Kamis, 18 Juni 2020

ZAT ADIKTIF


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Dikalangan remaja saat ini marak terjadinya penggunaan obat-obatan terlarang. Mereka menggunakan obat-obatan terlarang, sebagian besar untuk mencari jati diri. Padahal obat terlarang sangat berbahaya bagi tubuh para penggunanya. Akan tetapi para remaja tidak tahu bahwa bahaya dari pemakaian obat terlarang.Mereka melakukan hal seperti ini karena banyak faktor. Mulai dari kurangnya pengetahuan akan efek samping atau bahaya narkoba yang berkelanjutan baik bagi tubuh maupun kejiwaan si pengguna, serta kurangnya orang pengawasan oleh orang dalam pergaulan remaja.
Obat terlarang dulunya digunakan para dokter untuk membius pasiennya, namun semakin lama banyak remaja yang menggunakannya secara berlebihan hanya untuk meringankan masalahnya. Padahal efek dari penggunaan obat terlarang bagi orang sehat sangat berbahaya. Beberapa obat terlarang yang sering digunakan remaja yaitu zat adiktif jenis narkoba dan psikotropika.  Pada kesempatan ini kami membahas tentang zat adiktif dan psikotropika yang disosialisasilkan di Sekolah Dasar Guna untuk Mengetahui dan Mewaspadai Zat Adiktif Ini oleh Peserta didik di Sekolah Dasar serta memberikan penyuluhan juga Dampak dalam Penggunaan Zat Adiktif. Maka kami mengembangkan hasil dengan membuat laporan hasil Sosialisasi Di SDN Pajajaran yang telah kami sosialisasikan.
B.    Rumusan Masalah
1.     Persiapan Sosialisasi Zat Adiktif?
2.     Pelaksanaan Sosialisasi Zat Adiktif?
3.     Hasil Sosialisasi Zat Adiktif?
C.    Tujuan Masalah
1.     Untuk Mengetahui Persiapan Apa Saja Dalam Sosialisasi Zat Adiktif.
2.     Untuk Mengetahui Pelaksanaan Sosialisasi Zat Adiktif.
3.     Untuk Mengetahui Hasil Sosisalisasi Yang Telah Didapat Tentang Zat Adiktif.

BAB II
PEMBAHASAN

a.     Pengertian, Jenis dan Ciri Zat Adiktif
Zat adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi oleh organisme hidup dapat menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan ketergantungan atau adiksi yang sulit dihentikan dan berefek ingin menggunakannya secara terus-menerus yang jika dihentikan dapat memberi efek lelah luar biasa atau rasa sakit luar biasa.
Zat adiktif ialah bahan lain yang bukan narkotika maupun psikotropika yang merupakan suatu inhalasi yang penggunaannya akan dapat menimbulkan ketergantungan. Miras juga merupakan salah satu bagian dari NAPZA golongan zat adiktif yang mempunyai pengaruh psikoaktif tetapi di luar narkotika dan psikotropika.
Menurut Menteri Kesehatan RI No. 86/Men.Kes/Per/IV/1977 tanggal 29 April 1977 yang dimaksud dengan minuman keras adalah semua jenis minuman beralkohol, tetapi bukan obat yang meliputi 3 golongan sebagai berikut
1.     Golongan A (Bir), dengan kadar etanol 1% - 5%. Golongan ini dapat menyebabkan mabuk emosional dan bicara tidak jelas.

2.     Golongan B (Champagne, Wine), dengan kadar etanol 5% - 20%. Golongan ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan, kehilangan sensorik, ataksia, dan waktu reaksi yang lambat.

3.     Golongan C (Wiski), dengan kadar atanol lebih dari 20% - 50%. Golongan ini dapat menyebabkan gejala ataksia parah, penglihatan ganda atau kabur, pingsan dan kadang terjadi konvulsi.

Selain itu, dalam buku sumber belajar IPA, Zat adiktif dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu :
1.     Zat adiktif bukan narkotika dan psikotropika
Zat adiktif jenis ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mungkin juga sering kita konsumsi pada bahan makanan atau minuman yang mengandung zat adiktif tersebut. Adapun yang termasuk dalam zat adiktif bukan narkotika dan psikotropika, yaitu :
a.     Kafein
Teh yang mengandung kafein membuat hampir sebagian besar dari kita menjadi terbiasa untuk mengkonsumsinya setiap hari. Tetapi teh aman dan baik untuk dikonsumsi setiap hari dalam jumlah yang wajar dan tidak berlebihan. Selain mengandung kafein, teh juga mengandung theine, teofilin, dan teobromin dalam jumlah sedikit.
Sementara itu, kopi memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi dari pada teh. Kopi yang terbuat dari biji kopi yang disangrai dan dihancurkan menjadi bubuk kopi umumnya dikonsumsi orang dengan tujuan agar mereka tidak mengantuk sebab kafein dalam kopi dapat meningkatkan respons kewaspadaan pada otak. Oleh karena itu kopi tidak dianjurkan untuk diminum secara berlebihan. Tetapi kopi juga memiliki sejumlah manfaat pada beberapa terapi kesehatan, seperti mencegah penyakit Parkinson, kanker usus, kanker lambung, dan kanker paru-paru. Untuk beberapa kasus tertentu, kopi juga dapat menjadi obat sakit kepala, tekanan darah rendah, dan obesitas

b.     Nikotin
Nikotin terdapat dalam rokok yang dibuat dari daun tembakau melalui proses tertentu dan dicampur dengan bunga cengkeh serta beberapa macam bahan aroma. Kandungan nikotin pada rokok inilah yang menyebabkan orang menjadi berkeinginan untuk mengulang dan terus-menerus merokok. Selain mengandung nikotin, rokok juga mengandung tar.  Tar adalah kondensat asap yang merupakan total residu dihasilkan saat Rokok dibakar setelah dikurangi Nikotin dan air, yang bersifat karsinogenik.
Kita juga sudah mengetahui tentang bahaya rokok pada kesehatan, yaitu dapat merugikan organ-organ tubuh bagian luar, seperti perubahan warna gigi dan kulit, maupun organ tubuh bagian dalam yang dapat memicu kanker paru-paru.

2.     Zat Adiktif Narkotika
Narkotika merupakan zat adiktif yang sangat berbahaya dan penggunaannya dilarang di seluruh dunia. Penggunaan narkotika tidak akan memberi efek positif pada tubuh tetapi malah akan memberikan efek negatif. Jika digunakan maka penggunanya akan mengalami penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi bahkan menghilangkan rasa nyeri, tetapi setelah itu penggunanya akan merasa tergantung dan akan mengulangi secara terus-menerus untuk menggunakan narkotika yang memiliki banyak jenis ini. Jika sudah begini maka akan sulit untuk lepas dari jerat narkotika yang hanya akan memberi siksaan pada penggunanya. Narkotika hanya diperbolehkan dalam dunia medis yang biasanya digunakan sebagai obat bius untuk orang yang akan dioperasi, dan penggunaannya pun sesuai prosedur yang telah ditentukan dalam standar kesehatan internasional. Jenis-jenis narkotika ini misalnya sabu, opium, kokain, ganja, heroin, amphetamine, dll. Karena berbahayanya maka menyimpan salah satu dari jenis narkotika tersebut akan dikenakan hukuman yang sangat berat misalnya hukuman mati.

b.     Faktor-Faktor Penyalahgunaan Zat Adiktif
Banyak hal yang dapat menjadi penyebab penyalahgunaan NAPZA, hal itu karena hubungan yang saling terkait antara prilaku penyalahgunaan, faktor lingkungan dan faktor peredaran NAPZA di masyarakat.Faktor-faktor yang dapat memepengaruhi terjadinya penyalahgunaan adalah NAPZA sebagai berikut :

1.     Lingkungan Sosial
a)     Rasa ingin tahu
Rasa ingin tahu adalah suatu emosi yang berkaitan dengan perilaku ingin tahu seperti eksplorasi, investigasi, dan belajar, terbukti dengan pengamatan pada spesies hewan, manusia dan banyak istilah ini juga dapat digunakan untuk menunjukkan perilaku itu sendiri disebabkan oleh emosi rasa ingin tahu. Seperti emosi “Rasa ingin tahu” merupakan dorongan untuk tahu hal-hal baru, rasa ingin tahu adalah kekuatan pendorong utama di balik penelitian ilmiah dan disiplin ilmu lain dari studi manusia.

b)     Kesempatan
Masyarakat dan lingkungan yang memberi kesempatan pemakaian NAPZA yaitu adanya situasi yang mendorong diri sendiri untuk mengggunakan NAPZA dorongan dari luar adalah adanya ajakan, rayuan, tekanan dan paksaan terhadap seseorang untuk memakai NAPZA. Kesibukan kedua orang tua maupun keluarga dengan kegiatannya masing-masing, atau dampak perpecahan rumah tangga akibat (broken home) serta kurangnya kasih sayang merupakan celah kesempatan para remaja mencari pelarian dengan cara menyalahgunakan narkotika, psikotropika maupun minuman keras atau atau obat berbahaya.

c)     Kemudahan/Fasilitas atau prasarana dan sarana yang tersedia
Kemudahan mendapatkan NAPZA merupakan penyebab lain banyaknya orang yang mengkonsumsi NAPZA, selain itu ungkapan rasa kasih sayang orangtua terhadap putra-putrinya termasuk yang di berikan orang tua terhadap anak-anaknya seperti memberikan fasilitas dan uang yang berlebih bisa jadi pemicu penyalah-gunakan uang saku untuk membeli rokok untuk memuaskan segala mencoba ingin tahu dirinya. Biasanya para remaja mengawalinya dengan merasakan merokok dan minuman keras, baru kemudian mencoba-coba narkotika dan obat terlarang

d)     Faktor pergaulan
Pergaulan merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan individu, dapat juga oleh individu dengan kelompok pergaulan mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian seorang individu. Pergaulan yang ia lakukan itu akan mencerminkan kepribadiannya, baik pergaulan yang positif maupun pergaulan yang negative. Pergaulan yang negatif itu lebih mengarah ke pergaulan bebas, hal itulah yang harus dihindari, terutama bagi remaja yang masih mencari jati dirinya.

e)     Konflik Keluarga
Konflik keluarga yang dimaksud adalah perceraian, dalam sebuah pernikahan tidak bisa dilepaskan dari pengaruhnya terhadap anak. Banyak faktor yang terlebih dahulu diperhatikan sebelum menjelaskan tentang dampak perkembangan anak setelah terjadi suatu perceraian antara ayah dan ibu mereka. Anak yang sudah menginjak remaja dan mengalami perceraian orang tua lebih cenderung mengingat konflik dan stress yang mengitari perceraian itu sepuluh tahun kemudian, pada tahun masa dewasa awal mereka. Mereka juga Nampak kecewa dengan keadaan mereka yang tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh.

f)       Lingkungan Pendidikan
Lingkungan Sekolah merupakan lingkungan di mana remaja mendapatkan pengetahuan, pembinaan perilaku, dan keterampilan. Di sekolah juga, remaja menemukan teman sebaya yang mendorong munculnya persaingan antar sesama. Ada yang ingin berprestasi, terlihat bergengsi,”sok” jagoan, dan sebagainya. Jika keadaan ini tidak bisa dibenahi dan diselesaikan oleh pengelola pendidikan di sekolah, maka remaja yang cenderung pendiam, malas mengejar prestasi dan beraktivitas akan mengalami stres dan berpotensi terjerumus ke dalam tindakan penyimpangan seperti penyalahgunaan NAPZA.

g)     Lingkungan di pemukiman masyarakatnya yang permisif
Lingkungan masyarakat yang permisif terhadap hukum dan norma kurang patuh terhadap aturan, status sosial ekonomi masyarakat ini seringkali memiliki sekolah-sekolah yang sangat tidak memadai. Komunitas juga dapat berperan serta dalam memunculkan kenakalan remaja. Masyarakat dengan tingkat kriminalitas tinggi memungkinkan remaja mengamati berbagai model yang melakukan aktivitas kriminal dan memperoleh hasil atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka

2.     Kepribadian

a)     Kondisi kejiwaan
Orang-orang yang cukup mudah tergoda dengan penyalahgunaan NAPZA adalah para remaja yang jiwa labil, pada masa ini mereka sedang mengalami perubahan biologis, psikologis maupun social

b)     Perasaan
Perasaan rendah diri di dalam pergaulan bermasyarakat, seperti di lingkungan sekolah, tempat kerja, lingkungan sosial dan sebagainya sehingga tidak dapat mengatasi perasaan itu, remaja berusaha untuk menutupi kekurangannya agar dapat menunjukan eksistensi dirinya melakukannya dengan cara menyalahgunakan narkotika, psykotropika maupun minuman keras sehingga dapat merasakan memperoleh apa-apa yang diangan-angankan antara lain lebih aktif, lebih berani dan sebagainya .

c)     Emosi
Kelabilan emosi remaja pada masa pubertas dapat mendorong remaja melakukan kesalahan fatal. Pada masa -masa ini biasanya mereka ingin lepas dari ikatan aturan-aturan yang di berlakukan oleh orang tuanya. Padahal disisi lain masih ada ketergantungan sehingga hal itu berakibat timbulnya konflik pribadi.

d)     Mental
Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat sera lingkungan tempat ia hidup. Menurut definisi ini seseorang dikatakan bermental sehat bila dia menguasai dirinya sehingga terhindar dari tekanan-tekanan perasaan atau hal-hal yang menyebabkan frustasi.
e)     Faktor Individu
Selain faktor lingkungan, peran pada komponen yang berpengaruh terhadap penyalahgunaan NAPZA, setidaknya untuk beberapa individu. Sederhananya, orang tua pelaku penyalahgunaan NAPZA cenderung menurun kepada anaknya, terlebih pada ibu yang sedang hamil. Faktor-faktor individu lainnya adalah Sikap positif. Sifat mudah terpengaruh, kurangnya pemahaman terhadap agama, pencarian sensasi atau kebutuhan tinggi terhadap “ekcitment”.
Beberapa pengaruh adanya NAPZA terhadap perilaku penyalahgunaan di kalangan remaja adalah sebagai berikut:

a)    Ingin menikmati yang cepat (praktis)
Pada awalnya orang memakai NAPZA kerena mengharapkan kenikmatan misalnya, nikmat bebas dari rasa kesal, kecewa, stres, takut, frustrasi. Takala mulai mencoaba, perasaan nikmat tersebut tidak datang yang datang justru perasaan berdebar, kepala berat, dan mual.

b)    Ketidaktahuan
Pemakai NAPZA yang berakibat buruk terjadi karena kebodohan  pemakainya sediri, dasar dari seluruh alasan penyebab peyalahgunaan NAPZA adalah ketidaktahuan. Ketidaktahuan tersebut menyangkut banyak hal, misalnya tidak tahu apa itu NAPZA atau tidak mengenali NAPZA, tidak tahu bentuknya, tidak tahu akibatnya terhadap fisik, mental, moral, masa depan, dan terhadap kehidupan akhirat, tidak paham akibatnya terhadap diri sendiri, keluarga masyarakat, dan bangsa.

c)    Alasan internal
Alasan ingin tahu, ingin di anggap hebat, rasa setia kawan, rasa kecewa, frustrasi, dan kesal dapat terjadi karena kekeliruan dalam komunikasi. Misalnya, komunikasi anak dengan orang tua, komunikasi antara anak dan sebagainya.

d)    Alasan keluarga
Konflik dalam keluarga dapat mendorong anggota keluarga merasa frustrasi, sehingga terjebak memilih NAPZA sebagai solusi. Biasanya yang paling rentan terhadap stres adalah anak, kemudian suami, istri sebagai benteng akhir.

e)    Alasan orang lain
Banyak pengguna NAPZA yang awalnya dimulai kerena pengaruh dari orang lain. Bentuk pengaruh orang lain itu dapat bervariasi mulai dari bujuk rayu, tipu daya, dan sampai paksaan.

f)     Jaringan peredaran luas sehingga NAPZA mudah didapat
Penyebab lain banyaknya orang yang mengkonsumsi NAPZA adalah karena NAPZA mudah didapat. Jaringan pengedar NAPZA di Indonesia dengan cepat meluas, bukan hanya di kota besar tetapi di kota madya bahkan desa-desa. Meluasnya jaringan NAPZA didorong oleh rendahnya kualitas intelektualitas dan moralitas masyarakat dan buruknya kondisi sosial ekonomi. Dengan peredaran yang demikian luas, NAPZA mudah didapat dimana-mana. Oleh karena itu, perang melawan penyalahgunaan di Indonesia akan berat sebelah.

c.     Bahaya Penyalahgunaan NAPZA

Pada umumnya zat adiktif menimbulkan khayalan, selain itu juga dapat menimbulkan rangsangan pada pemakai. Termasuk dalam kelompok zat adiktif ini adalah: miras (alkohol). Alkohol dapat menimbulkan adiksi yaitu ketagihan atau ketergantungan. Karena sifat adiktif dari alkohol ini, maka orang yang meminumnya lama kelamaan tanpa disadari akan menambah takaran dosis sampai pada dosis keracunan (intoksikasi) atau mabuk. Efek pemakaian alkohol dalam jangka panjang dapat mengakibatkan gangguan pada organ otak, liver (hati), alat pencemaan, pankreas, otot, metabolisme, dan resiko kanker. Bagi mereka yang sudah mengalami ketergantungan, bila pemakaian dihentikan akan menimbulkan kondisi gejala putus obat yang ditandai dengan gejala: rasa ketagihan. kelelahan. kelelihan menyeluruh, tidur berkepanjangan (12-24 jam), rasa sedih. murung, timbul pikiran lentang kematian (ide bunuh din), dan sering mencelakakan diri.

1.    Dampak Penyalahgunaan NAPZA terhadap Fisik dan Fsikis Pemakai

a.    Dampak Fisik
1)    Gangguan pada sistem saraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi.
2)    Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah.
3)    Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim.
4)    Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru.
5)    Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur.
6)    Gangguan pada endokrin,seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron,testosteron), serta gangguan fungsi seksual.
7)     Perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid).
8)    Bagi pengguna NAPZA melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit shepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya.
9)    konsumsi NAPZA melebihi kemampuan (over dosis dan menyebabkan kematian).
b.    Dampak Psikis
1)    Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah
2)    Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga
3)     Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku brutal
4)    Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan
5)    Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri.


c.    Dampak Sosial
1)    Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan
2)    Merepotkan dan menjadi beban keluarga
3)    Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram

d.     Upaya Menghindari Penyalahgunaan NAFZA
Harapan dan keyakinan tentang NAPZA sangat dipengaruhi oleh pengetahuan individu tentang masalah NAPZA. Individu yang lebih banyak mengetahui efek negatif, maka ia cenderung memiliki harapan dan keyakinan negatif. Sebaliknya, individu yang lebih banyak mendapatkan pengetahuan tentang pengaruh positif NAPZA, maka ia cenderung memiliki harapan dan keyakinan yang positif. Individu yang memiliki harapan dan keyakinan positif terhadap efek NAPZA maka kecenderungan untuk menggunakan NAPZA menjadi lebih besar. Sebaliknya, individu yang memiliki harapan dan keyakinan negatif terhadap efek NAPZA maka kecenderungan untuk menggunakan NAPZA menjadi lebih kecil.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas maka dapat dinyatakan bahwa upaya untuk dapat menghindari penyalahgunaan NAPZA dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu:
1.    Meningkatkan pengetahuan tentang NAPZA
Pengetahuan tentang NAPZA berkaitan dengan jenis dan bahayanya akan dapat membekali individu agar tidak mudah terjebak untuk ikut-ikutan menggunakan NAPZA segera ilegal. Pemahaman mengenai bahaya yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan NAPZA dapat menjadi penguat keyakinan untuk menolak penyalahgunaan NAPZA. Selain pengetahuan tentang jenis dan bahaya serta bagaimana cara penyebaran NAPZA, perlu juga diketahui bagaimana ciri-ciri para penyalahguna NAPZA. Hal ini akan dapat menjadikan referensi bagi individu supaya selektif dalam memilih ternan. Berikut ini akan diuraikan beberapa gejala yang akan diklasifikasikan menjadi empat aspek, yaitu:
a.    Aspek kondisi fisik
1)    sering mengeluh pusing
2)    sering baluk dan pilek yang berkepanjangan
3)    matanya cenderung merah, sayu dan tatapannya kosong
4)    berjalan sempoyongan
5)    malas berolahraga
b.    Aspek kondisi psikis
1)    menunjukkan sikap membangkang
2)    mudah tersinggung sehingga sering marah secara meledak-ledak
3)    menuntut kebebasan yang lebih besar
4)    tidak dapat menunda keinginan
5)    suka mengambil resiko tinggi, misalnya: melayani tantangan balapan, berkelahi.
6)    emosinya sangat labil
7)    sikapnya manipulatif, misalnya: tampak manis bila ada maunya
c.    Aspek hubungan sosial
1)    semakin jarang ikut kegiatan keluarga
2)    mulai melupakan tanggungjawab rutin di rumah
3)    merongrong keluarga untuk minta uang dengan bcrbagai alasan
4)    bercerita pada keluarga yang mau mendengarkan keluhannya
5)     jarang mau makan bersama keluarga
6)    sering menginap di rumah ternan dengan berbagai alasan
7)    menolak orangtua atau saudara masuk ke kamarnya
8)    omongannya basa-basi dan semakin menghindari pembicaraan panjang
9)    omongannya sering tidak dapat dipercaya (doyan bohong)
10) sering ingkar janji dengan berbagai alasan
11) suka membolos sekolah, kuliah atau kerja


d.    Aspek perubahan perilaku
1)    sering pulang larut malam
2)    sering pergi ke diskotik
3)    selalu mengeluh kehabisan uang (bokek)
4)    sering mencuri uang dan barang di rumah
5)    suka merokok berlebihan
6)    sering berlama-Iama di kamar mandi
7)    suka mengunci diri di kamar
8)    sering makan permen karet atau mentol unruk menghilangkan bau mulut
9)    senang memakai kaca mata gelap dan membawa obat tetes mata
10) sering membunyikan musik keras-keras tanpa mempedulikan orang lain
Bila indikasi-indikasi tersebut terdapat pada individu (kira-kira 10% atau lebih) dari daftar tersebut maka patut dicurigai dan selanjutnya perlu dilakukan pengamatan lebih teliti. Apabila ditemukan hal tersebut maka perlu dilakukan pendekatan secara psikologis persuasif. Hal ini lebih bijaksana daripada langsung memusuhinya.

2.    Mengupayakan kualitas pribadi yang tangguh
Tidak jarang individu yang telah merniliki pengetahuan tentang rnasalah NAPZA tetapi tidak didukung dengan kepribadian yang kuat justru timbul rasa ingin tahu dan ingin mencoba NAPZA. Dengan demikian dalam program pendidikan berkaitan dengan masalah NAPZA (Drug Education) selain diberikan pengetahuan tentang NAPZA juga harus didukung dengan program pengembangan kepribadian. Individu yang memiliki kualitas pribadi yang tangguh adalah individu yang menyadari tentang potensi yang mereka miliki, mengerti kekuatan dan kelemahan diri. Mereka mampu mengembangkan potensi dan kekuatan yang dimilikinya untuk dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungannya. Mereka juga terus belajar untuk dapat mengurangi kelemahannya. Dengan upaya-upaya tersebut mereka menjadi pribadi yang percaya diri, ulet, tahan, tidak mudah kecewa dan putus asa, suka menolong, memiliki orientasi sosial yang positif, merasa kuat untuk menolak bujukan negatif, termasuk bujukan untuk menyalahgunakan NAPZA.
Kualitas pribadi yang tangguh diwujudkan dengan kekuatan personal, yaitu kekuatan yang ada dalam diri individu, merasa diri mampu, berdaya dan berguna mengembangkan potensi yang dimiliki. Selain itu juga diwujudkan dalam kekuatan interpersonal, yaitu kekuatan dalam menjalin hubungan dengan orang lain, merasa mampu terlibat dalam pergaulan sosial, memiliki kecakapan dan keterampilan dalam menjalin relasi sosial dengan lingkungannya.
1)    Dalam Materi tersebut kami Rangkum dan Bahan Ajar kami salin ke dalam power point yang telah kami buat, mencakup materi yang akan kami sosialisasikan. Persiapan kami tidak hanya pada matari saja tetapi kami menggunakan proyektor dan laptop sebagai penunjang dalam menyampaikan materi sosialisasi menggunakan power point.
2)    Pelaksanaan dalam tata atau pengelolaan dalam kelas kelompok kami mentata duduk peserta didik dengan menggeser bangku kebelakang dan peserta didik duduk di lantai agar semua peserta didik kelas V A dan B dapat duduk secara tertib tanpa ada keributan serta cukupnya ruangan yang kami tempati.
3)    Dalam pelaksaan sosialisasipun kami telah membagi materi untuk kami semua sosialisasikan dan mendapatkan demonstrasi atau memperlihatkan media atau alat ang kami bawa sesuai materi yang telah kami dapatkan yaitu Zat Adiktif sesuai persiapan Awal setiap orang akan menjelaskan dan memperlihatkan contoh ilustrasi Zat Adiktif dan Psikotropika, agare peserta didik mengetahui bentuk dari zat-zat berbahaya tersebut. Tak lupa dalam pelaksaan ini kami mengimplementasikan persipan awal yaitu ice breaking di setaip waktu yang telah kami tentukan serta permainan yang di pimpin oleh satu orang

C.    Hasil Sosialisasi Zat Adiktif
Hasil sosialisasi zat adiktif pada sekolah dasar Negeri Pajajaran yang telah kami sosialisasikan ternyata mendapatkan hasil yang memuaskan, dan program kami berhasil dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan tujuan utama kami dalam bersosialisasi yaitu dapat menyampaikan materi tentang zat Adiktif beserta alat dan media yang kami bawa guna untuk menyempurnakan pemahaman peserta didik tentang zat adiktif agar dapt membedakan zat tersebut dan tahu bentuk dari zat adiktif tersebut guna diingat dan berguna Ilmunya menjauhi Zat berbahayanya dan tidak mendekati obat-obat terlarang serta mereka tidak dapat tertipu oleh orang yang tidak dikenal memberikan zat adiktif tersebut mereka memiliki ilmu dasar yang akan mereka ingat setelah sosialisasi tentang zat adiktif ini. Kami di laksanakan kegiatannya dengan sempurna tanpa hambatan di setiap kegiatan. Ada beberapa hasil yang kami dapatkan selama kegiatan sosialisasi kami di SDN Pajajaran :

1.     Peserta didik lebih bersemangat dalam melaksanakan kegiatan sosialisasi ini terlebih mereka antusias dengan materi yang akan kami sampaikan. Beberapa anakpun ikut meramaikan kegiatan dengan mendengar serta memperhatikan materi denga seksama.

2.     Stimulus respon yang di dapat oleh kelompok kami dalam sosialisasi sangat memuaskan, ada beberapa anak ikut serta dalam menjawab pertanyaan dan rasa ingin tahu yang banyak ketika kami menyampaikan materi dalam sosialisasi tersebut. Beberapa anak justru mengetahui Zat Adiktif Walau tidak semua tahu namun anak tersebut setidaknya mengetahui beberapa jenis Zat Adiktif.

3.     Pengetahuan tentang Zat Adiktif banyak di ketahui oleh peserta didik ketika kami melakukan sosialisasi, dan ketika kami putar video tentang dampak Zat Adiktif Bagi kesehatan kita mereka memperhatikan dan merasakan bahwa Zt Adiktif benar-benar berbahaya ketika mereka tahu lebih jelas lagi dalam Video yang mereka tonton bersama.

4.     Sosialisasi peserta didik terhadap materi yang kami sampaikan sangat memuaskan dan dapat mengembangkan kalimat larangan mengkonsumsi Zat Adiktif, serta peserta didik mampu menyebutkan beberapa dampak serta menyebutkan contohnya dalam kehidupan sehari contohnya dalam Rokok tanpa di beritahu lebih jelas mereka tahu bahwa pada bungkus rokok terdapat peringatan serta dampak menghisap rokok, tak lupa mereka bisa berpikir kritis dalam menanggapi Zat Adiktif ini walau kritis masih pada dasarnya Anak Kelas V A & B.

BAB III
PENUTUP
  1. KESIMPULAN
Dari pemaparan kami diatas maka dapat kami simpulkan bahwa Zat Adiktif merupakan Zat Aktif yang bila dikonsumsi secara terus-menerus akan menimbulkan ketergantungan karena dalam kandungan zat adiktif ada zat aktif yang bisa menimbulkan beberapa ganguan dalam organ tubuh seperti penyakit Gangguan pada sistem saraf (neurologis), jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), kulit (dermatologis), paru-paru (pulmoner), sering sakit kepala, mual-mual, muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur, endokrin, Perubahan periode menstruasi, ketidak teraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid), HIV Aids dan Over Dosis

  1. SARAN
Kami selaku penulis menyadari bahwa laporan yang kami susun ini sangat jauh dari kata sempurna maka dari itu kami mengucapkan permohonan maaf atas kekurangan laporan yang kami susun. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran bagi pembaca untuk membantu kami menyempurnakan laporan kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar