Kamis, 01 Februari 2018

makalah metode pembelajaran IPS SD



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Metode adalah cara yang dianggap efisien yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan suatu mata pelajaran tertentu kepada siswa, agar tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya dalam proses kegiatan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif. Sehubungan dengan hal tersebut seorang guru dituntut untuk menguasai macam macam metode mengajar sehingga dapat menentukan metode apa yang paling tepat digunakan dalam proses pembelajarannya, sehingga kecakapan dan pengetahuan yang diberikan oleh guru betul-betul menjadi milik siswa.
Proses pengajaran akan lebih hidup dan menjalin kerjasama diantara siswa, maka proses pembelajaran dengan paradigma lama harus diubah dengan paradigma baru yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam berpikir, arah pembelajaran yang lebih kompleks tidak hanya satu arah sehingga proses belajar mengajar akan dapat meningkatkan kerjasama diantara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa, maka dengan demikian siswa yang kurang akan dibantu oleh siswa yang lebih pintar sehingga proses pembelajaran lebih hidup dan hasilnya lebih baik.
Dalam kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari berbagai variabel pokok yang saling berkaitan yaitu kurikulum, guru/pendidik, pembelajaran, dan peserta didik. Dimana semua komponen ini bertujuan untuk kepentingan peserta didik.
Berdasarkan hal tersebut pendidik dituntut harus mampu menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran agar peserta didik dapat melakukan kegiatan belajar dengan menyenangkan. Hal ini dilatar belakangi bahwa peserta didik bukan hanya sebagai objek tetapi juga merupakan subjek dalam pembelajaran. Peserta didik harus disiapkan sejak awal untuk mampu bersosialisasi dengan lingkungannya sehingga berbagai jenis pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan oleh pendidik.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan Metode?
2.      Metode apa saja yang cocok digunakan pada pembelajaran IPS SD?
C.    Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan masalahnya adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan Metode
2.      Mengetahui macam‒macam metode yang cocok digunakan pada pembelajaran IPS SD


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Metode
Metode merupakan salah satu strategi atau cara yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar yang bertujuan yang hendak dicapai, semakin tepat metode yang digunakan oleh seorang guru maka pembelajaran akan semakin baik.
Adapun menurut para ahli mengenai pengertian metode sebagai berikut:
1.      Drs. Agus M. Hardjana : Metode adalah cara yang sudah dipikirkan masak-masak dan dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah tertentu guna mencapai tujuan yang hendak dicapai.
2.      Rosdy Ruslan (2003:24) : Metode merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu subjek atau objek penelitian, sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya.
3.      Kamus Bahasa Indonesia : Metode adalah cara kerja yg bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yg ditentukan.
4.      Depatemen Sosial RI : Metode adalah cara teratur yg digunakan utk melaksanakan pekerjaan agar tercapai hasil sesuai dgn yg diharapkan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas metode adalah cara-cara yang digunakan yang dilakukan guru dalam rangka proses kegiatan belajar-mengajar, sehingga individu yang diajar akan dapat mencerna, menerima dan mampu mengembangkan bahan-bahan materi yang diajarkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
B.     Macam‒macam metode
1.      Metode Inquiry (Menemukan)
Menemukan (inquiry) merupakan inti dari CTL (contectual teaching and learning). Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil dari mengingat seperangkat fakta, konsep, dan kaidah, melainkan hasil dari menemukan sendiri. Maka guru harus merancang kegiatan pembelajaran yang merujuk pada kegiatan menemukan apapun materi/pokok bahasannya. 
Adapun langkah-langkah kegiatan inkuiri adalah sebagai berikut :
1.      Merumuskan masalah;
2.      Melakukan observasi atau pengamatan;
3.      Menganalisis dan menyajikan hasil dalam bentuk tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan lain-lain,
4.      Mengkomunikasikan hasil karya kepada pembaca, teman sekelas, atau guru.
Kekurangan dan Kelebihan
1.      Kelebihan metode inquiry
a.       Merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini lebih bermakna.
b.      Dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka masing‒masing.
c.       Merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
d.       Strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas rata‒rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
2.      Kekurangan metode inquiry
a.       Jika metode inquiry digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit pengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b.      Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c.       kadang‒kadang dalam mengimplementasikannya memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
d.      Metode inquiry akan sulit diimplementasikan oleh guru.
2.      Metode Discovery
Metode pembelajaran discovery (penemuan) adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam pembelajaran discovery (penemuan) kegiatan atau pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.
Metode discovery diartikan sebagai prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorang, memanipulasi objek sebelum sampai pada generalisasi. Sedangkan Bruner  menyatakan bahwa anak harus berperan aktif didalam belajar. Lebih lanjut dinyatakan, aktivitas itu perlu dilaksanakan melalui suatu cara yang disebut discovery. Discovery yang dilaksanakan siswa dalam proses belajarnya, diarahkan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip.
Langkah-langkah pembelajaran discovery adalah sebagai berikut:
1.      Identifikasi kebutuhan siswa;
2.      Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi pengetahuan;
3.      Seleksi bahan, problema/ tugas-tugas;
4.      Membantu dan memperjelas tugas/ problema yang dihadapi siswa serta peranan masing-masing siswa;
5.      Mempersiapkan kelas dan alat-alat yang diperlukan;
6.      Mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan;
7.      Memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan;
8.      Membantu siswa dengan informasi/ data jika diperlukan oleh siswa;
9.      Memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi masalah;
10.  Merangsang terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa;
11.  Membantu siswa merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya.
Kelebihan dan kekurangan Metode Discovery Learning
1.      Berikut ini merupakan kelebihan-kelebihan yang dimiliki discovery learning (pembelajaran penemuan)
a.       Mendukung partisipasi aktif pembelajar dalam proses pembelajaran.
b.      Menumbuhkan rasa ingin tahu pembelajar
c.       Memungkinkan perkembangan keterampilan-keterampilan belajar sepanjang hayat dari pembelajar.
d.      Membuat pengalaman belajar menjadi lebih bersifat personal.
e.       Membuat pembelajar memiliki motivasi yang tinggi karena memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan eksperimen dan menemukan sesuatu untuk diri mereka sendiri.
f.       Membangun pengetahuan berdasarkan pada pengetahuan awal yang telah dimiliki oleh pembelajar sehingga mereka dapat memiliki pemahaman yang lebih mendalam.
g.      Mengembangkan kemandirian dan otonomi pada diri pembelajaran.
h.      Membuat pembelajar bertanggungjawab terhadap kesalahan-kesalahan dan hasil-hasil yang mereka buat selama proses belajar.
i.        Merupakan cara belajar kebanyakan orang dewasa pada pekerjaan dan situasi kehidupan nyata.
j.        Merupakan suatu alasan untuk mencatat prosedur-prosedur dan temuan temuan - seperti mengulang kesalahan-kesalahan, sebagai suatu cara untuk menganalisis apa yang telah terjadi, dan suatu cara untuk mencatat atau merekam temuan yang luar biasa.
k.      Mengembangkan keterampilan-keterampilan kreatif dan pemecahan masalah.
l.        Menemukan hal-hal baru yang menarik yang belum terbayang sebelumnya setelah pengumpulan informasi dan proses belajar yang dilakukan.
2.      Berikut ini merupakan kelemahan-kelemahan yang dimiliki discovery learning (pembelajaran penemuan)
a.       Kebingungan pada para pembelajar ketika tidak disediakan semacam kerangka kerja, dan semacamnya.
b.      Terbentuknya miskonsepsi
c.       Pembelajar yang lemah mempunyai kecenderungan untuk belajar di bawah standar yang diinginkan, dan guru seringkali gagal mendeteksi pembelajar semacam ini (bahwa mereka membutuhkan remedi dan scaffolding).

3.      Metode bermain peran (Role Playing)
Role playing (bermain peran) adalah salah satu bentuk permainan pendidikan yang dipakai untuk menjelaskan peranan, sikap, tingkah laku, nilai, dengan tujuan menghayati perasaan, sudut pandang dan cara berpikir orang lain (Husein Achmad. 1981:80). Dengan demikian role playing merupakan suatu teknik atau cara agar para guru dan siswa memperoleh penghayatan nilai-nilai dan perasaan.
Dengan metode bermain peran, diharapkan siswa dapat menghayati dan berperan dalam berbagai figur khayalan atau figur sesungguhnya dalam berbagai situasi. Metode bermain peran yang direncanakan dengan baik dapat menanamkan kemampuan bertanggung jawab dalam bekerja sama dengan orang lain, menghargai pendapat dan kemampuan orang lain dan belajar mengambil keputusan dalam hubungan kerja kelompok. Metode ini dapat diterapkan pada pengajaran IPS dengan pokok bahasan tentang hubungan kehidupan sosial, misalnya: peranan tokoh-tokoh, susunan dan masyarakat feudal. Melalui metode bermain peran dapat melibatkan aspek-aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. Aspek kognitif meliputi pemecahan masalah, aspek afektif meliputi sikap, nilai niali pribadi/orang lain, membandingkan, mempertentangkan nilai-nilai, mengembangkan empati atas dasar tokoh yang mereka perankan. Sedangkan aspek psikomotor terlihat ketika siswa memainkan peran di depan kelas. Dengan demikian diharapkan, minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran IPS yang selalu kaku dan menjemukan dapat disegarkan kembali.
Tujuan dan Manfaat Role Playing (menurut Shaftel)
1.      Agar menghayati sesuatu kejadian atau hal yang sebenarnya dalam realita hidup.
2.      Agar memahami apa yang menjadi sebab dari sesuatu serta bagaimana akibatnya.
3.      Untuk mempertajam indera dan rasa siswa terhadap sesuatu.
4.      Sebagai penyaluran/pelepasan ketegangan dan perasaan-perasaan.
5.       Sebagai alat mendiagnosa keadaan kemampuan siswa.
6.      Pembentukan konsep secara mandiri.
7.      Menggali peranan-peranan dari pada seseorang dalam suatu kehidupan kejadian/keadaan.
8.      Membina siswa dalam kemampuan memecahkan masalah, berfikir kritis, analisis, berkomunikasi, hidup dalam kelompok dan lain-lain.
9.      Melatih anak ke arah mengendalikan dan membaharui perasaannya, cara berfikirnya, dan perbuatannya.
Adapun Langkah-langkah Role Playing :
1.      Pemanasan (pengantar serta pembahasan ceritera dari guru).
2.      Memilih siswa yang akan berperan.
3.      Menyiapkan penonton yang akan mengobservasi.
4.      Mengatur panggung/ruang.
5.      Permainan.
6.      Diskusi dan evaluasi.
7.      Permainan berikutnya.
8.      Diskusi lebih lanjut.
9.      Generalisasi.
1.      Kelebihan metode role playing
a.       Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa, di samping menjadi pengalaman yang menyenangkan juga memberi pengetahuan yang melekat dalam memori otak,
b.      Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan membuat kelas menjadi dinamis dan antusias
c.       Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan.
d.      Siswa dapat terjun langsung untuk memerankan sesuatu yang akan dibahas dalam proses belajar.
2.      Kekurangan metode role playing
a.       Role playing memerlukan waktu yang relatif panjang/banyak
b.      Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun siswa dan ini tidak semua guru memilikinya.
c.       Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerankan suatu adegan tertentu
d.      Apabila pelaksanaan role playing atau bermain peran mengalami kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan pembelajaran tidak tercapai.
e.       Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.
4.      Metode Sosiodrama
Metode bermain peran dan metode sosiodrama dapat dikatakan sama artinya. Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial. Metode sosiodrama merupakan cara mengajar yang dilakukan oleh guru dengan jalan menirukan tingkah laku dari sesuatu situasi sosial. Sedangkan metode bermain peran lebih menekankan pada keikutsertaan para murid untuk memainkan peranan/bermain sandiwara menirukan masalah-masalah sosial. tertentu.
Kedua metode yang mempunyai maksud sama ini, sering dilakukan secara silih berganti dalam implikasinya sehingga diharapkan anak-anak akan lebih menghayati pelajaran yang diberikan. Sosiodrama tepat digunakan pada materi yang berhubungan dengan masalah-masalah fenomena sosial menyangkut hubungan antara manusia, seperti masalah kenakalan remaja, narkoba, gambaran keluarga yang otoriter, dan lain-lain. Topik yang juga bisa diangkat dalam metode bermain peran adalah misalnya kejadian seputar pemberontakan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan, atau gambaran keadaan yang mungkin muncul pada abad teknologi informasi.
Adapun beberapa alasan penggunaan metode bermain peran atau sosiodrama dalam metode pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) memperjelas gambaran suatu peristiwa dari pelajaran yang diberikan, yang di dalamnya menyangkut orang banyak dan atas pertimbangan didaktis lebih baik didramatisasikan dari pada hanya diceritakan saja, 2) dimaksudkan untuk melatih anak-anak agar mampu menyelesaikan masalah-masalah sosial mereka di kelak kemudian hari, 3) melatih nak-anak agar mudah bergaul, mempunyai timbang rasa serta kemungkinan pemahaman terhadap orang lain dengan berbagai permasalahannya.
Sedangkan tujuannya tak lain adalah: 1) agar anak didik dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain, 2) anak didik dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab serta mengerti bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan, dan 3) diharapkan dalam merangsang iklim pembelajaran dalam kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah.
Kelebihan dan kelemahan pada metode sosiodrama
1.      Kelebihan
a.       Memberi kesempatan kepada anak-anak untuk berperan aktif mendramatisasikan sesuatu masalah sosial yang sekaligus melatih keberanian serta kemampuannya melakukan suatu agenda di muka orang banyak.
b.      Suasana kelas sangat hidup karena perhatian para murid semakin tertarik melihat adegan seperti keadaan yang sesungguhnya.
c.       Para murid dapat menghayati seseuatu peristiwa, sehingga mudah memahami, membanding-banding, menganalisa serta mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatannya sendiri.
d.      Anak-anak menjadi terlatih berpikir kritis dan sistematis.
2.      Kelemahan
a.       Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain drama mereka menjadi kurang kreatif.
b.      Banyak memakan waktu, baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan pertunjukan.
c.       Memerlukan tempat yang cukup luas, jika tempat bermain sempit menjadi kurang bebas.
d.      Sering kelas lain terganggu oleh suara pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan, dan sebagainya.
e.       Metode ini membutuhkan ketekunan, kecermatan dan waktu cukup lama.
f.       Guru yang kurang kreatif biasanya sulit berperan menirukan sesuatu situasi/tingkah laku sosial yang berarti pula metode ini baginya sangat tidak efektif.
g.      Ada kalanya para murid enggan memerankan suatu adegan karena merasa rendah diri atau malu.
h.      Apabila pelaksanaan dramatisasi gagal, maka guru tidak dapat mengambil sesuatu kesimpulan apapun yang berarti pula tujuan pengajaran tidak dapat tercapai.
BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
Metode merupakan salah satu strategi atau cara yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar yang bertujuan yang hendak dicapai, semakin tepat metode yang digunakan oleh seorang guru maka pembelajaran akan semakin baik.
Penggunaan banyak metode dalam pembelajaran memang sangat disarankan untuk memberikan kenyamanan aktifitas dari pembelajaran itu sendiri di dalam kelas. Penggunaan satu metode lebih cenderung menghasilkan kegiatan belajar-mengajar yang membosankan bagi anak didik. Jalannya pengajaran pun akan tampak kaku.
Kondisi seperti ini sangat tidak menguntungkan bagi guru dan anak didik. Guru mendapatkan kegagalan dalam menyampaikan materi dan anak didik dirugikan. Dalam penggunaan metode, guru juga harus menyesuaikan kondisi dan suasana kelas. Jumlah anak mempengaruhi penggunaan metode. Jadi penggunaan metode yang tepat dan bervariasi dapat dijadikan sebagai alat motivasi dalam pembelajaran. Jadi dengan adanya metode inquiry, discovery, bermain peran dan sosiodrama diharapkan guru mampu menyampaikan materi pada peserta didik dengan bervariasi agar pembelajaran pun menjadi aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.


DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto, Mangun dan Syamsul Kurniawan, 2012. Strategi dan Metode Pembelajaran
Dalam Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta : Griya Santri
http://digilib.uinsby.ac.id/1625/4/Bab%202.pdf (diakses pada hari jumat tanggal 1 desember 2017)
http://eprints.ums.ac.id/34435/1/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf diakses pada hari sabtu tanggal 2 Desember 2017   

Dengan disusunnya makalah ini semoga bermanfaat bagi kita semua dan semoga tidak disalah gunakan oleh pembaca. Saya persilahkan untuk yang ingin mempost ulang atau menggunakan makalah ini sebagai bahan acuan atau referensi dengan ketentuan harus mencantumkan nama link dari blog ini, untuk menghindari PLAGIAT. semoga bermanfaat :)