Senin, 02 Oktober 2023

KISAH CINTA PERTAMAKU …

 


KISAH CINTA PERTAMAKU …

Assalamualaikum sahabat.. kali ini aku ingin membagikan sebuah kisah yang terjadi pada diriku sendiri.

Kisah yang aku alami sendiri dan tak akan pernah aku lupakan.

Kisah ini dimulai dengan persahabatan dua anak perempuan, yang telah bersahabat sejak duduk di bangku PAUD sampai sekarang. Persahabatan yang sangat erat dan tak bisa di pisahkan.

Sebut saja namaku Ara dan nama sahabatku Riana. Kami yang tumbuh besar bersama, kemana-mana selalu bersama. Dimana ada aku, disitu pasti ada sahabatku Riana. Sejak kecil orang tuaku sangat sibuk dengan pekerjaan mereka, terkadang aku hampir tak bertemu dengan kedua orang tuaku. Karena biasanya mereka bekerja sampai larut malam, hal itu membuat aku harus dititipkan di rumah Riana ketika orang tuaku belum pulang.

Beruntungnya, aku masih mendapatkan kasih sayang dari ibu Riana, beliau menganggapku seperti anaknya sendiri. Ketika ada acara pembagian rapot, biasanya ibu Rianalah yang selalu mengambilkan rapotku. Karena menggantikan orang tuaku yang sibuk bekerja.

Biasanya aku selalu bermain di sawah bersama Riana, karena orang tua Riana bekerja sebagai petani, sepulang sekolah kita selalu bermain di sawah, karena sering bermain disana, akhirnya ayah Riana memutuskan untuk membuatkan kami rumah kecil (Saung) di dekat pohon kelapa, untuk tempat kami berteduh dan beristirahat.

Kala itu sepulang sekolah aku dan Riana memutuskan untuk menghias saung. Aku sengaja meminta uang jajan lebih kepada orang tuaku untuk membeli hiasan untuk saung.

Riana : “ Ra, bagaimana kalau kita hias saung kita menggunakan kertas origami ? “

Ara : “ Boleh nanti aku minta uang sama mamaku ”

Riana : “ memang sempat? ”

Ara : “ Entahlah nanti akan ku coba bangun lebih pagi, supaya bisa bertemu dengan mereka ” (begitulah, jika aku ingin bertemu dengan kedua orang tuaku, aku harus bangun lebih pagi)

Riana : “ Oke , jika sudah ada uangnya nanti kita membeli perlengkapannya”

Orang tuaku memang sangat sibuk bekerja, tetapi mereka selalu mencukupi kebutuhanku, jika aku meminta sesuatu, mereka akan langsung menyanggupi, berbeda dengan orang tua Riana yang hidup berkecukupan, jadi biasanya jika ada kebutuhan apapun. Orang tua akulah yang selalu siap dengan masalah keuangan.

Sepulang sekolah kita pergi ke sawah dan menghias saung dengan indah, bahkan ayah Riana membuatkan kita hiasan dari bamboo, yang jika tertiup angin bisa menghasilkan suara yang nyaman.

Saat itu aku masih ingat, kita duduk di bangku kelas 5 SD. Saat itu ada murid pindahan. Yang bernama Andi Putra Wijaya, nama yang sampai sekarang masih kuingat dengan jelas. Seorang anak laki-laki yang jahil dan menyebalkan. Kala itu Guru memperkenalkan dia di depan kelas.

Ibu Guru : “ anak-anak hari ini kita kedatangan teman baru, tolong disambut dengan baik”

Andi : “ haii,, kenalin Andi dari Jakarta” dengan nada bicara datar.

Ara : “(berbicara dalam hati),, sok ganteng, perkenalan ko sombong gitu”

Riana : “Ra liat deh temen baru kita, masa perkenalan diri kaya gitu”

Ara : “ gak usah di pikirin, cuekin aja. Toh aku gak akan temenan sama dia, aku kan udah punya kamu, sahabat terbaik aku”

Riana : “yapps betul,, kita kan sabahat selamanya”.

Ibu Guru : “ Andi, kamu boleh duduk di belakang Ara dan Riana. Silahkan duduk dekat Gilang”. Guru mempersilahkan Andi duduk di sebelah Gilang, karena kebetulan, Gilang duduk sendirian di belakang.

Gilang : “Akhirnya aku punya teman sebangku” ucap Gilang dengan senang.

Kemudian Andi duduk di sebelah Gilang dan mereka mulai berkenalan.

Gilang : “salam kenal teman, aku Gilang”

Andi : “ Namaku Andi, salam kenal juga”.

Gilang : “Tinggal dimana?”

Andi : “Aku tinggal di rumah pamanku, karena Ayah dan Ibuku bekerja di Jakarta, jadi aku di titipkan di rumah paman.”

Gilang : “wahhh kamu senasib tuh sama si Ara, dia juga sering di titipkan di rumah Riana”

Ara : “heh, enak aja main sama-samain aku sama orang yang gak di kenal”

Riana : “ tidak apa-apa Ara di titipkan bersama aku, karena kita adalah sahabat yang tak terpisahkan”

Gilang : “wahhh mulai deh judesnya Ara keluar, kamu jangan dekat-dekat dengan Ara, karena Ara itu orangnya judes banget, gak mau temenan sama orang lain”. Begitulah penjelasan gilang kepada Andi pada saat pertama kali memperkenalkan aku dan Riani pada Andi.

Saat itu, aku sama sekali tidak pernah memperdulikan orang lain, aku tak pernah mau berteman dengan siapun kecuali Riana, karena sejak kecil kami terbiasa bersama-sama, jadi aku merasa tidak pernah membutuhkan teman yang lain selain Riana.

Dulu sangat jarang orang memiliki sepeda, jadi kalau berangkat ataupun pulang sekolah, kita selalu jalan kaki, kata ayah dan ibu, jalan kaki itu sehat jadi aku dan Riani selalu jalan kaki. Saat itu di gerbang sekolah tiba-tiba Andi menghentikan langkahku dan Riani, dengan gaya sok keren.

Andi ; “Ara !!!!!!!!!!” panggil Andi sambil berlari kearah kami

Ara : “(aku hanya melihat dia dengan muka datar)”

Riana : “Ada apa An ?kenapa kamu mengejar kita”.

Andi : “ Kalian pulang kearah mana ?” pertanyaan yang sangat konyol.

Riana : “Kita pulang kearah sana, memangnya kenapa?” Tanya Riana dengan senyum di wajahnya.

Andi : “ ohh berarti kita searah, ayo pulang bersama-sama” ajak Andi.

Ara : “(mulai membuka suara) ehhh enak aja main ngajak pulang bareng, kata Ayah dan mamahku, kita tidak boleh berdekatan dengan orang yang tak dikenal.” Jawabku dengan sinis dan ekpresi dingin.

Andi : “ Mangkanya, biar kenal. Kita kenalan dulu.” Jawab Andi

Ara : “gak ada kenalan-kenalan, ayo Na kita pulang” ajak Ara pada Riana tanpa memperdulikan Andi yang mengajak kenalan.

Ara dan Riana buru-buru pergi meninggalkan Andi seorang diri. Ara benar-benar anak yang tertutup. Dia hanya mau berteman dengan Riana. Beberapa hari berlalu, saat itu ada pelajaran yang mengharuskan kerja kelompok. Ara dan Riana seperti biasa berada satu kelompok, dan tenyata Gilang dan Andi juga menjadi teman sekelompok mereka.

Gilang : “Kebetulan banget tugasnya menggambar PETA dan kita punya teman yang jago gambar” seru Gilang dengan senang.

Andi : “Oh ya? Siapa memang yang jago gambar?” Tanya Andi pada Gilang.

Gilang : “itu si Ara, dia pintar gambar, dia juga yang sudah membuat sekolah kita juara 1 menggambar tingkat Kabupaten. Mangkanya walaupun galak dan judes, tapi dia itu pintar dan cerdas. Mangkanya semua guru sangat sayang sama Ara” Jawab Gilang

Andi : “serius kamu, ah jangan bercanda dehh aku gak yakin dia sepintar itu” jawab Andi yang meragukan Kepintaran Ara.

Ara : “ hehh anak baru, gak usah gak yakin gitu deh sama aku. Tuh liat piala-piala yang berjejer di kantor.” Jawab Ara dengan percaya diri.

Andi : “oke kita buktikan saja nanti, siapa di antara kita yang lebih pintar”. Tantang Andi.

Ara : “Oke !!!!!!!!!!!” jawab Ara dengan nada Tinggi.

Riana : “udah deh gak usah nantang Ara kaya gitu, semuanya juga udah pada tau kalo sahabat aku ini paling pintar. Dan kamu juga Andi, anak baru gak usah kebanyakan gaya sok nantangin Ara, nanti kalo kalah malah nangis .. hahahaha” jawab Riana.

Andi : “ tunggu aja nanti siapa yang akan dapat peringkat 1.” Tantang Andi.

Gilang : “udah deh aku yakin kalian itu pada pintar, sekarang kita mulai mengerjakan tugas saja jangan berantem terus”, jawab Gilang menengahi agar tidak ada keributan yang berkelanjutan.

Kemudian kita mulai membagikan tugas kelompok. Ara memulai mengerjakan tugas dan menggambar dengan sangat serius, dan ternyata Andi sangat kaget jika ternyata hasilnya memang sangat bagus, dan Andi mulai memperhatikan Ara dan berkata dalam hati “ternyata walaupun dia sangat judes dan tidak ramah, tapi ketika dia mengerjakan sesuatu, dia benar-benar serius.”

Pada jam Istirahat Andi memberiku sebungkus makanan dari kantin.

Andi : “nihh di makan ya ” kata Andi sambil memberikan jajanan itu kepadaku.

Ara : “ dihh gak mau, aku bisa beli sendiri.” Jawab Ara sambil melemparkan jajan itu kepada Andi.

Andi : “tinggal nerima doang susah banget.” Jawab Andi dan memberikan jajan itu kembali.

Riana : “udah-udah jangan berantem mulu, sini buat aku aja jajannya kalo Ara gak mau, aku masih mau terima ko” jawab Riana menengahi dan menghentikan pertikaian mereka.

Andi : “Lembut sedikit dong Ra kaya Riana, kalau di kasih sesuatu itu bilang makasih bukan gak mau”. Jawab Andi.

Ara : “terserah kalian” jawab Ara meninggalkan Andi dan Riana ke kantin sekolah.

Riana : “jangan ganggu Ara terus An, Ara itu sebenernya baik banget, tapi dia tidak biasa berteman dengan yang lain. Maklum dia selalu sendiri, dan hanya aku yang selalu menemaninya. Kita temenan dari kecil jadi aku ngerti banget sifat Ara.” Tutur Riana.

Andi : “ya aku heran aja, masa mau temenan aja susah banget.” Jawab Andi kesal.

Riana : “ yaudah semangat ya, nanti aku usahakan untuk membujuk Ara supaya mau berteman dengan yang lain” jawab Riana.

Andi : “makasih ya Na, kamu baik banget, pantas aja Ara maunya temenan sama kamu”.

Riana : “ia sama-sama, aku duluan ya, mau nyusul Ara, ngomong-ngomong terimakasih untuk jajannya, sering-sering ya ngasih kaya gini” jawab Riana dengan senang sambil tersenyum meninggalkan Andi.

 

Di kantin. Riana mencoba berbicara kepada Ara tentang Andi.

Riana : “Ra, kamu kenapa sih jutek terus sama Andi, kasian tau anak baru itu kamu judesin terus?” Tanya Riani.

Ara : “aduhh Na udah deh gak usah ngurusin anak itu. Lagian aku udah punya km, sahabat terbaik aku, jadi untuk apa aku harus berteman dengan yang lain, km saja sudah cukup Riana” jawab Ara.

Riana : “ ia aku tau kita sahabat baik, tapi apa salahnya kita berteman dengan yang lain.”

Ara : “ya,ya,ya terserah deh.”

Riana : “ya udah nanti coba temenan ya, nanti pulang sekolah kita ke tempat biasa yuk ? (saung)”

Ara : “bukannya kita ada PR matematika?”

Riana : “Ara kamu gak bosan belajar terus. Sudaahlah kita main saja ke sawah, kamu jangan belajar terus, nanti kelewat pintar”

Ara : “oke oke sahabatku” jawab Ara.

 

Kemudian setelah pulang sekolah, aku dan Riana pergi ke sawah dan bermain di sana, dan ternyata tanpa di sadari kita bertemu dengan Andi dan Gilang yang sedang bermain laying-layang.

Andi : “ bukannya itu Ara dan Riana Lang ?” Tanya andi.

Gilang : “ ia itu mereka, biasanya mereka memang bermain disana. Itu sawah milik keluarga Riana dan kelihatannya Ara sanagt suka bermain disana, karena di rumahnya dia kesepian. Ayah dan mamahnya Ara jarang terlihat di rumah mereka sibuk bekerja jadi Ara sering di titipkan kepada ibunya Riana” jawab Gilang.

Andi : “(berbicara dalam hati) jadi ternyata kamu seperti aku Ra, di tinggal kerja oleh orang tua kita”.

Andi : “Apakah Ara selalu tersenyum manis seperti itu jika bersama Riana? Ko di sekolah dia sangat jutek? Aku gak pernah melihat dia sesenang itu?” Tanya Andi

Gilang : “heyyy ada apa ini, kenapa kamu memperhatikan Ara? Aku dengar katanya kamu juga memberikan jajan kepada Ara?”

Andi : “ Ara tidak mau menerimanya, aku hanya penasaran saja, karena dari semua teman di kelas, hanya dia yang tak ingin berteman denganku”

Gilang : “jangankan km An yang baru kenal, Aku saja yang sudah kenal dari dulu, tak berani berteman dengan Ara, dia itu sulit di dekati.”

 

Dari saung Riana dan Ara memperhatikan kedua anak kelaki itu.

Riana : “heii kalian sedang apa? Mainlah kesini”

Ara : “Na kenapa kamu malah memanggil mereka”

Riana : “gak papa Ra, mereka kan teman kita juga”. Kemudian Gilang dan Andi menghampiri Ara dan Riana.

Andi : “layanganku bagus kan Ra”

Ara : “lumayan” jawab ara dengan singkat.

Andi ; “aku buat sendiri lo”

Ara : “gak nanya” jawab ara dengan ketus.

Andi : “mau aku buatkan gak Ra?”

Ara : “aku gak main layangan”

Andi : “ nanti aku ajarin deh ”

Ara : “gak mau”

Andi : “susah ya ngomong sama orang jutek … ”

Ara : “terserah”

Begitulah percakapanku dengan Andi tak pernah ada tawa diantara kita. Meski sebenarnya aku sendiri mau berteman dengan dia namun rasanya aneh sekali berteman dengan laki-laki, maka sebab itu, sedikit-sedikit aku mau berbicata dengan dia, walaupun masih aku jawab seperlunya. Kala itu aku tak menyangka bahwa dia benar-benar membuatkan aku layangan yang sangat indah, ternyata di pintar merakit layangan. Dia mengantarkannya kerumahku, entah dari mana dia tau rumahku.

Andi : “Assalamuaikum, Ara..Ara..Ara”

Ara : “Waalaikumsalam,Siapa ya” jawab ara dari balik pintu.

Andi : “Ini aku Andi”

Ara : “ngapain kamu dating ke rumahku, dan apa ini?”

Andi : “ini janjiku padamu Ra, kubuatkan layangan untukmu.”

Ara : “tapi aku gak minta”

Andi : “sudah ambil saja, aku pergi, assalamulaikum..” Andi pergi begitu saja. Meninggalkan layangan buatannya di rumahku. Aku sendiri bingung, dari mana dia tau rumahku dan kenapa dia membuatkan layangan untukku, aku kan tak bisa bermain layangan, dasar anak yang aneh.

Keesokan harinya tiba-tiba ada susu kotak dibawah mejaku, dengan tulisan “selamat sarapan Ara” .. orang yang aneh, meninggalkan barang di mejaku seenaknya. Lalu aku berikan saja kepada Riana, tanpa banyak bertanya, Riana menerima saja pemberian dariku.

Lalu pas jam istirahat Andi memberiku jajanan lagi.

Ara : “aku sudah bilang, aku bisa beli sendiri. Jangan kamu memberiku jajan terus, simpan saja uang jajanmu. Aku punya uang sendiri untuk jajan.” Jawabku dengan tegas.

Andi : “hari ini kamu berbicara lebih banyak dari biasanya Ara, Aku senang mendengarnya”

Ara : “laki-laki aneh” jawabku “menyebalkan, kenapa dia selalu menggangguku dan membautku kesal” batinku

Waktu pulang sekolah aku dan Riana pulang bersama bejalan kaki, saat itu banyak jalan yang sedang di perbaiki, dan jalanan di penuhi batu-batu kerikil aspal, dan anehnya Andi yang berjalan di belakangku dia menendang-nendang batu kerikil itu ke arahku.

Ara : “ihh iseng banget sih, sakit tau” jawabku dengan kesal.

Andi : “kalau gak kena kamu, nanti kamu gak nengok kebelakang” jawab Andi

Ara : “dasar jahil, menyebalkan.”

Andi : “tapi aku senang melakukannya, aku senang bisa melihatmu nengok ke belakang.”

Ara : “dasar teman yang aneh”

Riana ; “sudahlah Ara biarkan dia, kita jalan dengan cepat saja.” Hibur Riana.

Saat sampai di rumah seperti biasa rumahku sepi tanpa ada seorang pun di rumah, rasanya bosan dan aku memutuskan untuk belajar saja. Sambil menunggu  waktu agar cepat berlalu, tiba-tiba saja, Riana dating kerumah untuk mengajakku berenang.

Riana : “Ara ayo kita berenang” rayu riana

Ara : “ jalannya jauh Na, aku capek mau belajar aja”

Riani : “Ara, kalau cape ya kita main bukan belajar, bosan aku melihatmu belajar terus, sudah cepat km bawa baju ganti. Aku tunggu kamu dekat jalan ke rumahku. Sekarang !” perintah Riani. Ara pun mau menuruti keinginan sahabatnya itu. Dan ketika sampai di jalan, alangkah kagetnya aku ternyata teman-teman sekelas yang lain ikut juga termasuk Andi, di tambah Andi memberhentikan mobil box dan meminta bantuan untuk mengantarkan kita ke tempat renang, alangkah terkejutnya aku Karena aku tak pernah menaiki mobil seperti itu. Rasanya membuat jantung berdebar karena angina yang terasa sangat kencang dan mebuat badan terasa ingin ikut terbang, sekitar 30 menit, kamipun sampai di tempat tujuan.

Langsung saja kami berenang dan aku baru mengetahui ternyata Andi sangat pintar berenang, dia bahkan berani berenang di kedalaman 5m.

Riana : “Ara lihatlah Andi jago sekali berenang”.

Ara : “ mungkin dia tering berenang”

Namun tiba-tiba, Andi menginjak pecahan keramik dan kakinya terluka lumayan cukup mengeluarkan banyak darah, untung saja kebiasaanku untuk membawa kotak obat selalu siaga, saat itu entah kenapa aku langsung berlari menghampiri Andi dan langsung mengobati kakinya yang terluka, aku tak tau entah berapa kali mata kami saling betemu, entah aku atau dia duluan yang menatap, akan tetapi aku sadar bahwa mata kami saling bertemu terus. Setelah selai mengobati lukanya. Aku memberikan dia air minum. Dan kami memutuskan untuk tidak meneruskan berenang, kami langsung pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya, Andi tidak masuk sekolah, kata Gilang, badannya panas. Dan harus beristirahat. Sekitar 3 hari dia tidak masuk. Saat itu aku pun merasa aneh, oaring yang biasanya menggangu dan menjahiliku tak masuk sekolah rasanya sepi. Anehnya seharusnya aku merasa nyaman katena tak ada yang menggangu, tapi aku malah mengkhawatirkan dia, sungguh perasaan yang aneh.

Bebrapa hari kemudian saat di perjalanan menuju sekolah tiba-tiba dari arah belakang ada yang memanggil namaku.

Andi : “Apa kabar Ara?”

Ara : “Suara yang tak asing”

Riana : “Andi apakah kamu sudah sembuh?”

Andi : “Alhamdulillah”

Riana : “Syukurlah Alhamdulillah”.

Sesampainya di kelas aku melihat ada sepotong roti dengan bertuliskan, “Terimakasih banyak Ara, kamu sudah menyelamatkanku. Tolong dimakan pemberianku, jangan di berikan ke yang lain, aku membelinya khusus untukmu. By. A.” orang yang aneh. Pake kirim surat berinisial A, padahal sudah jelas itu dari dia, anehnya aku merasa senang saat memakan roti itu, dan entah mungkin ini hanya perasaanku saja. Aku bisa melihat bahwa dari kejauhan Andi menatapku yang sedang makan roti pemberiannya. Dan beberapa hari kemudian sekolah sudah mulai melaksanakan penilaian semester. Ternyata aku masih saja berada di urutan pertama, sedangakan Andi berada di urutan ke 3.

Riana : “sahabatku kamu emang yang terbaik. Tak pernah mengecewakan”.

Ara : “ tidak usah heboh gitu Na, udah biasa juga kan”

Andi : “selamat ya Ra, kamu dapat juara 1 terus, aku ikut senang”

Ara : “ ya sudah pasti kalau aku juara 1 terus.”

Andi : “maaf Karena aku pernah meragukan kemampuanmu”

Ara : “Its Oke”.

Gilang : “Artinya Andi ngaku kalah nih dari Ara, sudahlah teman, sudahku bilang kamu takaakan pernah bisa mengalahkan Ara, dia selalu belajar setiap waktu tak seperti kita yang hobi bermain.”

Ara : “sudahlah untuk apa Juara 1 terus, kerena yang ngambil rapot pastinya Ibu Riana bukan mamahku”

Gilang : “selalu saja orang tuamu seperti itu”

Andi : “Gilang ko kamu tau semua tentang Ara?” curiga

Gilang : “ya jelas tahu, ayah Ara itu adalah Kakak ayahku, jadi kami adalah sepupu. Tapi Ara tak mau mengakuiku sebagai sudaranya.”

Setelah mengakui kekalahannya Andi mencoba berbicara kepada Ara, Andi mengajak Ara untuk ngobrol.

Andi : “Ara, selamat untuk juara 1, kamu memang hebat, sebetulkan aku sudah tahu pasti km yang jadi juara, tapi aku berbicara seperti itu supaya aku bisa berbicara dengan kamu Ra”

Ara : “ya Terimakasih”

Andi : “ ini pertama kalinya kamu mengucapkan teerima kasih, Ara boleh aku berbicara”

Ara : “ya tinggal bicara”

Andi : “aku merasa mungkin kamu adalah satu-satunya teman yang paling mengerti aku, karena kamu dan aku sama-sama di tinggal kerja oleh orang tua kita. Mangkanya aku sangat ingin berteman dengamu, tapi kamu selalu menolak dan sulit di dekati”

Ara : “aku mengerti yang kamu katakana, tapi tak mudah untukku berteman dengan orang lain, aku hanya senang berteman dengan Riana.”

Andi : “Bolehkah aku lebih dekat lagi denganmu Ra”

Ara : “ kamu teman yang aneh. Meminta menjadi teman, sekarang minta lagi lebih dekat. Aku pergi” jawabku pergi begitu saja meninggalkan Andi, Karena sebenarnya aku tak mengerti mengapa perasaanku menjadi aneh, jantungku berdebar sangat kencang, aku terlalu takut dan aku memilih untuk pergi.

Namun anehnya setelah pembicaraan itu dengan Andi, rasanya aneh. Aku menjadi sering teringat dia, aku menjadi sering memandangi dia, bahkan aku sering memperhatiak dia dari kejauhan, dan itu membuat hatiku tak menentu, aku tak mengerti mengepa aku menjedi seperti itu.Aku akan menceritakannya kepada Riana agar hatiku sedikt lega, namun ketika aku akan mencaritakannya tiba-tiba Riana berbicara.

Riana : “Ara, aku menyukai Andi”

Ara : “Andi?”

Riana : “ya, dia adalah laki-laki yang baik Ra”

Ara : “ya”

Riana : “bagaimana menurutmu”

Ara : “kita masih terlalu kecil na untuk memikirkan itu, apa sebaiknya kita focus belajar saja”

Riana : “Ara, justru itulah yang membuatku semangat sekolah, karena ada dia”

Ara : “aku tak mengerti Na, tapi aku akan selalu mendukungmu” ucapku dan aku memutuskan membuang semua pikiranku tentang Andi karena aku tak akan mempertimbangkan antara Cinta dan persahabatan, jelas aku memilih untuk mendukung sahabatku. Kubuang pikiranku tentang dia, meski aku sendiri tak mengerti mengapa aku memiliki rasa seperti itu.

Riana : “Ara bertemanlah dengan Andi agar dia selalu dengat dengan kita”

Ara : “bukankah kita sudah berteman dengan dia”

Riana : “sering-seringlah mengajak dia bermain bersama kita”

Ara : “akan ku usahakan” dan ketika di sekolah Andi mengajakku berbicara

Andi : “Ara bagaimana sekarang perasaanmu”

Ara : “aku tak merasakan apapun An, apa km tak memikirkan Riana?”

Andi : “untuk apa aku memikirkan Riana”

Ara : “dia sahabatku, aku tak ingin melukainya. Cobalah untuk mendekatinya, jangan aku”

Andi : “bagaimana bisa kau menyuruhku untuk menyukai orang lain sedangkan aku menyukaimu”

Ara : “aku tak mengerti An, kita masih terlalu muda untuk merasakan hal seperti itu”

Andi : “jika kamu tak suka tak masalah, tapi jangan memaksaku untuk menyukai yang lain”

 

Ketika itu aku hanya bisa menangis, aku benar-benar merasa bersalah akan tetapi aku sangat menyayangi sahabatku. Jadi aku memilih untuk melepaskan perasaanku itu.. hingga kita lulus. Saat itu Andi masih saja sering memberiku makanan atau minuman, namun aku tak pernah mejawab pertanyaan dia, mungkin bisa di bilang aku menghindarinya. Entah sahabatku Riana sadar atau tidak akan tetapi setelah kejadian itu, Riana tak pernah membahas tentang Andi lagi.

 

Rabu, 30 November 2022

POST TEST MODUL EVALUASI PROJEK

 Soal 1

SMA Bintang Juara telah selesai belajar projek. Bagaimana tindak lanjut evaluasi dan keberlanjutan projek yang dapat dilakukan?
A

Mengajak mitra luar untuk kerjasama meneruskan projek yang sudah dilakukan oleh para murid


Soal 2

Berikut adalah prinsip evaluasi projek kecuali..
D

Tidak melibatkan murid dalam evaluasi


Soal 3

Kapankah saat yang tepat untuk melakukan refleksi
D

Semua benar


POST TEST MODUL DOKUMENTASI PROJEK

 Soal 1

Bagaimana pemilihan hasil karya untuk dimasukkan dalam portofolio murid?
B

Murid yang memilih sendiri hasil karyanya yang dimasukkan ke dalam portofolionya


Soal 2

Berikut adalah contoh penulisan catatan proses dalam rapor projek murid. Contoh penulisan yang tepat adalah... 0
B

Randy dapat terus berkontribusi untuk menyumbangkan ide-idenya dengan dukungan guru dan teman-teman


Soal 3

Sebagai guru, kita dapat membuat catatan untuk merekam proses pembelajaran projek murid secara berkelanjutan. Catatan ini dinamakan ...
C

Jurnal pendidik