Kamis, 18 Juni 2020

Makalah Menulis dalam Sastra Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Inti pelaksanaan pendidikan di sekolah adalah kegitan belajar pembelajaraan. Pendidikan berfungsi meningkatkan kemampuan dan potensi salah satu bentuk pengembangan pendidikan di sekolah adalah terlaksana proses belajar pembelajaran. Keberhasilan proses pembelajaran bisa dilihat dari seorang guru dalam melaksanakan pendidikan ada kegiatan proses belajar dan dapat menjadikan siswa yang menjadi pribadi yang utuh dan madiri. Oleh karana itu, seorang guru dapat dikataan berhasil apabila ia selalu memperhatikan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum.
Di dalam pembelajaran menulis banyak guru dan siswa yang beranggapan bahwa menulis itu merupakan keterampilan berbahasa yang paling sulit. karena banyak unsur yang terlibat di dalamnya, seperti unsur kebahasaan, isi (pesan yang akan disampaikan) dan ragam tulisan yang akan dibuat. Sebagai akibat dari anggapan ini, pembelajaran materi menulis sering dihindari untuk diajarkan dengan berbagai alasan.
Padahal kemampuan menulis sangat penting untuk dikuasai peserta didik karena pada hakikatnya menulis merupakan sarana untuk menuangkan gagasan, pendapat, perasaan, keinginan, serta informasi ke dalam tulisan dan kemudian menginformasikannya kepada orang lain. Keterampilan ini pun merupakan salah satu kegiatan yang kompleks karena penulis tidak hanya dituntut untuk dapat menyusun dan mengorganisasikan isi tulisannya tetapi harus mampu pula menuangkan gagasannya  dalam bentuk bahasa tulis yang mudah dipahami pembaca. Selain itu, penulis harus mengikuti konvensi penulisan lainnya.
Untuk menjalankan atau melakuan pembelajaran menulis. Seorang guru perlu memilih dan menetukan model pemebelajaran yang mampu mengaitkan antara materi yang akan di ajarkan dengan sikologis anak. Hal tersebut sejalan atau senada dengan pendapat Aqib (2014-01) pembelajaran dengan menggunakan kosep pembelajaran akan membantu guru dalam mengaitkan antara materi yang diajarkan  dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan kehidupan.
                                                    
B.     Rumusan Masalah
1.      Jelaskan apa yang dimaksud dengan pengertian menulis ?
2.      Jelaskan apa saja tujuan pembelajaran menulis?
3.      Jelaskan apa yang dimaksud dengan konsep dasar menulis ?
4.      Faktor-faktor apa saja yang memperngaruhi menulis?
5.      Metode apa saja yang terdapat dalam pembelajaran menulis ?
6.      Prosedur apa saja yang terdapat dalam pembelajaran menulis ?
7.      Apa itu Meaningful Intruction Design ?
8.      Bagaimana model pempelajaran menulis berbasis MID ?

C.     Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian pembelajaran menulis
2.      Untuk mengetahui tujuan pembelajaran menulis
3.      Untuk mengetahui konsep dasar pembelajaran menulis
4.      Untuk mengetahui faktor-faktor pembelajaran menulis
5.      Untuk mengetahui metode pembelajaran menulis
6.      Untuk mengetahui metode pembelajaran menulis
7.      Untuk mengetahui Meaningful Intruction Desgin
8.      Untuk mengetahui model pembelajaran menulis berbasis MID


BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Menulis
Menurut Lado (via Tarigan, 2008: 22) menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. Penurunan lambang-lambang membutuhkan suatu keterampilan, tidak semua orang mampu melakukan hal tersebut. Semakin sering mengasah keterampilan menulis maka semakin baik hasil tulisan kita.
Lain seperti yang dikemukakan oleh Logan (via Tarigan, 2008: 9) menulis, seperti juga halnya kegiatan keterampilan berbahasa lainnya, merupakan suatu proses perkembangan. Menulis menuntut pengalaman, waktu, kesempatan, pelatihan, keterampilan-keterampilan khusus, dan pengajaran langsung menjadi seorang penulis. Kegiatan menulis juga menuntut gagasan-gagasan yang tersusun secara logis, diekspresikan dengan jelas, dan ditata secara menarik. Menulis bukan hal yang mudah, oleh karena itu menulis menuntut latihan yang rutin dan berkala. Keterampilan menulis yang dikembangkan secara terus menurus akan mendapatkan hasil tulisan yang baik walapun harus melalui proses yang lama.[1]
Menurut Hairston (via Darmadi, 1996: 3) kegiatan menulis adalah satu sarana untuk menemukan sesuatu. Dalam hal ini dengan menulis kita dapat merangsang pemikiran kita dan jika itu dilakukan dengan intensif maka akan dapat membuka penyumbat otak kita dalam rangka mengangkat ide dan informasi yang ada di alam bawah sadar pemikiran kita. Kegiatan menulis membutuhkan ide-ide yang nantinya akan dituangkan kedalam sebuah tulisan. Mencari ide lalu menuangkan dalam tulisan bukan hal yang mudah, oleh sebab itu tidak banyak seseorang yang berhasil menuangkan idenya ke dalam sebuah tulisan.[2]
Hal tersebut di ungkap Alwasilah (200-7: 43) menulis adalah sebuah kemampuan, kemahiran dan kepiawaian seorang menyampaikan gagasanya kedalam sebuah wacana agar dapat diterima oleh pembaca yang heterogen baik secara intelektual maupun sosial. Itu artinya bahwa semua gagasan bisa kita tuangkan dalam sebuah tulisan.
Banyak orang yang mengalami kesulitan dalam menuangkan gagasannya kedalam tulisan karna itu disebabkan oleh banyak hal salah satunya sistem pendidikan kita lebih mengutamakan pengetahuan dibandingkan keterampilan yang didalamnya termasuk kedalam keterampilan menulis, sehingga budaya tulis di Indonesia sangat kurang. Keterampilan menulis itu tidak datang dengan secara intasan tetapi harus melakuan proses. Tarigan ( 2008:3 ) berpendapat, keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis. Tetapi, harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur.

B.     Tujuan Pembelajaran Menulis
Tujuan menulis bervariasi, setiap orang menulis dengan tujuan masing-masing definisi tentang tujuan menulis salah satunya yaitu menurut Tarigan (2008: 24) yaitu memberitahukan atau mengajar, meyakinkan atau mendesak, menghibur atau menyenangkan, dan mengutarakan/mengekspresikan perasaan dan emosi yang berapi-api. Sedangkan tujuan menulis menurut Peck dan Schulz (via Tarigan, 2008: 9) sebagai berikut.
1.    Membantu para siswa memahami bagaimana caranya ekspresi tulis dapat melayani mereka, dengan jalan menciptakan situasi-situasi di dalam kelas yang jelas memerlukan karya tulis dan kegiatan menulis
2.    Mendorong para siswa mengekspresikan diri mereka secara bebas dalam tulisan
3.    Mengajar para siswa menggunakan bentuk yang tepat dan serasi dalam ekspresi tulis.
Berdasarkan beberapa definisi yang telah diuraikan di atas dapat dikemukakan bahwa keterampilan menulis yaitu suatu keterampilan menurunkan ide, gagasan, dan pengalaman ke dalam sebuah tulisan yang disusun secara logis, jelas, dan menarik.

C.     Konsep Dasar  Pembelajaran Menulis
Menulis merupakan kegiatan kebahasaan yang memegang peran penting dalam dinamika peradaban manusia. Dengan menulis seseorang dapat melakukan komunikasi, mengemukakan pendapat baik dari dalam maupun dari luar dirinya serta mampu memperkaya pengalamannya. Melalui kegiatan menulis pula sesorang dapat mengambil manfaat bagi perkembangan dirinya.
Keterampilan menulis merupakan urutan yang paling terakhir dalam proses belajar bahasa setelah keterampilan menyimak, berbicara dan membaca. Di antara ke empat keterampilan tersebut, yang paling sulit untuk dikuasai adalah keterampilan menulis. Hal itu disebabkan karena keterampilan menulis menghendaki penguasaan berbagai unsur kebahasaan dan di luar bahasa itu sendiri yang akan menjadi isi karangan. Latihan mengarang dan menulis dalam pengajaran Bahasa Indonesia dapat membiasakan siswa untuk menerapkan pengetahuan kebahasaan, seperti: tata bahasa, gaya bahasa, ejaan yang benar dan tepat, dan lain sebagainya.
Menulis merupakan suatu proses berfikir dan proses yang dialami serta dilakukan oleh sesorang yang dipergunakan untuk menyampaikan gagasan, pesan dan juga  informasi dengan melalui media kata-kata atau bahasa dan juga melalui tulisan sehingga dapat dipahami oleh pembaca. Suatu tulisan pada dasarnya terdiri atas dua hal. Pertama, isi suatu tulisan menyampaikan sesuatu yang ingin diungkapkan penulisnya. Kedua, bentuk tulisan yang merupakan unsur mekanik karangan seperti ejaan, kata, kalimat dan alenia.
D.    Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Menulis
Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan menulis. Namun, pada prinsipnya dapat dikategorikan dalam dua faktor yakni faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal di antaranya belum tersedia fasilitas pendukung, berupa keterbatasan sarana untuk menulis. Faktor internal mencakup faktor psikologis dan faktor teknis. Yang tergolong faktor psikologis di antaranya Faktor kebiasaan atau pengalaman yang dimiliki. Semakin terbiasa menulis maka kemampuan dan kualitas tulisan akan semakin baik. Faktor lain yang tergolong faktor psikologis adalah faktor kebutuhan. Faktor kebutuhan kadang akan memaksa seseorang untuk menulis. Seseorang akan mencoba dan terus mencoba untuk menulis karena didorong oleh kebutuhannya.
Faktor teknis meliputi penguasaan akan konsep dan penerapan teknik-teknik menulis. Konsep yang berkaitan dengan teori- teori menulis yang terbatas yang dimiliki seseorang turut berpengaruh. Faktor kedua dari faktor teknis yakni penerapan konsep. Kemampuan penerapan konsep dipengaruhi banyak sedikitnya bahan yang akan ditulis dan pengethuan cara menuliskan bahan yang diperolehnya.
Keterampilan menulis banyak kaitannya dengan kemampuan membaca maka seseorang yang ingin memiliki kemampuan menulisnya lebih baik, dituntut untuk memiliki kemampuan membacanya lebih baik pula.

E.     Metode Pembelajaran Menulis
1.         Metode Langsung
Metode pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Metode tersebut didasari anggapan bahwa pada umumnya pengetahuan dibagi dua, yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Deklaratif berarti pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Dalam metode langsung, terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali dengan penjelasan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru. Hal itu disebut fase persiapan dan motivasi. Fase berikutnya adalah fase demontrasi, pembimbingan, pengecekan, dan pelatihan lanjutan.
Pada metode langsung bisa dikembangkan dengan teknik pembelajaran menulis dari gambar atau menulis objek langsung dan atau perbandingan objek langsung. Teknik menulis dari gambar atau menulis objek langsung bertujuan agar siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan gambar yang dilihat. Misalnya, guru menunjukkan gambar kebakaran yang melanda sebuah desa atau melihat langsung kejadian kebakaran sebuah desa, Dari gambar tersebut siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.
2.         Metode Komunikatif
Desain yang bermuatan metode komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diusahakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistik. Sepucuk surat adalah sebuah produk. Demikian pula sebuah perintah, pesan, laporan atau peta juga merupakan produk yang dapat dilihat dan diamati. Dengan begitu, produk-produk tersebut dihasilkan melalui penyelesaian tugas yang berhasil.
Metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis berita. Siswa menulis berita tentang yang mereka lakukan dalam sebuah aktivitas berdasarkan prinsip-prinsip sebuah berita ( 5W dan 1H) alur yang dibutuhkan adalah kertas kerja. Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan maupun kelompok.
3.         Metode Integratif
Integratif berarti menyatukan beberap aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, menyimak diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan membaca dan berbicara. Materi kebahasaan diintegrasikan dengan keterampilan bahasa. Sedangkan antarbidang studi merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Misalnya; antarabahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lainnya.
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, integratif interbidang studi lebih banyak digunakan. Saat mengajarkan kalimat, guru tidak secara langsung menyodorkan materi kalimat ke siswa tetapi diawali dengan membaca atau yang lainnya. Perpindahannya diatur secara tipis. Bahkan, guru yang pandai mengintegrasikan penyampaian materi dapat menyebabkan siswa tidak merasakan perpindahan materi.
Integratif sangat diharapkan oleh Kurikulum Bahasa Indonesia Berbasis Kompetensi. Pengintegrasiannya diaplikasikan sesuai dengan kompetensi dasar yang perlu dimiliki siswa. Materi tidak dipisah-pisahkan. Materi ajar justru merupakan kesatuan yang perlu dikemas secara menarik.
Metode inregratif dapat dilaksanakan dalam pembelajaran mambaca dengan memberi catatan bacaan. Siswa dapat membuat catatan yang diangap penting atau kalimat kunci sebuah bacaan. Dalam melakukan kegiatan membaca sekaligus siswa menulis.
4.         Metode Tematik
Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah tema bukanlah tujuan tetapi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tema tersebut harus diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer, kongkret, dan konseptual.
Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan siswa. Budaya, sosial, dan religiusitas mereka menjadi perhatian. Begitu pula isi tema yang disajikan secara kontemporer sehingga siswa senang. Apa yang terjadi sekarang di lingkungan siswa juga harus terbahas dan terdiskusikan di kelas. Kemudian, tema tidak disajikan secara abstrak tetapi diberikan secara kongkret. Semua siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan logika yang dipunyainya. Siswa berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.
5.         Metode Konstruktivistik
Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu mnemukan. Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Konstuktivistik dimulai dari masalah (sering muncul dari siswa sendiri) dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut.
Metode konstruktivistik didasarkan pada teori belajar kognitif yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif strategi bertanya, inkuiri, atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya (belajar bagaimana seharusnya belajar).
6.         Metode Kontekstual
Pembelajaran kontekstual adalah konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan pembelajaran yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Ardina, 2001).
Pembelajaran dengan menggunakan metode ini akan memudah dalam pembelajaran menulis. Anak dimotivasi agar mampu menulis. Menurut Nur (2001) pengajaran kontekstual memungkinkan siswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengatahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan di luar sekolah agar siswa dapat memecahkan masalah dunia nyata atau masalah yang disimulasikan.
Sebenarnya siswa dalam belajar tidak berada di awan tetapi berada di bumi yang selalu menyatu dengan tempat belajar, waktu, situasi, dan suasana alam dan masyarakatnya. Untuk itu, metode yang dianggap tepat untuk mengembangkan pembelajaran adalah metode kontekstual (Contextual Teaching and Learning).

F.      Prosedur pembelajaran menulis
Menurut M. Atar Semi (2007) prosedur  menulis terbagi menjadi lima macam, yakni:
1.      Tahap Pratulis.
Pada pratulis merupakan tahap paling awal dalam kegiatan menulis dan dilakukan sebelum melakukan penulisan. Dalam tahap ini penulis mulai menentukan topik yang akan ditulis. Penulis mempertimbangkan pemilihan topik dari segi menarik atau tidaknya terhadap pembaca.
2.      Tahap Pembuatan.
Pada tahapan ini penulis lebih mengutamakan isi tulisan daripada tata tulisannya, sehingga semua gagasan, pikiran dan perasaan dapat dituangkan ke dalam tulisannya.
3.      Tahap Revisi.
Merevisi berarti memperbaiki. Pada tahap ini penulis berusaha menyempurnakan isi tulisannya agar tulisannya lebih baik. Penulis dapat menambah atau mengurangi tulisannya yang lebih, mempertajam perumusan masalah, menambah informasi yang mendukung tulisannya, mengubah urutan penulisan pokok-pokok pikiran, dan lain sebagainya.
4.      Tahap Penyuntingan.
Tahap penyuntingan adalah meneliri kembali kesalahan dan kelemahan pada isi tulisan tersebut. Pada tahap penyuntingan ini penulis membaca tulisannya kembali dan melihat kembali ketepatannya dengan gagasan utama dan tujuan penulisan.
5.      Tahap Publikasi.
Tahap ini merupakan tahp paling akhir dalam proses menulis. Dalam tahap ini yang harus dilakukan oleh penulis adalah mempublikasikan tulisannya melalui berbagai kemungkinan. Misalnya dengan mengirimkan tulisannya kepada penerbit buku, redaksi majalah, surat kabar dan lain sebagainya.

G.    Meaningful Instruction Design
Madjid mengemukakan bahwa model pembelajaran bermakna adalah pola (pattern) atau kerangka kerja (frame work) yang dibangun secara konseptual, memiliki karakteristkhusus wik khusus, dan berpijak pada kognitif-konstruktif untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan efektif.[3]
Keseluruhan memberikan makna kepada bagian-bagian, bagian-bagian terjadi dalam suatu keseluruhan. Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam rangka keseluruhan tersebut. Ini berarti keseluruhan yang memberikan makna terhadap suatu bagian, misalnya sebuah ban mobil hanya bermakna jika menjadi bagian dari mobil, yakni sebagai roda, sebuah papan tulis hanya bermakna jika berada dalam kelas, sebatang kayu hanya bermakna sebagai sebagai tiang bila menjadi salah satu bagian pada sebuah rumah
H.    Model Pembelajaran Menulis Berbasis MID
Dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia, menulis merupakan salah satu komponen penting dari multiliterasi yang meliputi berbicara, membaca, menyimak, apresiatif, dan ekspresif. Oleh karena itu, menulis akan lebih efektif jika diterapkan dengan Meaningful e Design (MID) agar pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan. Berikut adalah langkah-langkah model pembelajaran berbasis MID :
1.      Lead In
Mengaitkan skemata siswa pada awal pembelajaran dengan konsep-konsep, fakta, dan atau informasi yang akan dipelajari. Kegiatan itu dilakukan guru melalui:
a.    penciptaan situasi dalam bentuk kegiatan yang terkait dengan pengalaman siap siswa;
b.    pertanyaan atau tugas-tugas agar siswa merefleksi dan menganalisis pengalaman-pengalaman masa tertentu masa lalu, dan;
c.    pertanyaan perihal konsep-konsep, ide dan informasi tertentu walaupun hal-hal tersebut belum diketahui oleh siswa.
Dimana dalam pembelajaran ini berhubungan dengan tahap penerimaan dan pemahaman dalam proses kegiatan menulis pembelajaran bahasa indonesia.
2.      Reconstruction
Reconstruction adalah sebuah fase yang di dalamnya guru memfasilitasi dan memediasi pengalaman belajar yang relevan, misalnya dengan menyajikan input berupa konsep atau informasi melalui kegiatan menulis dan membaca teks untuk dielaborasi, didiskusikan, dan kemudian disimpulkan oleh siswa. Kegiatan dilakukan melalui pemberian pertanyaan atau tugas-tugas yang mengarahkan siswa mencari, menemukan konsep atau fakta (observation and reflection), kemudian membangun hipotesis sementara (hypothesizing), (atau formation of abstract concept) tentang konsep atau informasi tertentu, dan menarik kesimpulan.
Melalui refleksi/review terdapat ruang bagi siswa menyadari perolehan baru dibandingkan dengan pengetahuan sebelum pembelajaran. Dalam fase ini belajar tidak hanya diarahkan pada pengembangan metacognitive strategy. Hal itu dimungkinkan karena strategi metakognitif sangat mungkin muncul dari pengalaman siswa mengerjakan tugas-tugas yang dimediasi guru dalam berbagai cara.
Konsep pembelajaran ini adalah menekankan kepada para siswa untuk menciptakan interpretasi mereka sendiri terhadap pembelajaran bahasa indonesia. Siswa meletakkan pengalaman belajar mereka dengan pengalamnnya sendiri dengan cara menuangkan kedalam sebuah karya tulis.
3.      Production
Production adalah fase terakhir dari model yang dikembangkan. Kontrol kegiatan lebih bertumpu pada siswa untuk mengekspresikan diri sendiri melalui tugas-tugas komunikatif yang bertujuan, jelas, dan terarah. Pada fase ini terdapat mediasi guru yang lebih terstruktur pada model yang dikembangkan. Fase ini juga bertujuan untuk menghasilkan suatu karya berupa tulisan dari siswa dalam proses pembejalaran bahasa indonesia berbasis MID


BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian menulis sangatlah banyak namun inti dan tujuannya sama. Keterampilan menulis merupakan urutan yan paling terakhir dalam proses belajar bahasa setelah keterampilan menyimak, berbicara dan membaca. Adapun beberapa jenis metode dalam pembelajaran menulis yaitu metode langsung, metode komunikatif, metode integratif, metode tematik, metode konstruktivistik, metode kontekstual. Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan menulis. Namun, pada prinsipnya dapat dikategorikan dalam dua faktor yakni faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal di antaranya belum tersedia fasilitas pendukung, berupa keterbatasan sarana untuk menulis. Faktor internal mencakup faktor psikologis dan faktor teknis. Serta tahap pembelajaran menulis pun sangat banyak.
Dan menulis merupaka aktivitas yang menuntut partisipasi, keikut sertaan, keterlibatan sang penulis terhadap hal-hal yang akan ditulis. Agar bisa mendapatkan hasil yang lebih baik dan maksimal.

B.     Saran
Karena menulis memiliki peran yang sangat penting dan sangat banyak dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari, maka sangat penting juga bagi kita untuk mengetahui dan memahami menulis dengan baik. Agar mendapatkan pesan, informasi, gagasan atau hal-hal yang tidak keliru. Dan agar tidak terjadinya kesalah pahaman dan miskomuniksai dalam berkomunikasi.

DAFTAR ISI

Budianingsih, C. Asri. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Cet. Ke-2. Jakarta : Rineka Cipta.

Darmadi, Kaswan. 1996. Meningkatkan Kemampuan Menulis. Yogyakarta: ANDI

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menulis Sebagai Salah Satu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

http://ervinart.blogspot.co.id/p/konsep-menulis-dan-pembelajaran-menulis_20html?m-1

http://luluk-pgmi.bloogspot.co.id/2015/10/makalah-konsep-dasar-menulis.html?m=1




[1] Tarigan, Henry Guntur. 2008.
[2] Darmadi, Kaswan. 1996.
[3] Budianingsih, C. Asri. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Cet. Ke-2. Jakarta : Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar