BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dikalangan remaja saat ini marak
terjadinya penggunaan obat-obatan terlarang. Mereka menggunakan obat-obatan
terlarang, sebagian besar untuk mencari jati diri. Padahal obat terlarang
sangat berbahaya bagi tubuh para penggunanya. Akan tetapi para remaja tidak
tahu bahwa bahaya dari pemakaian obat terlarang.Mereka melakukan hal seperti
ini karena banyak faktor. Mulai dari kurangnya pengetahuan akan efek samping
atau bahaya narkoba yang berkelanjutan baik bagi tubuh maupun kejiwaan si
pengguna, serta kurangnya orang pengawasan oleh orang dalam pergaulan remaja.
Obat terlarang dulunya digunakan para
dokter untuk membius pasiennya, namun semakin lama banyak remaja yang
menggunakannya secara berlebihan hanya untuk meringankan masalahnya. Padahal
efek dari penggunaan obat terlarang bagi orang sehat sangat berbahaya. Beberapa
obat terlarang yang sering digunakan remaja yaitu zat adiktif jenis narkoba dan
psikotropika. Pada kesempatan ini kami membahas tentang zat adiktif dan
psikotropika yang disosialisasilkan
di Sekolah Dasar Guna untuk Mengetahui dan Mewaspadai Zat Adiktif Ini oleh
Peserta didik di Sekolah Dasar serta memberikan penyuluhan juga Dampak dalam
Penggunaan Zat Adiktif. Maka
kami mengembangkan hasil dengan membuat laporan hasil Sosialisasi Di SDN
Pajajaran yang telah kami sosialisasikan.
B. Rumusan Masalah
1. Persiapan Sosialisasi Zat Adiktif?
2. Pelaksanaan Sosialisasi Zat Adiktif?
3. Hasil Sosialisasi Zat Adiktif?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk Mengetahui Persiapan Apa Saja Dalam Sosialisasi Zat
Adiktif.
2. Untuk Mengetahui Pelaksanaan Sosialisasi Zat Adiktif.
3. Untuk Mengetahui Hasil Sosisalisasi Yang Telah Didapat
Tentang Zat Adiktif.
BAB II
PEMBAHASAN
a.
Pengertian, Jenis dan Ciri Zat Adiktif
Zat adiktif adalah obat serta
bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi oleh organisme hidup dapat
menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan ketergantungan atau adiksi yang
sulit dihentikan dan berefek ingin menggunakannya secara terus-menerus yang
jika dihentikan dapat memberi efek lelah luar biasa atau rasa sakit luar biasa.
Zat adiktif ialah bahan lain yang bukan
narkotika maupun psikotropika yang merupakan suatu inhalasi yang penggunaannya
akan dapat menimbulkan ketergantungan. Miras juga merupakan salah satu bagian
dari NAPZA golongan zat adiktif yang mempunyai pengaruh psikoaktif tetapi di
luar narkotika dan psikotropika.
Menurut Menteri Kesehatan RI No.
86/Men.Kes/Per/IV/1977 tanggal 29 April 1977 yang dimaksud dengan minuman keras
adalah semua jenis minuman beralkohol, tetapi bukan obat yang meliputi 3
golongan sebagai berikut
1. Golongan
A (Bir), dengan kadar etanol 1% - 5%.
Golongan ini dapat menyebabkan mabuk emosional dan bicara tidak jelas.
2. Golongan
B (Champagne, Wine), dengan kadar
etanol 5% - 20%.
Golongan ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan, kehilangan sensorik,
ataksia, dan waktu reaksi yang lambat.
3. Golongan
C (Wiski), dengan kadar atanol lebih dari 20% - 50%. Golongan ini dapat menyebabkan
gejala ataksia parah, penglihatan ganda atau kabur, pingsan dan kadang terjadi
konvulsi.
Selain
itu, dalam buku sumber belajar IPA, Zat adiktif dibedakan
menjadi tiga kelompok, yaitu :
1. Zat adiktif bukan narkotika dan psikotropika
Zat adiktif jenis ini sering kita jumpai
dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mungkin juga sering kita konsumsi pada
bahan makanan atau minuman yang mengandung zat adiktif tersebut. Adapun yang
termasuk dalam zat adiktif bukan narkotika dan psikotropika, yaitu :
a. Kafein
Teh yang mengandung kafein membuat
hampir sebagian besar dari kita menjadi terbiasa untuk mengkonsumsinya setiap
hari. Tetapi teh aman dan baik untuk dikonsumsi setiap hari dalam jumlah yang
wajar dan tidak berlebihan. Selain
mengandung kafein, teh juga mengandung theine, teofilin, dan teobromin
dalam jumlah sedikit.
Sementara itu, kopi memiliki kandungan
kafein yang lebih tinggi dari pada teh. Kopi yang terbuat dari biji kopi yang
disangrai dan dihancurkan menjadi bubuk kopi umumnya dikonsumsi orang dengan
tujuan agar mereka tidak mengantuk sebab kafein dalam kopi dapat meningkatkan
respons kewaspadaan pada otak. Oleh karena itu kopi tidak dianjurkan untuk
diminum secara berlebihan. Tetapi kopi juga memiliki sejumlah manfaat pada
beberapa terapi kesehatan, seperti mencegah penyakit Parkinson, kanker usus,
kanker lambung, dan kanker paru-paru. Untuk beberapa kasus tertentu, kopi juga
dapat menjadi obat sakit kepala, tekanan darah rendah, dan obesitas
b.
Nikotin
Nikotin terdapat dalam rokok yang dibuat
dari daun tembakau melalui proses tertentu dan dicampur dengan bunga cengkeh
serta beberapa macam bahan aroma. Kandungan nikotin pada rokok inilah yang
menyebabkan orang menjadi berkeinginan untuk mengulang dan terus-menerus
merokok. Selain mengandung nikotin, rokok juga mengandung tar. Tar adalah kondensat asap yang merupakan
total residu dihasilkan saat Rokok dibakar setelah dikurangi Nikotin dan air,
yang bersifat karsinogenik.
Kita juga sudah mengetahui tentang
bahaya rokok pada kesehatan, yaitu dapat merugikan organ-organ tubuh bagian
luar, seperti perubahan warna gigi dan kulit, maupun organ tubuh bagian dalam
yang dapat memicu kanker paru-paru.
2. Zat Adiktif Narkotika
Narkotika merupakan zat adiktif yang sangat
berbahaya dan penggunaannya dilarang di seluruh dunia. Penggunaan narkotika
tidak akan memberi efek positif pada tubuh tetapi malah akan memberikan efek
negatif. Jika digunakan maka penggunanya akan mengalami penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi bahkan menghilangkan rasa nyeri, tetapi setelah itu
penggunanya akan merasa tergantung dan akan mengulangi secara terus-menerus
untuk menggunakan narkotika yang memiliki banyak jenis ini. Jika sudah begini
maka akan sulit untuk lepas dari jerat narkotika yang hanya akan memberi
siksaan pada penggunanya. Narkotika
hanya diperbolehkan dalam dunia medis yang biasanya digunakan sebagai obat bius
untuk orang yang akan dioperasi, dan penggunaannya pun sesuai prosedur yang
telah ditentukan dalam standar kesehatan internasional. Jenis-jenis narkotika
ini misalnya sabu, opium, kokain, ganja, heroin, amphetamine, dll. Karena berbahayanya maka menyimpan
salah satu dari jenis narkotika tersebut akan dikenakan hukuman yang sangat
berat misalnya hukuman mati.
b. Faktor-Faktor
Penyalahgunaan Zat Adiktif
Banyak hal yang dapat menjadi penyebab
penyalahgunaan NAPZA, hal itu
karena hubungan yang
saling terkait antara prilaku penyalahgunaan, faktor lingkungan dan faktor
peredaran NAPZA di masyarakat.Faktor-faktor yang dapat memepengaruhi terjadinya
penyalahgunaan adalah NAPZA sebagai berikut :
1. Lingkungan Sosial
a) Rasa
ingin tahu
Rasa ingin tahu adalah suatu emosi yang
berkaitan dengan perilaku ingin tahu seperti eksplorasi, investigasi, dan
belajar, terbukti dengan pengamatan pada spesies hewan, manusia dan banyak istilah ini juga dapat digunakan untuk
menunjukkan perilaku itu sendiri disebabkan oleh emosi rasa ingin tahu. Seperti
emosi “Rasa ingin tahu” merupakan dorongan untuk tahu hal-hal baru, rasa ingin
tahu adalah kekuatan pendorong utama di balik penelitian ilmiah dan disiplin
ilmu lain dari studi manusia.
b) Kesempatan
Masyarakat dan lingkungan yang memberi
kesempatan pemakaian NAPZA yaitu adanya situasi yang mendorong diri sendiri
untuk mengggunakan NAPZA dorongan dari luar adalah adanya ajakan, rayuan,
tekanan dan paksaan terhadap seseorang untuk memakai NAPZA. Kesibukan kedua
orang tua maupun keluarga dengan kegiatannya masing-masing, atau dampak perpecahan rumah tangga akibat (broken home) serta kurangnya kasih sayang merupakan celah
kesempatan para remaja mencari pelarian dengan cara menyalahgunakan narkotika,
psikotropika maupun minuman keras atau atau obat berbahaya.
c) Kemudahan/Fasilitas
atau prasarana dan sarana yang tersedia
Kemudahan mendapatkan NAPZA merupakan penyebab lain banyaknya
orang yang mengkonsumsi NAPZA, selain itu ungkapan rasa kasih sayang orangtua
terhadap putra-putrinya termasuk yang di berikan orang tua terhadap anak-anaknya seperti memberikan fasilitas dan
uang yang berlebih bisa jadi pemicu penyalah-gunakan uang saku untuk membeli
rokok untuk memuaskan segala mencoba ingin tahu dirinya. Biasanya para remaja
mengawalinya dengan merasakan merokok dan minuman keras, baru kemudian
mencoba-coba narkotika dan obat terlarang
d) Faktor
pergaulan
Pergaulan merupakan
proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan individu, dapat juga oleh
individu dengan kelompok pergaulan mempunyai pengaruh yang besar dalam
pembentukan kepribadian seorang individu. Pergaulan yang ia lakukan itu akan
mencerminkan kepribadiannya, baik pergaulan yang positif maupun pergaulan yang
negative. Pergaulan
yang negatif itu lebih mengarah ke pergaulan bebas, hal itulah yang harus
dihindari, terutama bagi remaja yang masih mencari jati dirinya.
e) Konflik Keluarga
Konflik keluarga yang dimaksud adalah perceraian, dalam sebuah pernikahan tidak
bisa dilepaskan dari pengaruhnya terhadap anak. Banyak faktor yang terlebih
dahulu diperhatikan sebelum menjelaskan tentang dampak perkembangan anak
setelah terjadi suatu perceraian antara ayah dan ibu mereka. Anak yang sudah
menginjak remaja dan mengalami perceraian orang tua lebih cenderung mengingat
konflik dan stress yang mengitari perceraian itu sepuluh tahun kemudian, pada
tahun masa dewasa awal mereka. Mereka juga Nampak kecewa dengan keadaan mereka
yang tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh.
f) Lingkungan Pendidikan
Lingkungan Sekolah merupakan lingkungan
di mana remaja mendapatkan pengetahuan, pembinaan
perilaku, dan keterampilan. Di
sekolah juga, remaja menemukan teman sebaya yang mendorong munculnya persaingan
antar sesama. Ada yang ingin berprestasi, terlihat
bergengsi,”sok” jagoan,
dan sebagainya. Jika
keadaan ini tidak bisa dibenahi dan diselesaikan oleh pengelola pendidikan di
sekolah, maka remaja yang cenderung pendiam, malas mengejar prestasi dan beraktivitas
akan mengalami stres dan berpotensi terjerumus ke dalam tindakan penyimpangan
seperti penyalahgunaan NAPZA.
g) Lingkungan di pemukiman masyarakatnya yang
permisif
Lingkungan masyarakat yang permisif
terhadap hukum dan norma kurang patuh terhadap aturan, status sosial ekonomi masyarakat ini seringkali memiliki
sekolah-sekolah yang sangat tidak memadai. Komunitas juga dapat berperan serta
dalam memunculkan kenakalan remaja. Masyarakat dengan tingkat kriminalitas
tinggi memungkinkan remaja mengamati
berbagai model yang melakukan aktivitas kriminal dan memperoleh hasil atau
penghargaan atas aktivitas kriminal mereka
2.
Kepribadian
a) Kondisi
kejiwaan
Orang-orang yang cukup mudah tergoda
dengan penyalahgunaan NAPZA adalah para remaja yang jiwa labil, pada masa ini
mereka sedang mengalami perubahan biologis, psikologis maupun social
b) Perasaan
Perasaan rendah diri di dalam pergaulan
bermasyarakat, seperti di lingkungan sekolah, tempat kerja, lingkungan sosial
dan sebagainya sehingga tidak dapat mengatasi perasaan itu, remaja berusaha
untuk menutupi kekurangannya agar dapat menunjukan eksistensi dirinya
melakukannya dengan cara menyalahgunakan narkotika, psykotropika maupun minuman
keras sehingga dapat merasakan
memperoleh apa-apa yang diangan-angankan antara lain lebih aktif, lebih berani
dan sebagainya .
c) Emosi
Kelabilan emosi remaja pada masa
pubertas dapat mendorong remaja melakukan kesalahan fatal. Pada masa -masa ini
biasanya mereka ingin lepas dari ikatan aturan-aturan yang di berlakukan oleh
orang tuanya. Padahal disisi lain masih ada ketergantungan sehingga hal itu
berakibat timbulnya konflik pribadi.
d) Mental
Kesehatan mental adalah kemampuan untuk
menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat sera
lingkungan tempat ia hidup. Menurut
definisi ini seseorang dikatakan bermental sehat bila dia menguasai dirinya
sehingga terhindar dari tekanan-tekanan perasaan atau hal-hal yang menyebabkan
frustasi.
e) Faktor
Individu
Selain faktor lingkungan, peran pada komponen yang berpengaruh
terhadap penyalahgunaan NAPZA, setidaknya untuk beberapa individu.
Sederhananya, orang tua pelaku penyalahgunaan NAPZA cenderung menurun kepada
anaknya, terlebih pada ibu yang sedang hamil. Faktor-faktor individu lainnya
adalah Sikap positif. Sifat mudah terpengaruh, kurangnya pemahaman terhadap
agama, pencarian sensasi atau kebutuhan tinggi terhadap “ekcitment”.
Beberapa pengaruh adanya NAPZA terhadap perilaku
penyalahgunaan di kalangan remaja adalah sebagai berikut:
a) Ingin menikmati yang cepat (praktis)
Pada awalnya orang memakai NAPZA kerena
mengharapkan kenikmatan misalnya, nikmat bebas dari rasa kesal, kecewa, stres,
takut, frustrasi. Takala mulai mencoaba, perasaan nikmat tersebut tidak datang
yang datang justru perasaan berdebar, kepala berat, dan mual.
b) Ketidaktahuan
Pemakai NAPZA yang berakibat buruk
terjadi karena kebodohan pemakainya
sediri, dasar dari seluruh alasan penyebab peyalahgunaan NAPZA adalah
ketidaktahuan. Ketidaktahuan tersebut menyangkut banyak hal, misalnya tidak
tahu apa itu NAPZA atau tidak mengenali NAPZA, tidak tahu bentuknya, tidak tahu
akibatnya terhadap fisik, mental, moral, masa depan, dan terhadap kehidupan
akhirat, tidak paham akibatnya terhadap diri sendiri, keluarga masyarakat, dan
bangsa.
c) Alasan internal
Alasan ingin tahu, ingin di anggap hebat, rasa
setia kawan, rasa kecewa, frustrasi, dan kesal dapat terjadi karena kekeliruan
dalam komunikasi. Misalnya, komunikasi
anak dengan orang tua, komunikasi antara anak dan sebagainya.
d)
Alasan
keluarga
Konflik dalam keluarga dapat mendorong
anggota keluarga merasa frustrasi, sehingga terjebak memilih NAPZA sebagai
solusi. Biasanya yang paling rentan terhadap stres adalah anak, kemudian suami, istri sebagai benteng
akhir.
e) Alasan orang lain
Banyak pengguna NAPZA yang awalnya dimulai kerena pengaruh dari orang
lain. Bentuk pengaruh orang lain itu dapat bervariasi mulai dari bujuk rayu, tipu daya, dan sampai
paksaan.
f) Jaringan peredaran luas sehingga NAPZA
mudah didapat
Penyebab lain banyaknya orang yang mengkonsumsi
NAPZA adalah karena NAPZA mudah didapat. Jaringan pengedar NAPZA di Indonesia
dengan cepat meluas, bukan hanya di kota besar tetapi di kota madya bahkan
desa-desa. Meluasnya jaringan NAPZA didorong oleh rendahnya kualitas
intelektualitas dan moralitas masyarakat dan buruknya kondisi sosial ekonomi.
Dengan peredaran yang demikian luas, NAPZA mudah didapat dimana-mana. Oleh
karena itu, perang melawan penyalahgunaan di Indonesia akan berat sebelah.
c. Bahaya Penyalahgunaan
NAPZA
Pada
umumnya zat adiktif menimbulkan khayalan, selain itu juga dapat menimbulkan
rangsangan pada pemakai. Termasuk dalam kelompok zat adiktif ini adalah: miras
(alkohol). Alkohol dapat menimbulkan adiksi yaitu ketagihan atau
ketergantungan. Karena sifat adiktif dari alkohol ini, maka orang yang
meminumnya lama kelamaan tanpa disadari akan menambah takaran dosis sampai pada
dosis keracunan (intoksikasi) atau mabuk. Efek pemakaian alkohol dalam jangka
panjang dapat mengakibatkan gangguan pada organ otak, liver (hati), alat pencemaan,
pankreas, otot, metabolisme, dan resiko kanker. Bagi mereka yang sudah
mengalami ketergantungan, bila pemakaian dihentikan akan menimbulkan kondisi gejala putus obat yang ditandai dengan gejala:
rasa ketagihan. kelelahan. kelelihan
menyeluruh, tidur berkepanjangan (12-24 jam), rasa sedih. murung, timbul
pikiran lentang kematian (ide bunuh
din), dan sering mencelakakan diri.
1.
Dampak Penyalahgunaan NAPZA terhadap Fisik dan Fsikis
Pemakai
a.
Dampak Fisik
1) Gangguan pada sistem saraf (neurologis) seperti: kejang-kejang,
halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi.
2) Gangguan pada jantung dan pembuluh darah
(kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah.
3) Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan
(abses), alergi, eksim.
4) Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan
fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru.
5) Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah,
murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur.
6) Gangguan pada endokrin,seperti: penurunan fungsi
hormon reproduksi (estrogen, progesteron,testosteron), serta gangguan fungsi
seksual.
7) Perubahan
periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid).
8) Bagi pengguna NAPZA melalui jarum suntik, khususnya
pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit
shepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya.
9) konsumsi NAPZA melebihi kemampuan (over dosis dan
menyebabkan kematian).
b.
Dampak Psikis
1) Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah
2) Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh
curiga
3) Agitatif,
menjadi ganas dan tingkah laku brutal
4) Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan
5) Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan
bunuh diri.
c.
Dampak
Sosial
1) Gangguan
mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan
2) Merepotkan
dan menjadi beban keluarga
3) Pendidikan
menjadi terganggu, masa depan suram
d. Upaya Menghindari
Penyalahgunaan NAFZA
Harapan
dan keyakinan tentang NAPZA sangat dipengaruhi oleh pengetahuan individu
tentang masalah NAPZA. Individu yang lebih banyak mengetahui efek negatif, maka
ia cenderung memiliki harapan dan keyakinan negatif. Sebaliknya, individu yang
lebih banyak mendapatkan pengetahuan tentang pengaruh positif NAPZA, maka ia
cenderung memiliki harapan dan keyakinan yang positif. Individu yang memiliki
harapan dan keyakinan positif terhadap efek NAPZA maka kecenderungan untuk
menggunakan NAPZA menjadi lebih besar. Sebaliknya, individu yang memiliki
harapan dan keyakinan negatif terhadap efek NAPZA maka kecenderungan untuk
menggunakan NAPZA menjadi lebih kecil.
Berdasarkan
uraian yang telah dikemukakan di atas maka dapat dinyatakan bahwa upaya untuk
dapat menghindari penyalahgunaan NAPZA dapat dilakukan melalui dua pendekatan
yaitu:
1. Meningkatkan
pengetahuan tentang NAPZA
Pengetahuan tentang NAPZA
berkaitan dengan jenis dan bahayanya akan dapat membekali individu agar tidak
mudah terjebak untuk ikut-ikutan menggunakan NAPZA segera ilegal. Pemahaman
mengenai bahaya yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan NAPZA dapat menjadi
penguat keyakinan untuk menolak penyalahgunaan NAPZA. Selain pengetahuan
tentang jenis dan bahaya serta bagaimana cara penyebaran NAPZA, perlu juga
diketahui bagaimana ciri-ciri para penyalahguna NAPZA. Hal ini akan dapat
menjadikan referensi bagi individu supaya selektif dalam memilih ternan.
Berikut ini akan diuraikan beberapa gejala yang akan diklasifikasikan menjadi
empat aspek, yaitu:
a. Aspek kondisi fisik
1) sering mengeluh pusing
2) sering baluk dan pilek yang berkepanjangan
3) matanya cenderung merah, sayu dan tatapannya kosong
4) berjalan sempoyongan
5) malas berolahraga
b. Aspek kondisi psikis
1) menunjukkan sikap membangkang
2) mudah tersinggung sehingga sering marah secara
meledak-ledak
3) menuntut kebebasan yang lebih besar
4) tidak dapat menunda keinginan
5) suka mengambil resiko tinggi, misalnya: melayani
tantangan balapan, berkelahi.
6) emosinya sangat labil
7) sikapnya manipulatif, misalnya: tampak manis bila ada
maunya
c. Aspek hubungan sosial
1) semakin jarang ikut kegiatan keluarga
2) mulai melupakan tanggungjawab rutin di rumah
3) merongrong keluarga untuk minta uang dengan bcrbagai
alasan
4) bercerita pada keluarga yang mau mendengarkan
keluhannya
5) jarang mau
makan bersama keluarga
6) sering menginap di rumah ternan dengan berbagai alasan
7) menolak orangtua atau saudara masuk ke kamarnya
8) omongannya basa-basi dan semakin menghindari
pembicaraan panjang
9) omongannya sering tidak dapat dipercaya (doyan bohong)
10) sering ingkar janji dengan berbagai alasan
11) suka membolos sekolah, kuliah atau kerja
d. Aspek perubahan perilaku
1) sering pulang larut malam
2) sering pergi ke diskotik
3) selalu mengeluh kehabisan uang (bokek)
4) sering mencuri uang dan barang di rumah
5) suka merokok berlebihan
6) sering berlama-Iama di kamar mandi
7) suka mengunci diri di kamar
8) sering makan permen karet atau mentol unruk
menghilangkan bau mulut
9) senang memakai kaca mata gelap dan membawa obat tetes
mata
10) sering membunyikan musik keras-keras tanpa
mempedulikan orang lain
Bila indikasi-indikasi tersebut
terdapat pada individu (kira-kira 10% atau lebih) dari daftar tersebut maka
patut dicurigai dan selanjutnya perlu dilakukan pengamatan lebih teliti.
Apabila ditemukan hal tersebut maka perlu dilakukan pendekatan secara
psikologis persuasif. Hal ini lebih bijaksana daripada langsung memusuhinya.
2. Mengupayakan
kualitas pribadi yang tangguh
Tidak jarang individu yang telah
merniliki pengetahuan tentang rnasalah NAPZA tetapi tidak didukung dengan
kepribadian yang kuat justru timbul rasa ingin tahu dan ingin mencoba NAPZA. Dengan demikian dalam program pendidikan
berkaitan dengan masalah NAPZA (Drug Education) selain diberikan
pengetahuan tentang NAPZA juga harus didukung dengan program pengembangan kepribadian. Individu yang memiliki kualitas pribadi yang tangguh adalah
individu yang menyadari tentang potensi
yang mereka miliki, mengerti kekuatan dan kelemahan diri. Mereka mampu mengembangkan potensi dan kekuatan yang
dimilikinya untuk dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungannya. Mereka juga terus
belajar untuk dapat mengurangi kelemahannya.
Dengan upaya-upaya tersebut mereka menjadi pribadi yang percaya diri, ulet, tahan, tidak mudah kecewa dan putus
asa, suka menolong, memiliki orientasi sosial yang positif, merasa kuat untuk menolak bujukan negatif, termasuk
bujukan untuk menyalahgunakan NAPZA.
Kualitas pribadi yang tangguh
diwujudkan dengan kekuatan personal, yaitu kekuatan yang ada dalam diri individu, merasa diri mampu, berdaya dan
berguna mengembangkan potensi yang
dimiliki. Selain itu juga diwujudkan dalam kekuatan interpersonal, yaitu
kekuatan dalam menjalin hubungan
dengan orang lain, merasa mampu terlibat dalam pergaulan sosial, memiliki kecakapan dan keterampilan
dalam menjalin relasi sosial dengan lingkungannya.
1) Dalam Materi tersebut kami Rangkum dan Bahan Ajar kami salin
ke dalam power point yang telah kami buat, mencakup materi yang akan kami
sosialisasikan. Persiapan kami tidak hanya pada matari saja tetapi kami
menggunakan proyektor dan laptop sebagai penunjang dalam menyampaikan materi
sosialisasi menggunakan power point.
2) Pelaksanaan dalam tata atau pengelolaan dalam kelas
kelompok kami mentata duduk peserta didik dengan menggeser bangku kebelakang
dan peserta didik duduk di lantai agar semua peserta didik kelas V A dan B
dapat duduk secara tertib tanpa ada keributan serta cukupnya ruangan yang kami
tempati.
3) Dalam pelaksaan sosialisasipun kami telah membagi materi
untuk kami semua sosialisasikan dan mendapatkan demonstrasi atau memperlihatkan
media atau alat ang kami bawa sesuai materi yang telah kami dapatkan yaitu Zat
Adiktif sesuai persiapan Awal setiap orang akan menjelaskan dan memperlihatkan
contoh ilustrasi Zat Adiktif dan Psikotropika, agare peserta didik mengetahui
bentuk dari zat-zat berbahaya tersebut. Tak lupa dalam pelaksaan ini kami
mengimplementasikan persipan awal yaitu ice breaking di setaip waktu yang telah
kami tentukan serta permainan yang di pimpin oleh satu orang
C. Hasil Sosialisasi Zat Adiktif
Hasil
sosialisasi zat adiktif pada sekolah dasar Negeri Pajajaran yang telah kami
sosialisasikan ternyata mendapatkan hasil yang memuaskan, dan program kami
berhasil dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan tujuan utama kami dalam
bersosialisasi yaitu dapat menyampaikan materi tentang zat Adiktif beserta alat
dan media yang kami bawa guna untuk menyempurnakan pemahaman peserta didik
tentang zat adiktif agar dapt membedakan zat tersebut dan tahu bentuk dari zat
adiktif tersebut guna diingat dan berguna Ilmunya menjauhi Zat berbahayanya dan
tidak mendekati obat-obat terlarang serta mereka tidak dapat tertipu oleh orang
yang tidak dikenal memberikan zat adiktif tersebut mereka memiliki ilmu dasar
yang akan mereka ingat setelah sosialisasi tentang zat adiktif ini. Kami di
laksanakan kegiatannya dengan sempurna tanpa hambatan di setiap kegiatan. Ada
beberapa hasil yang kami dapatkan selama kegiatan sosialisasi kami di SDN
Pajajaran :
1. Peserta didik lebih bersemangat dalam melaksanakan
kegiatan sosialisasi ini terlebih mereka antusias dengan materi yang akan kami
sampaikan. Beberapa anakpun ikut meramaikan kegiatan dengan mendengar serta
memperhatikan materi denga seksama.
2. Stimulus respon yang di dapat oleh kelompok kami dalam
sosialisasi sangat memuaskan, ada beberapa anak ikut serta dalam menjawab
pertanyaan dan rasa ingin tahu yang banyak ketika kami menyampaikan materi
dalam sosialisasi tersebut. Beberapa anak justru mengetahui Zat Adiktif Walau
tidak semua tahu namun anak tersebut setidaknya mengetahui beberapa jenis Zat
Adiktif.
3. Pengetahuan tentang Zat Adiktif banyak di ketahui oleh
peserta didik ketika kami melakukan sosialisasi, dan ketika kami putar video
tentang dampak Zat Adiktif Bagi kesehatan kita mereka memperhatikan dan
merasakan bahwa Zt Adiktif benar-benar berbahaya ketika mereka tahu lebih jelas
lagi dalam Video yang mereka tonton bersama.
4. Sosialisasi peserta didik terhadap materi yang kami
sampaikan sangat memuaskan dan dapat mengembangkan kalimat larangan
mengkonsumsi Zat Adiktif, serta peserta didik mampu menyebutkan beberapa dampak
serta menyebutkan contohnya dalam kehidupan sehari contohnya dalam Rokok tanpa
di beritahu lebih jelas mereka tahu bahwa pada bungkus rokok terdapat
peringatan serta dampak menghisap rokok, tak lupa mereka bisa berpikir kritis
dalam menanggapi Zat Adiktif ini walau kritis masih pada dasarnya Anak Kelas V A
& B.
BAB III
PENUTUP
- KESIMPULAN
Dari pemaparan kami diatas maka dapat
kami simpulkan bahwa Zat Adiktif merupakan Zat Aktif yang bila dikonsumsi
secara terus-menerus akan menimbulkan ketergantungan karena dalam kandungan zat
adiktif ada zat aktif yang bisa menimbulkan beberapa ganguan dalam organ tubuh
seperti penyakit Gangguan pada
sistem saraf (neurologis), jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), kulit (dermatologis), paru-paru (pulmoner), sering
sakit kepala, mual-mual, muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan
hati dan sulit tidur, endokrin, Perubahan periode menstruasi, ketidak
teraturan menstruasi, dan
amenorhoe (tidak haid), HIV Aids dan Over Dosis
- SARAN
Kami selaku penulis menyadari bahwa laporan yang kami
susun ini sangat jauh dari kata sempurna maka dari itu kami mengucapkan permohonan
maaf atas kekurangan laporan yang kami susun. Untuk itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran bagi pembaca untuk membantu kami menyempurnakan
laporan kami.