BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Inti
pelaksanaan pendidikan di sekolah adalah kegitan belajar pembelajaraan. Pendidikan
berfungsi meningkatkan kemampuan dan potensi salah satu bentuk pengembangan
pendidikan di sekolah adalah terlaksana proses belajar pembelajaran. Keberhasilan
proses pembelajaran bisa dilihat dari seorang guru dalam melaksanakan
pendidikan ada kegiatan proses belajar dan dapat menjadikan siswa yang menjadi
pribadi yang utuh dan madiri. Oleh karana itu, seorang guru dapat dikataan
berhasil apabila ia selalu memperhatikan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan
kurikulum.
Di
dalam pembelajaran menulis banyak guru dan siswa yang beranggapan bahwa menulis
itu merupakan keterampilan berbahasa yang paling sulit. karena banyak unsur yang
terlibat di dalamnya, seperti unsur kebahasaan, isi (pesan yang akan
disampaikan) dan ragam tulisan yang akan dibuat. Sebagai akibat dari anggapan
ini, pembelajaran materi menulis sering dihindari untuk diajarkan dengan
berbagai alasan.
Padahal
kemampuan menulis sangat penting untuk dikuasai peserta didik karena pada
hakikatnya menulis merupakan sarana untuk menuangkan gagasan, pendapat,
perasaan, keinginan, serta informasi ke dalam tulisan dan kemudian
menginformasikannya kepada orang lain. Keterampilan ini pun merupakan salah
satu kegiatan yang kompleks karena penulis tidak hanya dituntut untuk dapat
menyusun dan mengorganisasikan isi tulisannya tetapi harus mampu pula
menuangkan gagasannya dalam bentuk
bahasa tulis yang mudah dipahami pembaca. Selain itu, penulis harus mengikuti
konvensi penulisan lainnya.
Untuk
menjalankan atau melakuan pembelajaran menulis. Seorang guru perlu memilih dan
menetukan model pemebelajaran yang mampu mengaitkan antara materi yang akan di
ajarkan dengan sikologis anak. Hal tersebut sejalan atau senada dengan pendapat
Aqib (2014-01) pembelajaran dengan menggunakan kosep pembelajaran akan membantu
guru dalam mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapan kehidupan.
B.
Rumusan
Masalah
1. Jelaskan
apa yang dimaksud dengan pengertian menulis ?
2. Jelaskan
apa saja tujuan pembelajaran menulis?
3. Jelaskan
apa yang dimaksud dengan konsep dasar menulis ?
4. Faktor-faktor
apa saja yang memperngaruhi menulis?
5. Metode
apa saja yang terdapat dalam pembelajaran menulis ?
6. Prosedur
apa saja yang terdapat dalam pembelajaran menulis ?
7. Apa
itu Meaningful Intruction Design ?
8. Bagaimana
model pempelajaran menulis berbasis MID ?
C.
Tujuan
Masalah
1. Untuk
mengetahui pengertian pembelajaran menulis
2. Untuk
mengetahui tujuan pembelajaran menulis
3. Untuk
mengetahui konsep dasar pembelajaran menulis
4. Untuk
mengetahui faktor-faktor pembelajaran menulis
5. Untuk
mengetahui metode pembelajaran menulis
6. Untuk
mengetahui metode pembelajaran menulis
7. Untuk
mengetahui Meaningful Intruction Desgin
8. Untuk
mengetahui model pembelajaran menulis berbasis MID
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Menulis
Menurut
Lado (via Tarigan, 2008: 22) menulis ialah menurunkan atau melukiskan
lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh
seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut
kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. Penurunan lambang-lambang
membutuhkan suatu keterampilan, tidak semua orang mampu melakukan hal tersebut.
Semakin sering mengasah keterampilan menulis maka semakin baik hasil tulisan
kita.
Lain
seperti yang dikemukakan oleh Logan (via Tarigan, 2008: 9) menulis, seperti
juga halnya kegiatan keterampilan berbahasa lainnya, merupakan suatu proses
perkembangan. Menulis menuntut pengalaman, waktu, kesempatan, pelatihan,
keterampilan-keterampilan khusus, dan pengajaran langsung menjadi seorang
penulis. Kegiatan menulis juga menuntut gagasan-gagasan yang tersusun secara
logis, diekspresikan dengan jelas, dan ditata secara menarik. Menulis bukan hal
yang mudah, oleh karena itu menulis menuntut latihan yang rutin dan berkala.
Keterampilan menulis yang dikembangkan secara terus menurus akan mendapatkan hasil
tulisan yang baik walapun harus melalui proses yang lama.[1]
Menurut
Hairston (via Darmadi, 1996: 3) kegiatan menulis adalah satu sarana untuk
menemukan sesuatu. Dalam hal ini dengan menulis kita dapat merangsang pemikiran
kita dan jika itu dilakukan dengan intensif maka akan dapat membuka penyumbat
otak kita dalam rangka mengangkat ide dan informasi yang ada di alam bawah
sadar pemikiran kita. Kegiatan menulis membutuhkan ide-ide yang nantinya akan
dituangkan kedalam sebuah tulisan. Mencari ide lalu menuangkan dalam tulisan
bukan hal yang mudah, oleh sebab itu tidak banyak seseorang yang berhasil
menuangkan idenya ke dalam sebuah tulisan.[2]
Hal
tersebut di ungkap Alwasilah (200-7: 43) menulis adalah sebuah kemampuan,
kemahiran dan kepiawaian seorang menyampaikan gagasanya kedalam sebuah wacana
agar dapat diterima oleh pembaca yang heterogen baik secara intelektual maupun
sosial. Itu artinya bahwa semua gagasan bisa kita tuangkan dalam sebuah
tulisan.
Banyak
orang yang mengalami kesulitan dalam menuangkan gagasannya kedalam tulisan
karna itu disebabkan oleh banyak hal salah satunya sistem pendidikan kita lebih
mengutamakan pengetahuan dibandingkan keterampilan yang didalamnya termasuk
kedalam keterampilan menulis, sehingga budaya tulis di Indonesia sangat kurang.
Keterampilan menulis itu tidak datang dengan secara intasan tetapi harus
melakuan proses. Tarigan ( 2008:3 ) berpendapat, keterampilan menulis tidak
akan datang secara otomatis. Tetapi, harus melalui latihan dan praktik yang
banyak dan teratur.
B.
Tujuan
Pembelajaran Menulis
Tujuan
menulis bervariasi, setiap orang menulis dengan tujuan masing-masing definisi
tentang tujuan menulis salah satunya yaitu menurut Tarigan (2008: 24) yaitu
memberitahukan atau mengajar, meyakinkan atau mendesak, menghibur atau
menyenangkan, dan mengutarakan/mengekspresikan perasaan dan emosi yang berapi-api.
Sedangkan tujuan menulis menurut Peck dan Schulz (via Tarigan, 2008: 9) sebagai
berikut.
1. Membantu
para siswa memahami bagaimana caranya ekspresi tulis dapat melayani mereka,
dengan jalan menciptakan situasi-situasi di dalam kelas yang jelas memerlukan karya
tulis dan kegiatan menulis
2. Mendorong
para siswa mengekspresikan diri mereka secara bebas dalam tulisan
3. Mengajar
para siswa menggunakan bentuk yang tepat dan serasi dalam ekspresi tulis.
Berdasarkan
beberapa definisi yang telah diuraikan di atas dapat dikemukakan bahwa
keterampilan menulis yaitu suatu keterampilan menurunkan ide, gagasan, dan
pengalaman ke dalam sebuah tulisan yang disusun secara logis, jelas, dan menarik.
C.
Konsep Dasar Pembelajaran Menulis
Menulis merupakan kegiatan
kebahasaan yang memegang peran penting dalam dinamika peradaban manusia. Dengan
menulis seseorang dapat melakukan komunikasi, mengemukakan pendapat baik dari
dalam maupun dari luar dirinya serta mampu memperkaya pengalamannya. Melalui
kegiatan menulis pula sesorang dapat mengambil manfaat bagi perkembangan
dirinya.
Keterampilan menulis merupakan
urutan yang paling terakhir dalam proses belajar bahasa setelah keterampilan
menyimak, berbicara dan membaca. Di antara ke empat keterampilan tersebut, yang
paling sulit untuk dikuasai adalah keterampilan menulis. Hal itu disebabkan
karena keterampilan menulis menghendaki penguasaan berbagai unsur kebahasaan
dan di luar bahasa itu sendiri yang akan menjadi isi karangan. Latihan
mengarang dan menulis dalam pengajaran Bahasa Indonesia dapat membiasakan siswa
untuk menerapkan pengetahuan kebahasaan, seperti: tata bahasa, gaya bahasa,
ejaan yang benar dan tepat, dan lain sebagainya.
Menulis merupakan suatu proses
berfikir dan proses yang dialami serta dilakukan oleh sesorang yang
dipergunakan untuk menyampaikan gagasan, pesan dan juga informasi dengan melalui media kata-kata atau
bahasa dan juga melalui tulisan sehingga dapat dipahami oleh pembaca. Suatu
tulisan pada dasarnya terdiri atas dua hal. Pertama, isi suatu tulisan
menyampaikan sesuatu yang ingin diungkapkan penulisnya. Kedua, bentuk tulisan
yang merupakan unsur mekanik karangan seperti ejaan, kata, kalimat dan alenia.
D. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi
Menulis
Banyak
faktor yang mempengaruhi kemampuan menulis. Namun, pada prinsipnya dapat
dikategorikan dalam dua faktor yakni faktor eksternal dan faktor internal.
Faktor eksternal di antaranya belum tersedia fasilitas pendukung, berupa
keterbatasan sarana untuk menulis. Faktor internal mencakup faktor psikologis
dan faktor teknis. Yang tergolong faktor psikologis di antaranya Faktor
kebiasaan atau pengalaman yang dimiliki. Semakin terbiasa menulis maka
kemampuan dan kualitas tulisan akan semakin baik. Faktor lain yang tergolong
faktor psikologis adalah faktor kebutuhan. Faktor kebutuhan kadang akan memaksa
seseorang untuk menulis. Seseorang akan mencoba dan terus mencoba untuk menulis
karena didorong oleh kebutuhannya.
Faktor
teknis meliputi penguasaan akan konsep dan penerapan teknik-teknik menulis.
Konsep yang berkaitan dengan teori- teori menulis yang terbatas yang dimiliki
seseorang turut berpengaruh. Faktor kedua dari faktor teknis yakni penerapan
konsep. Kemampuan penerapan konsep dipengaruhi banyak sedikitnya bahan yang
akan ditulis dan pengethuan cara menuliskan bahan yang diperolehnya.
Keterampilan menulis banyak kaitannya dengan kemampuan membaca maka seseorang yang ingin memiliki kemampuan menulisnya lebih baik, dituntut untuk memiliki kemampuan membacanya lebih baik pula.
Keterampilan menulis banyak kaitannya dengan kemampuan membaca maka seseorang yang ingin memiliki kemampuan menulisnya lebih baik, dituntut untuk memiliki kemampuan membacanya lebih baik pula.
E.
Metode Pembelajaran
Menulis
1.
Metode Langsung
Metode
pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa
tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur
dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Metode tersebut
didasari anggapan bahwa pada umumnya pengetahuan dibagi dua, yakni pengetahuan
deklaratif dan pengetahuan prosedural. Deklaratif berarti pengetahuan tentang
bagaimana melakukan sesuatu.
Dalam metode
langsung, terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali dengan
penjelasan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran serta mempersiapkan
siswa untuk menerima penjelasan guru. Hal itu disebut fase persiapan dan
motivasi. Fase berikutnya adalah fase demontrasi, pembimbingan, pengecekan, dan
pelatihan lanjutan.
Pada metode
langsung bisa dikembangkan dengan teknik pembelajaran menulis dari gambar atau
menulis objek langsung dan atau perbandingan objek langsung. Teknik menulis
dari gambar atau menulis objek langsung bertujuan agar siswa dapat menulis
dengan cepat berdasarkan gambar yang dilihat. Misalnya, guru menunjukkan gambar
kebakaran yang melanda sebuah desa atau melihat langsung kejadian kebakaran
sebuah desa, Dari gambar tersebut siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan
logis berdasarkan gambar.
2.
Metode Komunikatif
Desain yang
bermuatan metode komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa.
Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran
dispesifikkan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir. Sebuah
produk di sini dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami,
ditulis, diusahakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistik. Sepucuk surat
adalah sebuah produk. Demikian pula sebuah perintah, pesan, laporan atau peta
juga merupakan produk yang dapat dilihat dan diamati. Dengan begitu,
produk-produk tersebut dihasilkan melalui penyelesaian tugas yang berhasil.
Metode
komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis berita. Siswa menulis berita
tentang yang mereka lakukan dalam sebuah aktivitas berdasarkan prinsip-prinsip
sebuah berita ( 5W dan 1H) alur yang dibutuhkan adalah kertas kerja. Kegiatan
ini dapat dilaksanakan perseorangan maupun kelompok.
3.
Metode Integratif
Integratif berarti
menyatukan beberap aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi
interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa
aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, menyimak diintegrasikan
dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan membaca dan
berbicara. Materi kebahasaan diintegrasikan dengan keterampilan bahasa.
Sedangkan antarbidang studi merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa
bidang studi. Misalnya; antarabahasa Indonesia dengan matematika atau dengan
bidang studi lainnya.
Dalam
pembelajaran bahasa Indonesia, integratif interbidang studi lebih banyak
digunakan. Saat mengajarkan kalimat, guru tidak secara langsung menyodorkan
materi kalimat ke siswa tetapi diawali dengan membaca atau yang lainnya.
Perpindahannya diatur secara tipis. Bahkan, guru yang pandai mengintegrasikan
penyampaian materi dapat menyebabkan siswa tidak merasakan perpindahan materi.
Integratif
sangat diharapkan oleh Kurikulum Bahasa Indonesia Berbasis Kompetensi. Pengintegrasiannya
diaplikasikan sesuai dengan kompetensi dasar yang perlu dimiliki siswa. Materi
tidak dipisah-pisahkan. Materi ajar justru merupakan kesatuan yang perlu
dikemas secara menarik.
Metode
inregratif dapat dilaksanakan dalam pembelajaran mambaca dengan memberi catatan
bacaan. Siswa dapat membuat catatan yang diangap penting atau kalimat kunci
sebuah bacaan. Dalam melakukan kegiatan membaca sekaligus siswa menulis.
4.
Metode Tematik
Dalam metode
tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang
sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah tema bukanlah tujuan
tetapi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tema tersebut
harus diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer, kongkret, dan
konseptual.
Tema yang
telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan siswa.
Budaya, sosial, dan religiusitas mereka menjadi perhatian. Begitu pula isi tema
yang disajikan secara kontemporer sehingga siswa senang. Apa yang terjadi
sekarang di lingkungan siswa juga harus terbahas dan terdiskusikan di kelas.
Kemudian, tema tidak disajikan secara abstrak tetapi diberikan secara kongkret.
Semua siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan logika yang dipunyainya.
Siswa berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep
kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.
5.
Metode Konstruktivistik
Asumsi
sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu mnemukan. Artinya, meskipun
guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau
kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman
mereka. Konstuktivistik dimulai dari masalah (sering muncul dari siswa sendiri)
dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan
masalah tersebut.
Metode
konstruktivistik didasarkan pada teori belajar kognitif yang menekankan pada
pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif strategi bertanya, inkuiri,
atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya (belajar bagaimana
seharusnya belajar).
6.
Metode Kontekstual
Pembelajaran
kontekstual adalah konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata
pelajaran dengan situasi dunia nyata dan pembelajaran yang memotivasi siswa
agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari
sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Ardina, 2001).
Pembelajaran
dengan menggunakan metode ini akan memudah dalam pembelajaran menulis. Anak
dimotivasi agar mampu menulis. Menurut Nur (2001) pengajaran kontekstual
memungkinkan siswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengatahuan dan
keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan di
luar sekolah agar siswa dapat memecahkan masalah dunia nyata atau masalah yang
disimulasikan.
Sebenarnya
siswa dalam belajar tidak berada di awan tetapi berada di bumi yang selalu
menyatu dengan tempat belajar, waktu, situasi, dan suasana alam dan
masyarakatnya. Untuk itu, metode yang dianggap tepat untuk mengembangkan
pembelajaran adalah metode kontekstual (Contextual Teaching and Learning).
F.
Prosedur
pembelajaran menulis
Menurut
M. Atar Semi (2007) prosedur menulis
terbagi menjadi lima macam, yakni:
1. Tahap
Pratulis.
Pada pratulis merupakan
tahap paling awal dalam kegiatan menulis dan dilakukan sebelum melakukan penulisan.
Dalam tahap ini penulis mulai menentukan topik yang akan ditulis. Penulis
mempertimbangkan pemilihan topik dari segi menarik atau tidaknya terhadap
pembaca.
2. Tahap
Pembuatan.
Pada tahapan ini
penulis lebih mengutamakan isi tulisan daripada tata tulisannya, sehingga semua
gagasan, pikiran dan perasaan dapat dituangkan ke dalam tulisannya.
3. Tahap
Revisi.
Merevisi berarti
memperbaiki. Pada tahap ini penulis berusaha menyempurnakan isi tulisannya agar
tulisannya lebih baik. Penulis dapat menambah atau mengurangi tulisannya yang
lebih, mempertajam perumusan masalah, menambah informasi yang mendukung
tulisannya, mengubah urutan penulisan pokok-pokok pikiran, dan lain sebagainya.
4. Tahap
Penyuntingan.
Tahap penyuntingan
adalah meneliri kembali kesalahan dan kelemahan pada isi tulisan tersebut. Pada
tahap penyuntingan ini penulis membaca tulisannya kembali dan melihat kembali
ketepatannya dengan gagasan utama dan tujuan penulisan.
5. Tahap
Publikasi.
Tahap ini merupakan
tahp paling akhir dalam proses menulis. Dalam tahap ini yang harus dilakukan
oleh penulis adalah mempublikasikan tulisannya melalui berbagai kemungkinan.
Misalnya dengan mengirimkan tulisannya kepada penerbit buku, redaksi majalah,
surat kabar dan lain sebagainya.
G. Meaningful Instruction
Design
Madjid mengemukakan bahwa model pembelajaran bermakna adalah pola
(pattern) atau kerangka kerja (frame work) yang dibangun secara konseptual,
memiliki karakteristkhusus wik khusus, dan berpijak pada kognitif-konstruktif
untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan efektif.[3]
Keseluruhan memberikan makna kepada bagian-bagian, bagian-bagian terjadi
dalam suatu keseluruhan. Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam rangka
keseluruhan tersebut. Ini berarti keseluruhan yang memberikan makna terhadap
suatu bagian, misalnya sebuah ban mobil hanya bermakna jika menjadi bagian dari
mobil, yakni sebagai roda, sebuah papan tulis hanya bermakna jika berada dalam
kelas, sebatang kayu hanya bermakna sebagai sebagai tiang bila menjadi salah
satu bagian pada sebuah rumah
H. Model Pembelajaran Menulis Berbasis MID
Dalam proses pembelajaran Bahasa
Indonesia, menulis merupakan salah satu komponen penting dari multiliterasi
yang meliputi berbicara, membaca, menyimak, apresiatif, dan ekspresif. Oleh
karena itu, menulis akan lebih efektif jika diterapkan dengan Meaningful e
Design (MID) agar pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan. Berikut
adalah langkah-langkah model pembelajaran berbasis MID :
1.
Lead In
Mengaitkan skemata siswa pada awal pembelajaran dengan konsep-konsep,
fakta, dan atau informasi yang akan dipelajari. Kegiatan itu dilakukan guru
melalui:
a.
penciptaan situasi dalam
bentuk kegiatan yang terkait dengan pengalaman siap siswa;
b.
pertanyaan atau tugas-tugas
agar siswa merefleksi dan menganalisis pengalaman-pengalaman masa tertentu masa
lalu, dan;
c.
pertanyaan perihal
konsep-konsep, ide dan informasi tertentu walaupun hal-hal tersebut belum
diketahui oleh siswa.
Dimana dalam pembelajaran
ini berhubungan dengan tahap penerimaan dan pemahaman dalam proses kegiatan
menulis pembelajaran bahasa indonesia.
2.
Reconstruction
Reconstruction adalah
sebuah fase yang di dalamnya guru memfasilitasi dan memediasi pengalaman
belajar yang relevan, misalnya dengan menyajikan input berupa konsep atau
informasi melalui kegiatan menulis dan membaca teks untuk dielaborasi,
didiskusikan, dan kemudian disimpulkan oleh siswa. Kegiatan dilakukan melalui
pemberian pertanyaan atau tugas-tugas yang mengarahkan siswa mencari, menemukan
konsep atau fakta (observation and reflection), kemudian membangun hipotesis
sementara (hypothesizing), (atau formation of abstract concept) tentang konsep
atau informasi tertentu, dan menarik kesimpulan.
Melalui refleksi/review
terdapat ruang bagi siswa menyadari perolehan baru dibandingkan dengan
pengetahuan sebelum pembelajaran. Dalam fase ini belajar tidak hanya diarahkan
pada pengembangan metacognitive strategy. Hal itu dimungkinkan karena strategi
metakognitif sangat mungkin muncul dari pengalaman siswa mengerjakan
tugas-tugas yang dimediasi guru dalam berbagai cara.
Konsep pembelajaran ini
adalah menekankan kepada para siswa untuk menciptakan interpretasi mereka
sendiri terhadap pembelajaran bahasa indonesia. Siswa meletakkan pengalaman
belajar mereka dengan pengalamnnya sendiri dengan cara menuangkan kedalam
sebuah karya tulis.
3.
Production
Production adalah fase
terakhir dari model yang dikembangkan. Kontrol kegiatan lebih bertumpu pada
siswa untuk mengekspresikan diri sendiri melalui tugas-tugas komunikatif yang
bertujuan, jelas, dan terarah. Pada fase ini terdapat mediasi guru yang lebih
terstruktur pada model yang dikembangkan. Fase ini juga bertujuan untuk
menghasilkan suatu karya berupa tulisan dari siswa dalam proses pembejalaran
bahasa indonesia berbasis MID
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian
menulis sangatlah banyak namun inti dan tujuannya sama.
Keterampilan menulis merupakan urutan yan paling terakhir dalam proses belajar bahasa
setelah keterampilan menyimak, berbicara dan membaca. Adapun beberapa jenis
metode dalam pembelajaran menulis yaitu metode langsung,
metode
komunikatif, metode integratif,
metode
tematik, metode konstruktivistik,
metode
kontekstual. Banyak faktor yang mempengaruhi
kemampuan menulis. Namun, pada prinsipnya dapat dikategorikan dalam dua faktor
yakni faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal di antaranya belum
tersedia fasilitas pendukung, berupa keterbatasan sarana untuk menulis. Faktor internal
mencakup faktor psikologis dan faktor teknis.
Serta tahap pembelajaran menulis pun sangat banyak.
Dan menulis
merupaka aktivitas yang menuntut
partisipasi, keikut sertaan, keterlibatan sang penulis terhadap hal-hal yang
akan ditulis. Agar bisa mendapatkan hasil yang lebih baik dan maksimal.
B.
Saran
Karena
menulis
memiliki peran yang sangat penting dan sangat banyak dilakukan di dalam
kehidupan sehari-hari, maka sangat penting juga bagi kita untuk mengetahui dan
memahami menulis dengan baik. Agar mendapatkan pesan,
informasi, gagasan atau hal-hal yang tidak keliru. Dan agar tidak terjadinya
kesalah pahaman
dan miskomuniksai dalam berkomunikasi.
DAFTAR ISI
Budianingsih,
C. Asri. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Cet. Ke-2. Jakarta :
Rineka Cipta.
Darmadi, Kaswan. 1996. Meningkatkan
Kemampuan Menulis. Yogyakarta: ANDI
Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menulis
Sebagai Salah Satu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
http://ervinart.blogspot.co.id/p/konsep-menulis-dan-pembelajaran-menulis_20html?m-1
http://luluk-pgmi.bloogspot.co.id/2015/10/makalah-konsep-dasar-menulis.html?m=1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar