, dan unsur-unsur yang lain, novelet
lebih luas cakupannya dari pada cerpen. Namun, dimaksudkan untuk memberi efek
tunggal.
c.
Novel
Kata novel berasal dari bahasa Italia,
novella, yang berati barang baru yang kecil. Pada awalnya, dari segi panjangnya
noovella memang sama dengan cerita pendek dan novelet. Novel kemudian
berkembang di Inggris dan Amerika. Novel di wilayah ini awalnya berkembang dari
bentuk-bentuk naratif nonfiksi, seperti surat, biografi, dan sejarah. Namun
seiring pergeseran masyarakat dan perkembangan waktu, novel tidak hanya
didasarkan pada data-data nonfiksi, pengarang bisa mengubah novel sesuai dengan
imajinasi yang dikehendakinya.
Yang membedakan novel dengan cerpen dan
novelet adalah segi panjang dan keluasan cakupannya. Dalam novel, karena jauh
lebih panjang, pengarang dapat menyajikan unsur-unsur pembangun novel itu:
tokoh, plot, latar, tema, dll. secara lebih bebas, banyak, dan detil.
Permasalahan yang diangkatnya pun lebih kompleks Dengan demikian novel dapat diartikan sebagai
cerita berbentuk prosa yang menyajikan permasalahn-permasalahan secara
kompleks, dengan penggarapan unsurunsurnya secara lebih luas dan rinci.
d.
Roman
Kehadiran dan keberadaan roman
sebenarnya lebih tua dari pada novel. Roman (romance) berasal dari jenis sastra
epik dan romansa abad pertengahan. Jenis sastra ini banyak berkisah tentang
hal-hal yang sifatnya romantik, penuh dengan angan-angan, biasanya bertema
kepahlawanan dan percintaan.
Istilah roman dalam sastra Indonesia
diacu pada cerita-cerita yang ditulis dalam bahasa roman (bahasa rakyat Prancis
abad pertengahan) yang masuk ke Indonesia melalui kesusastraan Belanda. Di
Indonesia apa yang diistilahkan dengan roman, ternyata tidak berbeda dengan
novel, baik bentuk, maupun isinya. Oleh karena itu, sebaiknya istilah roman dan
novel disamakan saja.
Cerpen, novel/roman, dan novelet di atas
berjenis-jenis lagi. Penjenisan itu dapat dilihat dari temanya, alirannya, maupun
dari kategori usia pembaca. Terkait dengan penjenisan berdasarkan kategori usia
pembaca, kita mengenal pengistilahan sastra anak, sastra remaja, dan sastra
dewasa. Begitu pula dengan jenis prosa di atas, baik cerpen, novel, maupun
novelet. Penjenisan itu disesuaikan dengan karakteristik usia pembacanya, baik
dari segi isi, maupun penyajiannya. Sebagai contoh, sastra anak (cerpen anak,
novel anak) dari segi isinya akan menyuguhkan persoalan-persoalan dan cara
pandang sesuai dengan dunia anak-anak.
Begitu pula dengan penyajiannya, yang menggunakan pola penyajian dan berbahasa
sederhana yang dapat dipahami anak-anak. Sastra remaja pun demikian, persoalan
dan penyajiannya adalah sesuai dengan dunia remaja, seperti percintaan,
persahabatan, petualangan, dan lain-lain.
Sesuai
dengan lingkup materi yang terdapat dalam kurikulum, pembahasan jenis prosa di
atas akan dibatasi pada cerpen anak dan novel remaja.
1)
Cerita
Anak
Cerita
anak, baik karya asli Indonesia, maupun terjemahan, mencakup rentang umur
pembaca yang beragam, mulai rentang 3-5 tahun, 6-9 tahun, dan 10-12 tahun
(bahkan 13 dan 14) tahun. Adapun bentuknya bermacam-macam, baik serial, cerita
bergambar, maupun cerpen. Tema cerita anak juga beragam, mulai dari
persahabatan, lingkungan, kemandirian anak, dan lain-lain. Sifatnya juga
beragam. Dari segi sifatnya, cerita anak dalam khasanah sastra modern terdiri
atas:
a. cerita keajaiban, yakni cerita sihir dan peri yang gaib,
yang biasanya melibatkan pula unsur percintaan dan petualangan. Contoh:
Cinderella, Puteri Salju, Puteri Tidur, Tiga Keinginan, dan lain-lain.
b. cerita fantasi, yaitu cerita yang 1) menggambarkan
dunia yang tidak nyata; 2) dunia yang dibuat sangat mirip dengan kenyataan dan
menceritakan hal-hal aneh; dan 3) menggambarkan suasana yang asing dan
peristiwa-peristiwa yang sukar diterima akal. Macam-macamnya adalah: fantasi
binatang, fantasi mainan dam boneka, fantasi dunia liliput, fantasi tentang
alam gaib, dan fantasi tipu daya waktu.
c. cerita fiksi ilmu pengetahuan, yakni cerita dengan
unsur fantasi yang didasarkan pada hipotesis tentang ramalan yang masuk akal
berdasarkan pengetahuan, teori, dan spekulasi ilmiah, misalnya cerita tentang
petualangan di planet lain, makhluk luar angkasa, dan sejenisnya.
Sumber-sumber
cerita anak cukup luas, baik berupa buku, maupun ceritacerita yang disajikan di
majalah anak-anak, dan koran-koran yang memiliki sisipan rubrik anak-anak. Di
Indonesia, para pengarang cerita anak antara lain: Toha Mohtar, Mansur Samin,
Titie Said, E. Siswojo, A. Djan, Triwahyono, Nimas Heming, Slamet Manshuri, Ayu
Widuri, Dian Pratiwi, Heroe Soekarto, Radar Panca Dahana, Toety Mukhlih, Arif
Maulana, Soekardi, Tetet Cahyati, Dorothea Rosa Herliany, dan masih banyak
lagi.
2)
Novel
Remaja
Novel
remaja adalah novel yang ditulis untuk segmen pembaca remaja. Oleh karena yang
ditujunya remaja, maka isi dan penyajiannya pun disesuaikan dengan dunia
remaja.Dari segi isinya, novel remaja biasanya berkisah tentang percintaan,
persahabatan, permusuhan, atau petualangan. Bahasanya adalah bahasa khas remaja
yang mengacu pada bahasa gaul: bahasa khas remaja kota.
Dilihat
dari jenis ceritanya, ada novel detektif, petualangan, juga novel drama. Dalam perkembangan sastra akhir-akhir ini,
novel remaja dapat dikatakan mengalami booming. Begitu banyak novel remaja
diterbitkan, begitu banyak penulis remaja, dan begitu banyak pula pembacanya
sehingga banyak novel remaja dicetak ulang, dan banyak penulis remaja yang
kewalahan meladeni pesanan penerbit.
Novel
remaja yang sedang booming akhir-akhir ini adalah novel remaja yang disebut
chicklit dan teenlit. chicklit singkatan dari chick literatur, artinya karya sastra yang bercerita tentang
wanita. Tetapi, chicklit lebih sering didefinisikan sebagai karya sastra
populer yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari sorang wanita lajang kota
serta pola pikirnya yang modern. Chicklit disajikan dengan ringan, menghibur,
dan bertutur tidak formal. Chicklit diarahkan pada gadis dewasa (17-26 tahun).
Adapun
teenlit singkatan dari teenager literatur, diarahkan pada remaja yang lebih
belia, seusia anak SMP. Dari sejarah
kelahirannya, tak ada yang dapat memastikan pelopor pertama lahirnya chicklit
dan teenlit ini. Ada yang menyebut pelopor genre ini adalah novelis Helen
Fielding dari Amerika Serikat lewat karyanya yang berjudul Bridget Jones’s Diary. Tetapi, beberapa kritikus
menyebutkan J.K Rowling-lah yang
memeloporinya lewat karyanya Harry Potter.
Di
Indonesia sendiri, jenis novel ini identik dengan kehidupan remaja di era
globalisasi. Para penulisnya kebanyakan adalah para penulis yang rata-rata juga
masih remaja, sehingga sangat paham dunia remaja. Di tengah maraknya novel-novel remaja yang
beragam saat ini yang ditulis untuk beragam kepentingan, untuk bahan dan sumber
pembelajaran di kelas, para guru hendaknya selektif dalam memilihnya. Selain
pertimbangan dari segi kesesuaiannya dengan tahap perkembangan psikologi siswa,
para guru hendaknya mempertimbangkan pula aspek didaktik dan etik karena banyak
novel remaja yang ditulis dengan lebih mengedepankan aspek komersial dengan
berani melanggar aspek didaktik dan etik ini.
2.
Prosa
Lama
Yang
dimaksud dengan istilah prosa lama di sini adalah karya prosa yang hidup dan
berkembang dalam masyarakat lama Indonesia, yakni masyarakat tradisional. di
wilayah Nusantara. Jenis sastra ini pada awalnya muncul sebagai sastra lisan.
Di antara jenis-jenis prosa lama itu adalah mite, legenda, fabel, hikayat, dan
lain-lain. Jenis-jenis prosa lama tersebut sering pula diistilahkan dengan
folklor (cerita rakyat), yakni cerita dalam kehidupan rakyat yang diwariskan
dari generasi ke generasi secara lisan. Dalam istilah masyarakat umum,
jenis-jenis tersebut sering disebut dengan dongeng.
a. Dongeng,
adalah cerita yang sepenuhmya merupakan hasil imajinasi atau khayalan pengarang
di mana yang diceritakan seluruhnya belum pernah terjadi.
b. Fabel
adalah cerita rekaan tentang binatang dan dilakukan atau para pelakunya binatna
g yang diperlakukan seperti manusia. Contoh: Cerita Si Kancil yang Cerdik, Kera
Menipu Harimau, dan lain-lain.
c. Hikayat adalah
cerita, baik sejarah, maupun cerita roman fiktif, yang dibaca untuk pelipur
lara, pembangkit semangat juang, atau sekedar untuk meramaikan pesta. Contoh;
Hikayat Hang Tuah, Hikayat Seribu Satu Malam, dan lain-lain.
d. Legenda adalah
dongeng tentang suatu kejadian alam, asal-usul suatu tempat, benda, atau kejadian
di suatu tempat atau daerah. Contoh: Asal Mula Tangkuban Perahu, Malin Kundang,
Asal Mula Candi Prambanan, dan lainlain.
e. Mite
adalah cerita yang mengandung dan berlatar belakang sejarah atau hal yang sudah
dipercayai orang banyak bahwa cerita tersebut pernah terjadi dan mengandung
hal-hal gaib dan kesaktian luar biasa. Contoh: Nyi Roro Kidul.
f.
Cerita
Penggeli Hati, sering pula diistilahkan dengan cerita
noodlehead karena terdapat dalam hampir semua budaya rakyat. Cerita-cerita ini
mengandung unsur komedi (kelucuan), omong kosong, kemustahilan, ketololan dan
kedunguan, tapi biasanya mengandung unsur kritik terhadap perilaku
manusia/mayarakat. Contohnya adalah Cerita Si Kabayan, Pak Belalang, Lebai
Malang, dan lain-lain.
g. Cerita Perumpamaan
adalah dongeng yang mengandung kiasan atau ibarat yang berisi nasihat dan
bersifat mendidik. Sebagai contoh, orang pelit akan dinasihati dengan cerita
seorang Haji Bakhil.
h. Kisah
adalah karya sastra lama yang berisi cerita tentang perjalanan atau pelayaran
seseorang dari satu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke
Negeri Kelantan, Kisah Abullah ke Jeddah, dan lain-lain.
Dari
jenis-jenis cerita di atas, ada juga yang dikhususkan sebagai cerita anak. Yang
termasuk cerita anak dari khasanah prosa lama antara lain: cerita binatang
(contohnya Cerita Kancil dan Buaya, Burung Gagak dan Serigala, dan lain-lain),
cerita noodlehead (contohnya: Cerita Pak Kodok, Pak Pandir, PakBelalang, Si
Kabayan, dan lain-lain).
C. Unsur–Unsur Prosa – Fiksi
Untuk
dapat mengapresiasi karya prosa dengan baik, diperlukan pengetahuan dan
pemahaman tentang unsur-unsur pembangunan karya prosa. Seperti jenis-jenis
karya sastra lainnya, prosa-fiksi, baik itu cerpen, novelet, maupun novel/roman
dibangun oleh unsur-unsur ekstrinsik dan intrinsik.
a. Unsur Ekstrinsik
Unsur
ekstrinsik adalah unsur yang berada
di luar teks, namun secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi
penciptaan karya itu. Unsur yang dimaksud di antaranya biografi pengarang,
situasi dan kondisi sosial, sejarah, dan lain-lain. Unsur-unsur ini
mempengaruhi karena pada dasarnya pengarang mencipta karya sastra berdasarkan
pengalamannya. Pengetahuan seorang pembaca terhadap unsur-unsur ekstrinsik akan
membantu pembaca memahami karya itu.
b. Unsur Intrinsik
Unsur-unsur
intrinsik adalah unsur-unsur yang
hadir di dalam teks dan secara langsung membangun teks itu, dalam hal ini
cerita karya prosa itu. Unsur-unsuir intrinsik
karya prosa-fiksi adalah sebagai berikut.
1)
Tokoh dan Penokohan
Di
dalam mengkaji unsur-unsur ini ada beberapa istilah yang mesti dipahami, yakni
istilah tokoh, watak/karakter, dan penokohan. Tokoh adalah pelaku cerita. Tokoh
ini tidak selalu berwujud manusia, tergantung pada siapa yang diceritakannya
itu dalam cerita. Watak/karakter adalah sifat dan sikap para tokoh tersebut.
Adapun penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh dan
watak-wataknya itu dalam cerita.
Dalam
melakukan penokohan (menampilkan tokoh-tokoh dan watak tokoh dalam suatu
cerita), ada beberapa cara yang dilakukan pengarang, antara lain melalui
a)
Penggambaran fisik. Pada teknik ini,
pengarang menggambarkan keadaan fisik tokoh itu, misalnya wajahnya, bentuk
tubuhnya, cara berpakaiannya, cara berjalannya, dan lain-lain. Dari
penggambaran itu, pembaca bisa menafsirkan watak tokoh tersebut.
b) Dialog. Pengarang menggambarkan tokoh
lewat percakapan tokoh tersebut dengan tokoh lain. Bahasa, isi pembicaraan, dan
hal lainnya yang dipercakapkan tokoh tersebut menunjukan watak tokoh tersebut.
c)
Penggambaran pikiran dan perasaan tokoh.
Dalam karya fiksi, sering ditemukan penggambaran tentang apa yang dipikirkan
dan dirasakan tokoh. Penggambaran ini merupakan teknik yang juga digunakan
pengarang untuk menunjukan watak tokoh.
d)
Reaksi tokoh lain. Pada teknik ini
pengarang menggambarkan watak tokoh lewat apa yang diucapkan tokoh lain tentang
tokoh tesebut.
e)
Narasi. Dalam teknik ini, pengarang
(narator) yang langsung mengungkapkan watak tokoh itu.
Barangkali
teknik-teknik di atas tidak langsung semua digunakan pengarang dalam suatu
cerita. Pengarang akan memilih sesuai dengan situasi cerita dan kebutuhannya.
Bagi pembaca, pengetahuan dan pemahaman tentang teknik-teknik di atas dapat
membantunya memudahkan menemukan watak-watak tokoh cerita.
Pembedaan Tokoh
Tokoh
utama dan tokoh tambahan Dilihat dari
segi tingkat pentingnya (peran) tokoh dalam cerita, tokoh dapat dibedakan atas
tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh
utama adalah tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus menerus
sehingga terasa mendominasi sebagai besar cerita. Tokoh tambahan adalah tokoh
yang hanya dimunculkan sekali-kali (beberapa kali) dalam cerita dalam porsi
penceritaan yang relatif pendek.
a. Tokoh prontagonis dan antagonis
Dilihat dari fungsi penampilan tokoh dalam cerita,
tokoh dibedakan ke dalam tokoh prontagonis dan antagonis. Tokoh prontagonis
adalah tokoh yang mendapat empati pembaca. Semantara tokoh antagonis adalah
tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik.
b. Tokoh statis dan tokoh dinamis
Dari kriteria berkembang/tidaknya
perwatakan, tokoh cerita dapat dibedakan ke dalam tokoh statis dan tokoh
dinamis. Tokoh statis adalah tokoh yang memiliki sifat dan watak yang tetap,
tak berkembang sejak awal hingga akhir cerita, adapun tokoh dinamis adalah
tokoh yang mengalami perkembangan watak sejalan dengan plot yang diceritakan.
2). Alur dan Pengaluran
Selama
ini sering terjadi kesalah pahaman dalam mendefinisikan alur. Alur dianggap
sama dengan jalan cerita. Pendefinisian itu sebenarnya tidak tepat. Jalan
cerita adalah peristiwa demi peristiwa yang terjadi susul menyusul. Lebih dari
itu alur adalah rangkaian peristiwa yang saling berkaitan karena hubungan sebab
akibat. Untuk dapat membedakannya, marilah kita amati contoh berikut.
a)
Pukul 04.00 pagi Ani bangun. Ia segera membereskan tempat tidur. Setelah itu ia
ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu. Selesai mandi dan berwudhu, ia
berdandan dan lalu sholat. Kemudian ia membaca buku sebentar, sarapan, lalu
berangkat sekolah.
b)
Pukul 04.00 pagi Ani bangun. Tak biasanya ia bangun sepagi ini. Semalam pun ia
susah tidur. Pertengkarannya dengan Wendi kekasihnya di sekolah terus
membayanginya. Ia sangat sedih dan kecewa karena Wendi telah menghianati
kesetiaan hatinya. Tetapi ia mencoba menepis bayangan-bayangan itu. Ia pun
segera mandi, berdandan, sarapan, dan berangkat ke sekolah. Namun, di jalania
tidak konsentrasi. Ketika ia menyeberang jalan, sebuah motor membuat tubuhnya
terpental.
Contoh
pertama adalah jalan cerita karena hanya menyajikan rangkaian peristiwa saja.
Contoh kedua adalah alur karena menyajikan rangkaian peristiwa yang terjadi
karena hubungan sebab akibat. Ani bangun lebih pagi disebabkan oleh
kesulitannya tidur akibat peretngkaran dengan kekasihnya yang menghianantinya.
Hal ini pun menyababkan Ani tidak konsentrasi berjalan di jalan raya ketika
berangkat sekolah sehingga ia tertabrak.
Cara menganalisa alur adalah dengan mencari dan mengurutkan peristiwa
demi peristiwa yang memiliki hubungan
kausalitas saja. Adapun pengaluran
adalah urutan teks. Dengan menganalisa urutan teks ini, pembaca akan tahu
bagaimana pengarang menyajikan cerita itu, apakah dengan teknik linier
(penceritaan peristiwa-peristiwa yang berjalan saat itu), teknik ingatan
(flashback) atau bayangan (menceritakan kejadian yang belum terjadi).
3)
Latar
Menurut
Abrams (1981:175) latar adalah
tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya
peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
Latar dalam cerita dapat diklasifikasikan menjadi : 1) latar tempat,
yaitu latar yang merupakan lokasi tempat terjadinya peristiwa cerita, baik itu
nama kota, jalan, gedung, rumah, dan lain-lain; 2) latar waktu, yaitu latar
yang berhubungan dangan saat terjadinya peristiwa cerita, apakah berupa
penanggalan penyebutan peristiwa sejarah, penggambaran situasi malam, pagi,
siang, sore, dan lain-lain; dan 3) latar sosial, yaitu keadaan yang berupa adat
istiadat, budaya, nilai-nilai/norma, dan sejenisnya yang ada di tempat peristiwa
cerita.
4)
Gaya
Bahasa (Stile)
Dalam
menyampaikan cerita, setiap pengarang ingin ceritanya punya daya sentuh dan
efek yang kuat bagi pembaca. Oleh karena sarana karya prosa adalah bahasa, maka
bahasa ini akan diolah semaksimal mungkin oleh pengarang dengan memaksimalkan
gaya bahasa sebaik mungkin. Gaya bahasa (stile)
adalah cara mengungkapkan bahasa seorang pengarang untuk mencapai efek estetis
dan kekuatan daya ungkap.
Untuk
mencapai hal tersebut pengarang memberdayakan unsur-unsur stile tersebut, yaitu
dengan diksi (pemilihan kata), pencitraan (penggambaran sesuatu yang
seolah-olah dapat diindra pembaca), majas, dan gaya retoris. Maksud dari
unsur-unsur stile tersebut adalah sebagai berikut.
a. Diksi.
Dalam penggunaan unsur diksi, pengarang melakukan pemilihan kata (diksi).
Kata-kata betul-betul dipilih agar sesuai dengan apa yang ingin diungkapkan dan
ekspresi yang ingin dihasilkan. Kata-kata yang dipilih bisa dari kosakata
sehari-hari atau formal, dari bahasa Indonesia atau bahasa lain (bahasa daerah,
bahasa asing, dan lain-lain), bermakna denotasi (memiliki arti lugas,
sebenarnya, atau arti kamus) atau konotasi (memiliki arti tambahan, yakni arti
yang ditimbulkan oleh asosiasi-asosiasi (gambaran, ingatan, dari perasaan) dari
kata tersebut .
b. Citra/imaji.
Citra/imaji adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat memperjelas atau
memperkonkret apa yang dinyatakan pengarang sehingga apa yang digambarkan itu
dapat ditangkap oleh pancaindera kita. Melalui pencitraan/pengimajian apa yang
digambarkan seolah-olah dapat dilihat (citraan penglihatan) didengar (citraan
pendengaran), dicium ( citraan penciuman), dirasa (citraan taktil), diraba
(citraan perabaan), dicecap (citraan pencecap), dan lain-lain.
c. Gaya bahasa.
Menurut Nugiyantoro (1995 : 277) adalah teknik pemilihan ungkapan kebahasaan
yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan diungkapkan dan efek yang
diharapkan. Teknik pemilihan ungkapan ini dapat dilakukan dengan dua cara,
yakni dengan permajasan dan gaya retois. Permajasan adalah teknik pengungkapan
dengan menggunakan bahasa kias (maknanya tidak merujuk pada makna harfiah).
5)
Penceritaan
Penceritaan,
atau sering disebut juga sudut pandang (point
of view), yakni dilihat dari sudut mana pengarang (narator) bercerita,
terbagi menjadi 2, yaitu pencerita intern
dan pencerita ekstern. Pencerita intern
adalah penceritaan yang hadir di dalam teks sebagai tokoh. Cirinya adalah
dengan memakai kata ganti aku. Pencerita
ekstern bersifat sebaliknya, ia tidak
hadir dalam teks (berada di luar teks) dan menyebut tokoh-tokoh dengan kata
ganti orang ketiga atau menyebut nama.
6)
Tema
Tema
adalah ide/gagasan yang ingin disampaikan pengarang dalam ceritanya. Tema ini
akan diketahui setelah seluruh unsur prosa-fiksi itu dikaji. Dalam nenerapkan unsur-unsur tersebut pada
saat mengapresiasi karya prosa, seorang pengapresiasi tentu saja tidak sekedar
menganalisis dan memecahnya per bagian. Tetapi, setiap unsur itu harus dilihat
kepaduannya dengan unsur lain. Apakah unsur itu saling mendukung dan
memperkuat, dalam menyampaikan tema cerita, atau sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar