BABI
PENDAHULUAN
-
Latar Belakang
Pendidikan adalah salah
satu faktor terpenting dalam usaha pembangunan yang dilakukan oleh sebuah
negara. Sejarah mencatat bahwa negara yang memiliki pola pengembangan
pendidikan yang baik disertai dengan perhatian yang tinggi pada dunia
pendidikannya, negara tersebut akan mengalami kemajuan yang lebih tinggi dan
lebih pesat dibandingkan dengan negara lain yang menomorduakan atau menomor
sekiankan masalah pendidikan.
Namun, perhatian yang
besar saja tidaklah cukup. Para praktisi dan akademisi harus berupaya keras
untuk melakukan inovasi tiada henti dalam mengelola dan mengembangkan
pendidikan. Inivasi tersebut harus didasarkan pada tujuan guna meningkatkan
kualitas pendidikan, yang pada akhirnya bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa dan membentuk insan cerdas kompetitif dan bermartabat.
Secara umum, inovasi
didefinisikan sebagai suatu ide, praktek atau obyek yang dianggap sebagai
sesuatu yang baru oleh seorang individu atau satu unit adopsi lain. Thompson
dan Eveland (1967) mendefinisikan inovasi sama dengan teknologi, yaitu suatu
desain yang digunakan untuk tindakan instrumental dalam rangka mengurangi
ketidak teraturan suatu hubungan sebab akibat dalam mencapai suatu tujuan
tertentu. Jadi, inovasi dapat dipandang sebagai suatu upaya untuk mencapai
tujuan tertentu.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa saja karakteristik inovasi pendidikan itu ?
2.
Faktor-faktor yang dijadikan pertimbangan pihak adopter (pengguna
inovasi)?
C. Tujuan
Makalah
Berdasarkan dari
paparan latar belakang diatas, maka dalam penyusunan makalah ini bertujuan
untuk mengetahui apa itu karakteristik inovasi pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
-
Pengertian
Karakteristik
Inovasi Pendidikan
Secara umum,
Karakteristik Inovasi Pendidikan dapat diartikan berdasarkan kata Karakteristik
dan Inovasi Pendidikan. Karakteristik adalah ciri khas atau bentuk-bentuk watak
atau karakter yang dimiliki oleh setiap individu, corak tingkah laku, tanda
khusus.
Inovasi pendidikan ialah
suatu ide, barang, metode yang di rasakan atau di amati sebagai hal yang baru
bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil invensi
atau discovery yang di gunakan untuk mencapai tujuan pendidikan untuk
memecahkan masalah pendidikan.
Berdasarkan pengertian
diatas, karakteristik inovasi pendidikan bisa diartikan sebagai ciri-ciri atau
karakter yang dimilki oleh suatu ide, barang, metode yang di rasakan atau di
amati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat)
baik berupa hasil invensi atau discovery yang di gunakan untuk mencapai tujuan
pendidikan untuk memecahkan masalah pendidikan.
-
Faktor-faktor yang dijadikan
pertimbangan pihak adopter (pengguna inovasi) dalam membuat keputusan untuk
menerima atau menolak produk suatu inovasi jika dikaitkan dengan
pemikiran.
Everett M. Rogers (1983) dalam
diffusion of innovasion dipengaruhi oleh 5 (lima) karakteristik inovasi yaitu
1. Keuntungan
relatif, yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya.
Tingkat keuntungan atau kemanfaatan suatu inovasi dapat diukur berdasarkan
nilai ekonominya, atau mungkin dari faktor status social (gengsi), kesenangan,
kepuasan, atau karena mempunyai komponen yang sangat penting. Makin
menguntungkan bagi penerima makin cepat tersebarnya inovasi.
2. Kompatibel
(compatibility) ialah tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai (values),
pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima. Inovasi yang tidak sesuai dengan
nilai atau norma yang diyakini oleh penerima tidak akan diterima secepat
inovasi yang sesuai dengan norma yang ada. Misalnya : penyebarluasan
penggunaan alat kontrasepsi di masyarakat yang keyakinan agamanya melarang
penggunaan alat tersebut, maka tentu saja penyebar inovasi akan terhambat.
3. Kompleksitas
(complexity) ialah tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan
inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang mudah dimengerti dan mudah digunakan
oleh penerima akan cepat tersebar, sedangkan inovasi yang sukar dimengerti atau
sukar digunakan oleh penerima akan lambat proses penyebarannya. Misalnya
masyarakat pedesaan yang tidak mengetahui tentang teori penyebaran bibit
penyakit melalui kuman, diberitahu oleh penyuluh kesehatan agar membiasakan
memasak air yang akan diminum, karena air yang tidak dimasak jika diminum dapat
menyebabkan sakit perut. Tentu saja ajakan itu sukar diterima. Makin mudah
dimengerti suatu inovasi akan makin cepat diterima oleh masyarakat.
4. Trialabilitas
(trialability) ialah dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh
penerima. Suatu inovasi yantg dicoba akan cepat diterima oleh masyarakat
daripada inovasi yang tidak dapat dicoba lebih dulu. Misalnya penyebarluasan
penggunaan bibit unggul padi gogo akan cepat diterima oleh masyarakat
jika masyarakat dapat mencoba dulu menanam dan dapat melihat hasilnya.
5. Dapat
diamati (observability) ialah mudah tidaknya diamati suatu hasil inovasi.
Suatu inovasi yang hasilnya mudah diamati akan makin cepat diterima oleh
masyarakat, dan sebaliknya inovasi yang sukar diamati hasilnya, akan lama
diterima oleh masyarakat. Misalnya penyebarluasan penggunaan bibit unggul padi,
karena petani dapat dengan mudah melihat hasil padi yang menggunakan bibit
unggul tersebut, maka mudah untuk memutuskan mau menggunakan bibit unggul yang
diperkenalkan. Tetapi mengajak petani yang buta huruf untuk mau belajar membaca
dan menulis tidak dapat segera dibuktikan karena para petani sukar untuk
melihat hasil yang nyata menguntungkan setelah orang tidak buta huruf lagi.
Dengan kemampuan untuk
diamati akan mendorong adopter untuk memberikan penilaian apakah inovasi
itu mampu meningkatkan status sosial
mereka di depan orang lain sehingga dirinya akan dianggap sebagai orang yang
inovatif.
Seorang inovator pendidikan harus
mengetahui dan memahami karakteristik inovasi pendidikan agar tidak sia-sia
dalam pelaksanaannya. Di saat kita membuat inovasi, kita harus yakin dulu
apakah inovasi tersebut efisien, dapat diuji, dapat diamati, pasti dan
bermanfaat atau tidak. Jika tidak memenuhi ke lima kriteria di ats, hendaknya
kita berfikir seribu kali untuk memperkenalkan produk inovasi kita kepada publik.
Zaltman, Duncan, dan Holbek
mengemukakan bahwa cepat lambatnya penerimaan inovasi dipengaruhi oleh atribut
sendiri. Suatu inovasi dapat merupakan kombinasi dari berbagai macam atribut
(Zaltman, 1973: 32-50). Untuk memperjelas kaitan antara inovasi dengan cepat
lambatnya proses penerimaan (adopsi), maka kita lihat secara singkat atribut
inovasi yang dikemukakan Zaltman, sebagai berikut:
1.
Pembiayaan (cost), cepat lambatnya penerimaan inovasi dipengaruhi oleh pembiayaan, baik
pembiayaan pada awal (penggunaan) maupun pembiayaan untuk pembinaan
selanjutnya. Walaupun diketahui pula bahwa biasanya tingginya pembiayaan ada
kaitannya dengan kualitas inovasi itu sendiri. Misalnya penggunaan modul di
sekolah dasar. Ditinjau dari pengembangan pribadi anak, kemandirian dalam usaha
(belajar) mempunyai nilai positif, tetapi karena pembiayaan mahal maka akhirnya
tidak dapat disebarluaskan.
2.
Balik modal (returns to investment), atribut ini hanya ada dalam inovasi di bidang perusahaan
atau industri. Artinya suatu inovasi akan dapat dilaksanakan kalau hasilnya
dapat dilihat sesuai dengan modal yang telah dikeluarkan (perusahaan tidak
merugi). Untuk bidang pendidikan atribut ini sukar dipertimbangkan karena hasil
pendidikan tidak dapat diketahui dengan nyata dalam waktu relatif singkat.
3.
Efisiensi, inovasi
akan cepat diterima jika ternyata pelaksanaan dapat menghemat waktu dan juga
terhindar dari berbagai masalah/hambatan.
4.
Resiko dari ketidakpastian, inovasi akan cepat diterima jika mengandung resiko yang
sekecil-kecilnya bagi penerima inovasi.
5.
Mudah dikomunikasikan, Inovasi akan cepat diterima bila isinya mudah dikomunikasikan dan mudah
diterima klien.
6.
Kompatibilitas,
cepat lambatnya penerimaan inovasi tergantung dari kesesuainnya dengan
nilai-nilai (value) warga masyarakat.
7.
Kompleksitas, inovasi
yang dapat mudah digunakan oleh penerima akan cepat tersebar dengan cepat
8.
Status ilmiah, Suatu
inovasi yang mudah dimengerti dan mudah digunakan oleh penerima akan cepat
tersebar, sedangkan inovasi yang sukar dimengerti atau sukar digunakan oleh
penerima akan lambat proses penyebarannya
9.
Kadar keaslian, warga masyarakat dapat cepat menerima inovasi apabila dirasakan itu hal
yang baru bagi mereka
10. Dapat dilihat kemanfaatannya, suatu inovasi yang hasilnya mudah
diamati akan makin cepat diterima oleh masyarakat, dan sebaliknya inovasi yang
sukar diamati hasilnya, akan lama diterima oleh masyarakat
11. Dapat dilihat batas sebelumnya, suatu inovasi akan makin cepat
diterima oleh masyarakat apabila dapat dilihat batas sebelumnya.
12. Keterlibatan sasaran perubahan, inovasi dapat mudah diterima
apabila waraga masyarakat dikutsertakan dalam setiap proses yang dijalani.
13. Hubungan interpesonal. Maka jika hubungan interpersonal
baik, dapat mempengaruhi temannya untuk menerima inovasi. Dengan hubungan yang
baik maka orang yang menentang akan menjadi bersikap lunak, orang simpati akan
menjadi tertarik dan orang yang tertarik akan menerima inovasi.
14. Kepentingan umum atau pribadi
(publicness versus privateness). Inovasi yang bermanfaat untuk kepentingan umum akan lebih cepat
diterima daripada inovasi yang ditujukan pada kepentingan sekelompok orang
saja.
15. Penyuluh inovasi (gatekeepers). Untuk melancarkan hubungan dalam
usaha mengenalkan suatu inovasi kepada organisasi sampai organisasi mau
menerima inovasi, diperlukan sejumlah orang yang diangkat menjadi penyuluh
inovasi. Misalnya untuk pelaksanaan program KB, maka diperlukan orang-orang
yang bertugas mendatangi warga masyarakat untuk menjelaskan perlunya
melaksanakan program KB. Tersedianya penyuluh inovasi akan mempengaruhi
kecepatan penerimaan inovasi.
Demikian
berbagai macam atribut inovasi yang dapat mempengaruhi cepat atau lambatnya
penerimaan suatu inovasi. Dengan memahami atribut tersebut para pendidik dapat
menganalisa inovasi pendidikan yang sedang disebarluaskan, sehingga dapat
memanfaatkan hasil analisisnya untuk membantu mempercepat proses penerimaan
inovasi.
BAB III
PENUTUP
-
Kesimpulan
1. Seorang inovator pendidikan harus mengetahui dan memahami
karakteristik inovasi pendidikan agar tidak sia-sia dalam pelaksanaannya. Di
saat kita membuat inovasi, kita harus yakin dulu apakah inovasi tersebut
efisien, dapat diuji, dapat diamati, pasti dan bermanfaat atau tidak. Jika
tidak memenuhi ke lima kriteria di ats, hendaknya kita berfikir seribu kali
untuk memperkenalkan produk inovasi kita kepada publik.
2. Menurut Everett M. Rogers (1983) 5 (lima) karakteristik inovasi
yaitu :
· Relative advantage (Keunggulan
relatif)
· Compatibility
(Kompatibilitas/Konsisten)
· Complexit (Kompleksitas/kerumitan)
· Trialability (Kemampuan untuk dapat
diuji)
· Observability (Kemampuan untuk
dapat diamati)
3. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa semakin besar
keunggulan relative, konsisten (complexity), kesesuaian (compatibility),
kemampuan untuk diuji cobakan dan kemampuan untuk diamati serta semakin kecil
kerumitannya, maka semakin cepat kemungkinan inovasi tersebut dapat diadopsi.
Namun untuk lebih yakin akan keberhasilan inovasi yang kita ciptakan, kita
harus terlebih dahulu memperhatikan faktor-faktor utama dalam pendidikan yakni
guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, dan program dan tujuan.
B. Saran
Kami sangat
mengetahui bahwa makalah yang kami susun masih banyak kekurangan untuk itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca dan kami harap semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama kami penyusun.
DAFTAR PUSTAKA
Soekanto, Soejono (1990).
Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : Rajawali Pers.
Syaefudin Sa’ud, Udin
(2012). Inovasi Pendidikan, Bandung: Alfabeta
Dengan disusunnya makalah ini semoga bermanfaat bagi kita semua dan semoga tidak disalah gunakan oleh pembaca. Saya persilahkan untuk yang ingin mempost ulang atau menggunakan makalah ini sebagai bahan acuan atau referensi dengan ketentuan harus mencantumkan nama link dari blog ini, untuk menghindari PLAGIAT. semoga bermanfaat :)
http://unida.ac.id/
http://unida.ac.id/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar